Life
Kitalah yang memilih hidup kita. Menjadi berwarna atau tidak. Datar saja, atau penuh dinamika.
Kita yang merancangnya. Hari ini. Karena besok, sudah cerita yang berbeda. Kita mengasah diri dari kecil di sekolah.
Hingga penentuan di fakultas. Spesialisasi. Berbekal ilmu dan keterampilan, kita menentukan hidup. Menjaring waktu. Membiayai hidup, dengan cara apa. Bekerja untuk orang lain, digaji. Atau menentukan jumlah rupiah setiap bulan. Sendiri.
Kita diberi dua. Akal dan hati. Ada yang berfikir dengan kepala. Ada pula yang berpikir dengan hati.
Kita adalah penentu, menjadi baik atau tidak. Hidup untuk makan. Atau hidup memberi manfaat bagi orang terdekat.
Kita bebas memilih. Sebebas kita menghirup napas yang tidak dibeli. Shalat, adalah kesempurnaan jiwa dan raga.
Saat takbir, akal di posisi tertinggi. Di kepala. Saat rukuk, dia sejajar hati. Sederajat dengan, (maaf) tempat pembuangan kotoran.
Saat sujud, kepala lebih rendah dari hati. Sederajat dengan kaki. Adakah yang disombongkan lagi?.
Saat bersedekap, tangan dilipat di ulu hati, sesungguhnya, kita tak punya daya upaya. Kecuali kemurahan Allah saja. Lahaulawalaquwwataillabillah...
Dua puluh empat jam sehari, apakah kita tidak menyertakanNya, hingga merasa hidup tiada berarti.
Kita bisa saja menerapkan Syariat dalam hukum. Tapi yang pertama disyariatkan, adalah akal di kepala
Kita adalah penentu tujuan di akhirat nanti. Syurga atau neraka. Sungguh, Syurga tidak didapat dengan menghayal. Hanya untuk orang pilihan yang mewakafkan dirinya pada Allah.
Terlalu mudah dan gampang kita berkhayal soal hidup setelah mati. Kalaulah kita tidak percaya, ada hidup setelah mati. Kita tentu sama dengan kafir. Dunia adalah Syurga. Lakukan apa saja, sepantas kemampuan akal...
Kita sudah percaya, ada hidup setelah mati. Untuk itulah kita menjaga diri. Berharap Allah suka. Allah Ridha.
Selamat malam Jum'at
Keren..bravo brother