The Diary Game, 11 Oktober 2020
Saat ini bagi kebanyakan kita tidak lagi terlalu penting makna filosofi, yang penting praktis dan enak.
Setelah sarapan saya mengajar sampai jam 11.00 siang, saya juga mengecek kelulud, memeriksa kadang ada semut yang mau menumpang di kotak sarangnya, memastikan tidak ada kecoak atau yang lebih parah lagi cicak "puteh". (Memang cicak puteh dimana-mama sangat berbahaya)..
Acara "seunujoh" di Alue Ie Puteh
Setelah mengajar saya bersama ibu berangkat ke Alue Ie Puteh, kami menghadiri acara kenduri tujuh hari kematian ibuk Nursiah, almarhumah adalah masih termasuk famili jauh ibu saya.
Kami tiba di sana jam 11.30 siang, tidak banyak tamu yang datang saat saya tiba di sana, sehingga kami lebih leluasa di sana mengobrol dengan keluarga almarhumah.
Almarhumah meninggal akibat penyakit diabetes yang telah menahun, bahkan ada jari kaki almarhumah sudah di amputasi, tapi Allah menyayangi almarhumah dengan tidak memberikan kesembuhan kepada almarhumah, sehingga almarhumah di panggil kembali ke hadirat Nya dalam keadaan keampunan dosa sebab sakit.
Almarhumah di kenal sangat dermawan, banyak sekali sedekah almarhumah kepada fakir miskin semasa almarhumah masih hidup, sehingga kami semua berbaik sangka bahwa almarhumah adalah ahli surga.
Pulang dari rumah acara saat azan dhuhur, saya langsung shalat Dhuhur, kemudian saya melihat panen buah sawoh kami di halaman rumah ibu.
Rumah kami di kelilingi oleh batang sawoh yang sudah berumur ratusan tahun, batangnya sangat besar-besar. Kalau teman-teman ingin buah sawoh silakan datang ke rumah, insya Allah puncak panen nya sekitar dua bulan lagi. Mau bawa goni juga boleh. He he he
Jam 4.00 saya kedatangan tamu dari Abeuk Geulantee, tengku Aswadi memang sering datang bersilaturrahmi ke rumah kami, kali ini beliau datang untuk melihat batang santos yang telah saya sungkup dalam polybag.
Tengku Aswadi juga peternak kelulud seperti saya. Malah beliau lebih pengalaman dibanding saya. Saya banyak belejar dari beliau.
Kami tinggal di kawasan hutan yang tak terurus, bukan hutan lindung, tapi terlindungi karena malasnya kami membersihkan kebun, sehingga banyak sekali monyet dan tupai.
Kami biasa mengusir monyet -monyet ini dan tupai dengan senapan angin, saya dulu termasuk penembak dengan akurasi mencapai 90 %.
Saat ini saya jarang sekali memegang senapan, sehingga sesekali perlu mengasah kemampuan yang terpendam sehingga tidak sampai terbenam.
Malamnya saya hanya mengajar anak santri saja sampai jam 9.30, selanjutnya beristirahat.
Postingan ini telah dihargai oleh akun kurasi @steemcurator08 dengan dukungan dari Proyek Kurasi Komunitas Steem.
Selalu ikuti @steemitblog untuk mendapatkan info terbaru.
SELAMAT
Postingan anda telah mendapat kurasi secara manual dari akun komunitas @steemseacurator.
Terimakasih telah berpartisipasi dalam komunitas Steem SEA
Kami akan sangat berterimakasih jika anda bersedia mendelegasikan Steem Power (SP) anda untuk kemajuan komunitas Steem SEA ini
Salam hangat
Anroja
Link pintas untuk delegasi:
100SP 200SP 300SP 500SP 750SP
1000SP 2000SP 3000SP 4000SP 5000SP
Semoga beliau penghuni surga Tengku ..amin🤲