Between Human Rights and Pain
Antara Hak Asasi dan Pengidap Sakit Jiwa
Persons with disabilities who threaten the safety of others especially women should receive the attention of the government. The government is responsible for people's lives by ensuring that the education, health and basic human needs are met. Disabilitas referred to is tuna barrel, the number of days is increasing. They go back and forth on the highway and even into the village residents. No identification and can not be invited to communicate make some people difficult to repatriate them to the village of origin or contact the family. There should be anticipation from the relevant departments in this case the social service and the health department to handle the social problems in question.
Para penyandang disabilitas yang mengancam keselamatan orang lain khususnya kaum perempuan seharusnya mendapat perhatian dari pemerintah. Pemerintah bertanggung jawab terhadap kehidupan rakyat dengan menjamin terpenuhi kebutuhan pendidikan, kesehatan, sandang, pangan dan papan. Disabilitas dimaksud merupakan tuna laras, jumlahnya semakin hari semakin meningkat. Mereka silih berganti hilir mudik di jalan raya bahkan sekali-kali masuk ke perkampungan penduduk. Tidak ada tanda pengenal dan tidak bisa diajak berkomunikasi membuat sebagian warga kesulitan untuk memulangkan mereka ke kampung asal ataupun menghubungi pihak keluarga. Seharusnya ada antisipasi dari dinas terkait dalam hal ini dinas sosial dan dinas kesehatan untuk menangani permasalahan sosial dimaksud.
Tuna laras, mentally disabled or mentally ill persons are persons with disabilities who need special handling. Aceh has the largest number of mental illness nationally, the data of 2016 people with mental illness amounted to 22,033 people, it is estimated that this number will continue to increase in the following years. The various backgrounds of the Acehnese are disturbed by their souls from economic difficulties to drug abuse. Economic factors attack adults while drugs attack the youth. Moreover Aceh is a country that experienced the longest armed conflict between the Acehnese People and the Government of Indonesia, thousands of people died from the war, the impact of the conflict makes the psychology of the Acehnese people vulnerable. In addition, the tsunami also caused psychological trauma and became the cause of some people disturbed soul.
Tuna laras, cacat mental ataupun orang sakit jiwa merupakan penyandang disabilitas yang butuh penanganan khusus. Aceh memiliki orang sakit jiwa terbanyak secara nasional, data tahun 2016 penderita sakit jiwa berjumlah 22.033 jiwa, diperkirakan jumlah ini terus bertambah di tahun-tahun berikutnya. Berbagai latar belakang penyebab orang Aceh terganggu jiwanya dimulai dari kesulitan ekonomi hingga penyalahgunaan narkoba. Faktor ekonomi menyerang orang-orang dewasa sementara narkoba menyerang anak-anak muda. Terlebih lagi Aceh merupakan negeri yang mengalami konflik persenjataan paling panjang antara Rakyat Aceh dengan Pemerintah Indonesia, ribuan rakyat mati akibat perang, dampak dari konflik tersebut membuat psikologi rakyat Aceh rentan. Disamping itu, Tsunami juga menyebabkan trauma psikologis dan menjadi penyebab sebagian orang terganggu jiwanya.
Economic factors became the largest contributor of Acehnese to go mad. Aceh's morose economy coupled with unavailable employment causes most Acehnese to find it difficult to meet their needs. Access to finances that can not be reached by the people make the psychological burden increasingly day. The people of Aceh are very tired to live this life in the order of living nation and state. Economic conditions in the village are more apprehensive, people barely have the purchasing power of basic needs. Prices are increasingly increasing day while income is increasingly difficult to make people one by one disturbed nerves and have an impact on the psyche. Economics became the main problem in the psychological phenomenon of some people of Aceh who had been unstable due to psychological burden during the war and tsunami.
Faktor ekonomi menjadi penyumbang terbanyak orang Aceh menjadi gila. Ekonomi Aceh yang morat-marit disertai dengan lapangan kerja yang tidak tersedia menyebabkan sebagian besar rakyat Aceh kesulitan memenuhi kebutuhan hidup. Akses terhadap keuangan yang tidak bisa digapai oleh rakyat membuat beban psikologi semakin hari semakin meningkat. Rakyat Aceh sangat lelah menjalani kehidupan ini dalam tatanan berkehidupan berbangsa dan bernegara. Kondisi perekonomian di desa lebih memprihatinkan lagi, rakyat hampir tidak memiliki daya beli terhadap kebutuhan pokok. Harga-harga semakin hari semakin meningkat sementara penghasilan semakin sulit membuat rakyat satu persatu terganggu saraf serta berdampak pada kejiwaan. Ekonomi menjadi pokok masalah pada fenomena kejiwaan sebagian rakyat Aceh yang memang sudah labil akibat beban psikologi selama perang dan tsunami.
As a result of the absence of employment which is the way to obtain economic sufficiency, some Acehnese youth are traveling abroad, especially Malaysia. The dream of a prosperous living with ringgit currency makes the reckless youths into illegal labor in the country of people. Most were arrested by the Malaysian immigration authorities and imprisoned them. Poor handling while in detention cells has disrupted their psyche, having been deported to their hometowns of madness. Some of them become drug mafia to become addicts while abroad, after the crazy there by the organization of the community of Aceh people who have gone crazy sent to their hometown. The economic burden makes the youths try their luck in the country of people but the opposite happens. Only a small part of the dreams and dreams are achieved.
Akibat dari ketiadaan lapangan kerja yang merupakan jalan untuk memperoleh kecukupan ekonomi membuat sebagian pemuda Aceh merantau ke luar negeri, khususnya Malaysia. Mimpi hidup makmur dengan mata uang ringgit membuat para pemuda nekat menjadi tenaga kerja ilegal di negeri orang. Sebagian besar ditangkap oleh pihak imigrasi Malaysia dan memenjarakan mereka. Buruknya penanganan selama dalam sel tahanan menjadikan jiwa mereka terganggu, setelah dideportasi hingga sampai ke kampung halaman mereka menjadi gila. Sebagian lagi menjadi mafia narkoba hingga menjadi pecandu selama di luar negeri, setelah gila di sana oleh organisasi paguyuban warga Aceh mereka yang sudah gila di kirimkan ke kampung halaman. Beban ekonomi menjadikan para pemuda mencoba keberuntungan di negeri orang namun yang terjadi sebaliknya. Hanya sebagian kecil yang tercapai cita dan impian.
People who are disturbed in their lives have a negative impact on the environment and other citizens. It is unpredictable what a person with his unstable soul will do. It could happen at any time rampage and injure others. Some events have occurred, even some of them often carry sharp objects until the target of raging death. Crazy rampage cases have already been published in local newspapers and online media, and the case is almost unprecedented throughout Aceh. During this time crazy people are left on the highway by the family, in the fear of events that will not occur.
Orang-orang yang terganggu jiwanya berdampak negatif terhadap lingkungan dan warga lainnya. Tidak bisa diprediksi apa yang akan dilakukan oleh orang dengan jiwanya yang tidak stabil. Bisa saja sewaktu-waktu mengamuk dan melukai orang lain. Beberapa peristiwa sudah terjadi, bahkan sebagian mereka sering membawa benda tajam hingga sasaran amukan menemui ajal. Kasus-kasus amukan orang gila sudah pernah dimuat di surat kabar lokal maupun media online, dan kasusnya hampir pernah terjadi di seluruh Aceh. Selama ini orang gila dibiarkan berkeliaran di jalan raya oleh pihak keluarga, di khawatirkan peristiwa-peristiwa yang tidak diingini akan terjadi.
After all they are humans especially disabled people. They also have human rights that must be protected and respected by all parties. The Government passed a special law against persons with disabilities namely Law No. 4 of 1997. In article 8 it is clear that "the Government and / or the community are obliged to strive for the realization of the rights of people with disabilities." The rights of physically and mentally disabled persons include education, opportunity, access to development and rehabilitation and healing outcomes. The government is expected to discipline the tuna laras so as not to negatively impact from wandering along the way. Given that people have often been attacked by crazy people even recently people suspected of suffering from mental illness attacked the religious leaders.
Bagaimanapun juga mereka adalah manusia terlebih penyandang disabilitas. Mereka juga mempunyai hak asasi yang wajib dilindungi dan dihormati oleh semua pihak. Pemerintah mengeluarkan undang-undang khusus terhadap penyandang disabilitas yaitu UU nomor 4 tahun 1997. Di pasal 8 jelas disebutkan "Pemerintah dan/atau masyarakat berkewajiban mengupayakan demi terwujudnya hak-hak penyandang cacat." Hak-hak penyandang cacat baik fisik maupun mental meliputi pendidikan, kesempatan, akses terhadap hasil pembangunan maupun rehabilitasi dan penyembuhan. Pemerintah diharapkan menertibkan para tuna laras supaya tidak berdampak negatif dari berkeliarannya di sepanjang jalan. Mengingat sudah sering terjadi warga diserang oleh orang gila bahkan baru-baru ini orang yang dicurigai mengidap sakit jiwa menyerang para tokoh agama.
nyan akibat hana peng maka jih stress acie menyoe na peng...pasti puleh ureng stress....tiban inan beutoi puhana....?