Jam Kecil Di Banda Aceh

Gedung Kodam Iskandar Muda/@oviyandi
Banda Aceh. Aku mengenal kota ini sama seperti mengenal diriku sendiri. Dua puluh tujuh tahun hidup disini membuatku paham, betapa kota ini bisa membuatku sangat rindu, bahkan sebelum meninggalkannya.
Aku punya cara sendiri menikmati Banda Aceh. Sebagian orang memilih berkunjung ke Masjid Baiturrahman, makan jagung bakar seraya merayakan senja di tepi Kuala Cangkoi, atau berdesakan di pusat-pusat perbelanjaan sebagai bagian dari hiburan. Aku sendiri lebih suka mencumbu kota tua ini saat Banda Aceh sedang terlelap.
Saat sebahagian besar warga Kutaraja sedang berada di alam mimpi, Banda Aceh sesungguhnya sedang menampakkan wajahnya yang lain, Wajah yang tidak akan bisa kau lihat jika kau tidak benar-benar mengenali kota ini. Banda Aceh saat Jam-Jam Kecil adalah keindahan yang tak akan kau dapatkan informasinya di brosur manapun yang dicetak dinas pariwisata.
Aku senang membelah malam. menyusuri jalanan kota sembari melihat pelbagai fenomena yang tersembunyi saat siang hari, dan mulai menampakkan diri saat jarum jam di simpang lima telah melewati angka dua belas.
Semalam aku membelah jalanan bersama @oviyandi. Jam telah menunjukkan pukul satu dinihari saat kami berangkat dari tepi barat Kutaraja. Aku memilih melipir melalui jalan lingkar kota menuju ke tenggara. Tujuan kami adalah ke jalan raya Mr. Muhammad Hasan, tempat para pembalap liar kerap melakukan taruhan untuk beradu cepat melajukan motornya.
Kami sampai di kawasan tersebut lima belas menit kemudian dan mendapati jalanan yang lengang. Hanya terlihat bebrapa pengendara motor di jalan. sesekali beberapa mobil pribadi melaju kencang mengarah ke pusat kota. Sedikit kecewa tak mendapati para pembalap yang beraksi disana, aku mengarahkan sepeda motor lurus menuju simpang surabaya.
Dibawah jembatan layang simpang surabaya, kami berbelok ke kiri menuju ke jantung kota. Kami melewati jalanan yang lengang menuju Masjid Raya Baiturrahman yang sama lengangnya. Tiba di perempatan KH. Ahmad Dahlan, kami sempat berpapasan dengan tiga sepeda motor yang melaju perlahan.
"itu lebah, Vi. Kita ajak bicara?" Ajakku
Ovi yang sedari tadi anteng di boncengan menolak ajakan tersebut. "ga berani aku bang" ujarnya.
Udara dingin menusuk kulit. Banda Aceh semakin senyap menunggu pagi. Kami memilih menuju ke Peunayong, sebuah kawasan pecinan. Disalah satu sudut Peunayong puluhan rak penjaja makanan berdesakan, menanti datangnya pelanggan. Oleh warga kota, tempat ini diberi nama Rex. Kami kesana dan memesan masing-masing sepiring Indomie Rebus. Aku memilih duduk di bangku kosong di depan sebuah meja yang terletak di Trotoar jalan agar bisa menikmati pemandangan sekeliling.
Di depan kami, di meja yang sama, sebenarnya telah duduk seorang lelaki yang kutaksir berusia empatpuluh tahunan. Penampilannya lusuh, khas petarung yang kalah di amuk kejamnya kutaraja. Orang-orang dengan penampilan seperti ini akan mudah kau temui di sekitaran Gampoeng Jawa, dekat Tempat Pembuangan Sampah Akhir. Mereka umumnya bertahan hidup dari mengumpulkan sampah-sampah plastik, logam, atau apapun yang bisa dijual ke pengepul barang bekas.
Sejak kami datang, ia hanya diam sambil memegang sebuah gagang serokan sampah berwarna kuning. Ia menatap lurus ke arah rak dagangan milik penjaja sate di seberang jalan. Sesekali, tongkat komandonya tersebut ditempelkan ke bibir, mirip orang meniup seruling. Kulihat tak ada apapun di atas meja, sehingga aku yakin ia bukanlah pelanggan warung tersebut. mungkin ia hanya singgah sebentar sambil melepas lelah, begitu batinku.

John di kawasan Rex, Peunayong/@oviyandi
Indomie rebus pesanan kami tiba, aku melirik ke lelaki berkulit legam tersebut, bermaksud berbasa-basi menawarinya makan atau segelas kopi. Tapi tak sedikitpun ia melihatku. Matanya lurus terpacak ke gerobak sate Jasa Bunda di seberang jalan sana.
"Ini damai karena apa?"
Kudengar lelaki itu membuka suara. Kuperhatikan baik-baik sebab kukira ia bicara denganku.
"Damai ini di teken, di tanda tangan. Empat negara. Supaya pembangunan bisa dilakukan. Kita harus membantu palestina. Dengan Apa? Dengan dana Tsunami lah! Supaya brimob dan tentara pergi ke kampungnya sendiri. Ngapain disini?"
Lelaki itu mulai meracau tak menentu. Saat itu aku baru sadar bahwa lelaki - yang kemudian ku ketahui bernama John - itu tak waras otaknya. Ku colek @oviyandi yang duduk di sebelah dan memintanya mengambil beberapa gambar. Kuperhatikan ia sambil menikmati Indomie rebusku. Ia terus berbicara sendiri dengan pandangan tak lekang menghujam seberang jalan. Suaranya timbul tenggelam di telan gemuruh jalanan peunayong yang tak kunjung sepi hingga waktu beranjak dini hari.
John terus meracau soal perdamaian, tentara, perang, dan tsunami. Sesekali topiknya meloncat liar menuju Palestina. Hingga Indomie rebus dalam piring telah tandas, ia belum juga berhenti bicara. Seorang pemuda bertubuh tambun tampak menyebrang jalan menuju ke arah kami. Sebelum masuk kedalam warung, ia kulihat menyapa John yang duduk di ambang pintu, semeja denganku.
"Minta Rokok", Ujar John. Kali ini pandangan matanya tajam menatap lelaki gendut tersebut.
Si lelaki yang namanya tak ku ketahui kemudian mengeluarkan bungkus rokok dari sakunya lantas menyodorkan sebatang rokok kedepan hidung John. John kemudian mengambil rokok tersebut, lalu mengambil korek api dari dalam saku celananya. Dibakarnya rokok itu, kemudian ia melanjutkan orasinya soal perang, tentara, tsunami, dan perdamaian.
Ku tebak, John adalah salah satu dari sekian banyak orang yang kehilangan kewarasan akibat trauma saat konflik bersenjata melanda Aceh. Disini memang banyak orang-orang yang kemudian gila setelah menerima perlakuan kasar dan penyiksaan yang teramat kejam. Mereka adalah korban perang yang menurutku selalu luput dari perhatian orang.
Adalah sebuah ironi saat para mantan kombatan dan keluarganya berteriak menuntut perhatian pemerintah tapi orang-orang seperti John malah berkeliaran di jalanan. Bertahan hidup dari belas kasih orang-orang sekitar. Setiap tahunnya, ada ratusan milyar uang bantuan sosial yang digelontorkan pemerintah bagi para eks kombatan dan korban konflik. Tapi kutebak, tak pernah sepeserpun uang tersebut digunakan untuk biaya pengobatan para orang gila akibat trauma selama konflik bersenjata. Terlebih, sebagian besar orang tak waras itu kini hidup di jalanan, terpisah dari sanak keluarga.
Jarum jam yang melingkar di tangan kananku telah menunjukkan pukul setengah tiga pagi. Sebelum bangkit dan membayar makanan yang telah kami pesan, ku sodorkan sebatang rokok kepada John. Rokok itu di ambil lalu diselipkan di antara jari telunjuk dan jari tengah kemudian dibakarnya. Segelas kopi yang beberapa saat lalu diberikan oleh pemilik warung, diseruput John dengan nikmat. Lalu ia melanjutkan ocehannya.

Gedung Kantor Bank Indonesia/@oviyandi
Usai menikmati suasana malam di Peunayong, kami kemudian beranjak pulang. Aku memilih melalui jalan Cut Mutia lalu berbelok ke kiri menuju jalan Tepi Kali. Di salah satu sudut jalan yang gelap, beberapa orang berkerumun. Kuarahkan sorot lampu sepeda motorku kearah mereka.
"Bencong, Pi!" Ujarku kepada @oviyandi.
Sesaat kemudian kami telah berpapasan dengan sekumpulan waria yang saban malam mangkal di sana. Mereka umumnya menanti pelanggan atau sekedar bersosialita dengan sesamanya. Mereka, para waria tersebut sejak setahun terakhir telah menjadi perbincangan sekalian orang. Terlebih saat Qanun (Perda) tentang hukuman bagi pelaku Homoseksual telah di berlakukan di sini.
"Hahahaha.... Pakai Jilbab" Kata @oviyandi sesaat setelah kami melewati kerumunan lelaki menyaru wanita tersebut.
Disini, di kutaraja, memang luar biasa. Lain waktu aku akan bercerita kepadamu soal para waria berhijab itu. Diseluruh dunia, kurasa hanya di sini tempatnya para waria taat pada syariat dalam urusan pakaian. Hehe.... Banda Aceh memang ajaib!

Cara orang menikmati Banda Aceh beda2. Kurasa, @oviyandi dan Bink punya cara yang sama menikmati.
Belah malam, menarik memang bung @paskadom
Liar betul ini Kuta Raja bang. Adapula bencong berhijab. Lain waktu kita belah lagi itu malam....
Hahaha... Siapkan lensa telemu!
Lebah adalah sandi? Ato lebah itu kunci?
Lebah itu gembok bang. Kuncinya ada sama kita, di masing-masing luengkiek pha
Suka dengan ceritanya Bang. Menampilkan wajah kutaraja dari sudut-sudut marjinal.
Ya, wajah kutaradja yang tersembunyi dibalik cadar islami selama ini