Bahasa Kematian

in #writing8 years ago

IMG_20180401_132503.jpg

Kematian ternyata memiliki bahasanya sendiri. Memberi sinyal atau tanda. Meski terkadang kita gagap membacanya...

...

IMG_20180401_132530.jpg

Wiwin menemuiku setelah shalat magrib. Kami bertetangga. Saya hapal betul gayanya. Tapi kali ini sedikit beda. Wiwin menyampaikan maksudnya. Saya menyetujuinya. Sebelum beranjak, Wiwin seperti hendak menyampaikan sesuatu. Bahasa tubuhnya menyatakan itu. Tapi tidak ada bahasa yang keluar dari ujung bibirnya. Ada gerak tubuh tak biasa yang seharusnya diikuti bahasa. Tapi tidak. Wiwinpun pergi. ..

...

IMG_20180401_140208.jpg

Muhammad Yakub adalah ayah Wiwin. Pensiunan tentara. Wiwin sendiri sudah duda sejak tujuh tahun lebih. Anaknya, Zakiyah, kelas tiga sd, Ikut bersama Wiwin.
Muhammad Yakub, beberapa hari sebelum hari Selasa, tanggal 27 Maret 2018, bermimpi.

Dalam mimpinya, Muhammad Yakub melihat istrinya, Inen Wiwin, menggelar tikar diruang tamunya. Muhammad Yakub bertanya pada istrinya, "kenapa kamu menggelar tikar", tanya Muhammad Yakub, yang biasa disapa Aman Wiwin.

"Saya hendak wiridan", kata Inen Wiwin. Mimpi itu, dianggap Aman Wiwin bunga tidur. Tak ada yang luar biasa setelah mimpi itu.

IMG_20180401_132842.jpg

Sementara, Inen Wiwin, salah satu kelopak matanya, acap kali bergetar tanpa perintahnya. Biasanya, kata Inen Wiwin, jika salah satu kelopak ini bergetar, selalu ada berita sedih atau duka. Inen Wiwin menyimpan tanya dari bergetarnya (mugerik-Gayo) kelopaknya itu.
.....
Pasa, adalah keponakan Wiwin. Anak adik perempuannya. Kelas 5 Madrasah Ibtidaiyah. Kepada Pasa, dalam satu kesempatan, diminta Wiwin menjadi Imam. "Agar kita bisa bertemu di Syurga", kata Wiwin. Pasa mendengarnya biasa saja, ucapan Pun nya (Paman) itu.
...

IMG_20180401_132902.jpg

Selasa, 27 Maret 2017. Wiwin Kurniawan,Aman Zakiyah, 31 tahun. Berangkat dari Payaserngi Takengon, ke Kem Lut, Pamar (Pameu). Menggunakan kenderaan rida dua, Yamaha.

Wiwin berangkat selepas Zuhur. Sudah beberapa bulan Wiwin tidak ke kebunnya yang berjarak sekitar 70 kilometer itu. Sampai di Angkup, Silih Nara. Wiwin membeli penganan, pisang goreng.

Saat membeli pisang goreng, Wiwin bertemu istri sepupunya yang akan menghadiri undangan perkawinan.

Setelah itu, Wiwinpun berangkat. Menyusuri dua pertiga sisa perjalanannya menuju Kem Lut. Hari sudah mulai rebah ke Barat.

IMG_20180401_132900.jpg

Melewati jembatan Genting Gerbang, Silih Nara, jalanan menuju Pamar mulai menanjak dan sebuah tikungan tajam yang patah.

Di tikungan itulah, dua kenderaan roda dua bertabrakan. Kenderaan Wiwin dan kenderaan lain dari arah berlawanan.

Helem Wiwin terlepas. Kepalanya terbentur aspal. Diatas mata kanannya robek. Wiwin masih sadar. Suasana panik. Kenderaan terhenti dan melihat, siapa yang kecelakaan?.

Istri sepupu Wiwin yang pulang kondangan pernikahan, juga berhenti. Kaget bukan kepalang karena ternyata yang tabrak adalah sepupu suaminya.

Saat hendak membawa Wiwin ke rumah sakit, kebetulan mobil ambulan yang baru mengatar jenazah ke daerah tersebut lewat. Kemudian membawa Wiwin ke rsu.

Wiwin sempat menolak dan berucap pada istri sepupunya, "ngak usah bawa ke rumah sakit. Bawa saja saya ke rumahmu..", kata Wiwin.

IMG_20180401_131353.jpg

Karena lukanya yang parah, Wiwin dilarikan ke rumah sakit. Sekitar 30 kilometer dari tkp.
Tiba di rsu, Wiwin masih sadar. Berita tabraknya Wiwin cepat menyebar dan warga kampung pun berlarian menuju rsu.

Saat tiba di rsu, waktu menunjuk angka 17.00 WIB. Wiwin ditangani dengan cepat. Hasil rontgen menunjukkan kepala Wiwin retak. Lewat pukul 20.00 WIB, Wiwin koma dan. Pukul 02.00 dinihari Rabu, 28 Maret 2018 dirujuk Banda Aceh. RSU Zainal Abidin.

Sehari di Banda Aceh, Wiwin dioperasi guna menghilangkan darah di otaknya. Wiwin masih belum sadar.

IMG_20180401_140340.jpg

Sabtu, pukul 23.45, Wiwin menghembuskan napas terakhirnya. Aman Hawari, sepupu Wiwin yang melepas kepergian Wiwin dengan ucapan Syahadat, Lailahhaillallah..

"Dia seperti tersenyum", kata Aman Hawari yang salah seorang anaknya, Hawari, hafiz Al-Quran. Dan seorang anak lainnya, Syarif sedang belajar menjadi Hafizh di Seulimum, Aceh Besar.

.....
Jenazah, Wiwin tiba di Takengon, Minggu, 1 April 2018, Pukul 07.00 WIB. Muhammad Yakub, ayah Wiwin, Ibunya, ponakannya Pasa dan anaknya, Zakiyah, menangis di kepala Wiwin.

...

Wiwin Kurniawan, ayah satu anak yang bernama Zakiyah. Saat lajang, Wiwin membuka kebun di Kem Lut, Pameu. Kemudian menikah dengan seorang warga Rusip yang berkebun di Kem Lut.

IMG_20180401_132616.jpg

Lahirlah Zakiyah. Ternyata jodoh Wiwin berakhir. Wiwin bercerai resmi di Pengadilan Agama. Zakiyah ikut bersama Wiwin. Sejak cerai, Wiwin lebih sering di Takengon. Tinggal serumah dengan ayahnya. Sesekali ke kebun. Di Takengon, Wiwin bekerja sebagai petani dan bangunan. Wiwin kerap azan dan menjadi Imam di Mersah kecil (langgar), kami. Mersah ini kami beri nama "Mersah Syafaat".

Sebelum wafat, Wiwin sudah memberi tanda kepada banyak orang. Di tempat kerja bangunannya Wiwin meminta maaf kalau memiliki salah dan menyatakan waktu baginya sudah dekat.

Begitupun kepada pamannya. "Cas dulu paman. Saya minta maaf kalau salah. Sepertinya saya akan meninggal di Pamar", kata Wiwin sambil bercanda. Tapi omongan tersebut dianggap sang paman bercanda.

Kepada Aman Pasa, adik ipar Wiwin, Wiwin pernah berkata, "Tolong jaga Zakiyah sebaik-baiknya. Karena saya hidup ngak lama lagi", kata Wiwin.

Aman Pasa hanya berucap, "abang bicara apa sih. Yang ngak - ngak aja", kata Aman Pasa Gundah.

IMG_20180401_133203.jpg

Ternyata, kematian memiliki tanda. Hanya saja tafsirnya sering kita tak bisa terjemahkan. Dan waktunya, yang kita tak pernah tahu, kapan akan tiba. Bersiap, adalah tindakan paling sempurna

"Death Keep No Calender".

Kematian bukan nomor urut. Tapi nomor cabut.
Siapkah kita....?

IMG_20180401_132405.jpg

Coin Marketplace

STEEM 0.04
TRX 0.32
JST 0.082
BTC 60573.65
ETH 1550.46
USDT 1.00
SBD 0.47