Its more than words...
...
Saying I love you
Is not the words I want to hear from you
It's not that I want you
Not to say, but if you only knew
How easy it would be to show me how you feel
More than words is all you have to do to make it real
Then you wouldn't have to say that you love me
'Cause I'd already know
What would you do if my heart was torn in two
More than words to show you feel
That your love for me is real
What would you say if I took those words away
Then you couldn't make things new
Just by saying I love you
More than words
Now that I've tried to talk to you and make you understand
All you have to do is close your eyes
And just reach out your hands and touch me
Hold me close don't ever let me go
More than words is all I ever needed you to show
Then you wouldn't have to say that you love me
'Cause I'd already know
What would you do if my heart was torn in two
More than words to show you feel
That your love for me is real
What would you say if I took those words away
Then you couldn't make things new
Just by saying I love you
More than words
..... (1)
Aku yakin, jika itu dinyanyikan berulang-berulang, langsung oleh mereka -- Nuno Bettencourt dan Gary Cherone, pastilah mereka akan mengamuk. Ini sudah putaran ke 15 lagu yang sama. Lilin menetes di atas kue coklat. Tapi kau tak hadir juga. Apakah kau memang mencintaiku?
Fajar telah berubah menjadi pagi. Rambatan cahaya mentari, perlahan membasuh diriku yang bersembunyi dibawah langit malam. Deruan ombak dan percikan air laut tak akan mampu mengusirku dari rasa nyaman ini. Aku menikmati malam-malam sepi di garis pantai sampai matahari mulai enggan dan membakarku, menyuruhku pulang.
Dua tahun ditempat yang sama. Aku masih berharap kau datang, menepuk pipiku, mencoba memastikan keadaanku. Dari sentuhan tanganmu, saat itu, aku yakin, kaulah putri duyung yang selama ini mengintip kekosongan hatiku.
Aku masih merasakan hangatnya. Kau menguncang tubuhku, meraba denyut kehidupanku, kau merasa panik. Ya, aku menikmati setiap garis kecemasan yang muncul diwajahmu. Menjalar, menyapu hati beku, seperti sebuah dongeng Frozen. Ya kau mampu merubahnya menjadi keindahan.
Dua tahun di tempat yang sama. Kau tidak ada.
More than words, ini lebih dari sebuah kata. Aku ingin melakukan segalanya. Dan aku berharap, kau tidak hanya mengucapkan. Seperti hari-hari lalu...
Apakah kau menyimpan sesuatu?
"Mengapa kamu buka dompetku?", Wajahmu panik. Ada kekhawatiran terbukanya sebuah rahasia. Aku tersenyum dan menjawab, "Sapu tanganmu terjatuh," ada wajah lega. Kau tersenyum. Aku tersenyum menikmati sisa senja tanpa pertannyaan.
Aku menggores pasir yang terus disapu oleh alunan ombak. Kutuliskan namamu, berulang dan berulang. Namun laut sepertinya tidak siap, melihat pasirnya terluka. Pasir adalah kekasihnya, ia membasuhnya berulang-ulang hingga menjadi landai. Seolah tak pernah ada guratan...
Kau menangis. Aku tak tahu kenapa. Aku hanya mengusap rambutmu, memeluk bahumu yang terlihat ringkih. Membiarkan air matamu terus membasahi bajuku. Mengecup keningmu dalam diam. Aku ingin bertanya, tapi jawabanmu akan selalu sama, "Aku mencintaimu dengan caraku...".
"Siapa yang membuatmu menangis? Sebutkan sebuah nama...," bibirku bergetar menahan amarah. Hatiku tersakiti ketika kau, ya ketika kau menangis pertamakali di hadapanku.
Daripada menyebut sebuah nama, kau memilih tersenyum. Mengusap linangan air mata, menangkupkan telapak tangan di pipiku, menatapku dalam dan berkata, "Aku mencintaimu dengan caraku. Dan aku bahagia, kau mencintaiku juga. Itu sudah lebih dari cukup...," ucapmu dengan suara berbisik.
Bisikan yang membuatku sunyi, apakah yang kau sembunyikan? Apakah benar cinta itu untukku?
Ku susuri pantai. Mungkin hari ini, hari pertemuan kita, kau ada di ujung pantai sana.
Sebuah kerang mengguling tergulung mengikuti tarikan ombak. Kau bergerak cepat, memungutnya dan tertawa sambil menunjukkan ke arahku. Rambut hitam mengkilap, tersapu angin barat. Ya, aku yakin kaulah putri duyung yang ditakdirkan untuk menyelam dalam samudera kehidupan...
Kau tersenyum, pura-pura tak mendengar. Memalingkan wajah, menyingkap rambut memperlihatkan daun telinga, memintaku untuk mengulang permintaanku. Ya, lamaranku seminggu lalu...
Aku mengigitnya gemas. Kau tertawa, aku bahagia...
Aku menganggap kau menerimanya...
Tapi apa yang aku tahu tentang dirimu? Apakah benar kau mencintaiku? Dunia yang kau tawarkan penuh misteri dan kegelapan. Aku tak mengenalmu. Tapi aku menginginkanmu. Kau mengenalku, kau menjawab cinta, tapi menyembunyikan dirimu dibalik tirai tebal yang tak boleh tersibak...
Ini bukan sekedar kata. Ini bukan sekedar jawaban, Ya aku mencintaimu...
Malam tiga puluh, di tempat yang sama di pojok restoran yang sama. Kau tetap tak hadir hanya lagu extreme, terus berulang lembut.
Malam tiga satu. Bait kedua baru saja dilantunkan dan pelayan mengantarkan selembar koran tadi pagi. Ia meletakkan tanpa kata, hanya menunjukkan wajah engan.
Wajahmu, fotomu... Kau hilang dimalam pertemuan yang kita rencanakan...
Lilin kumatikan, lagu ku hentikan. Apakah kau benar mencintaiku?
*End @steemauto @steemitbudaya
