"Keluarga dari Langit"
Seorang penulis kenamaan asal Amerika bernama Clifton Fadiman pernah berujar, bahwa, untuk bisa merasakan kehangatan rumah, seseorang harus tinggal di rumah. Tidak ada negosiasi. Beberapa bulan lalu saya masih percaya dan sangat setuju dengan ungkapan penulis buku "The New Life Time Eeading Plan" itu. Namun, setelah menemukan "rumah kedua" dan "keluarga dari langit" di Pematangsiantar, saya ingin sekali membantah ujaran tersebut.
Saya ingin mengatakan, bahwa, di dunia ini ada orang-orang beruntung yang memiliki "rumah kedua" dan ia nyaman dengannya. Padahal "rumah kedua" tersebut bukanlah rumahnya yang sebenarnya. Tapi, nyaman yang ia temukan di "rumah kedua" tersebut adalah nyata dan ia bisa dirasakan. Tanpa bermaksud jemawa, barangkali saya termasuk orang-orang beruntung tersebut.
Saya adalah orang yang beruntung karena memiliki dua rumah dan dua keluarga hebat. Rumah pertama tentu saja rumah saya yang berada di Aceh. Rumah yang kedua adalah rumah di Pematangsiantar. Sudah beberapa bulan saya tinggal di rumah kedua ini karena penelitian yang saya lakukan. Orang-orang di rumah kedua ini saya sebut sebagai "Keluarga dari Langit". Hal tersebut tidaklah lebay. Setidaknya begitulah menurut saya.
Adalah Pak Ade dan Buk Ade. Mereka berdua orang tua saya di sini. Keduanya adalah jelmaan orang tua idaman semua kids zaman now. Keduanya guru terbaik untuk dua anaknya dan juga mentor bagi saya. Selalu ada pelajaran hidup yang bisa kita ambil dari setiap dialog yang mereka lakukan. Saya terkadang berpikir kalau Pak Ade adalah seorang filsuf yang enggan terkenal. Selalu ada kiat-kiat menjalani hidup yang apik dari setiap perkataan dan perbuatannya.
Pak Ade adalah orang yang tak pernah bosan mengatakan pada saya bahwa tujuan akhir hidup adalah mati. Dia juga sering bilang, bahwa, sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang mengidolakan Nabi Muhammad SAW, bukan mereka yang menjerit-jerit dan mengidolakan Rafi Ahmad apalagi Selena Gomez. Saya kira dia benar, dan saya akan mengikuti semua nasehatnya.
Adapun Buk Ade, ia adalah perwujudan perempuan yang lengkap untuk disebut ibu zaman now. Ia adalah universitas terbaik untuk dua anaknya. Semua jadwal di rumah untuk anak-anak dialah yang atur. Di rumah ini kamu menemukan aturan, bahwa, pukul 22.00 WIB adalah saatnya untuk tidur, dan setelah magrib adalah waktu untuk mengulang bait-bait Qur'an yang indah itu.
Pun demikian, di lain waktu Buk Ade adalah juru curhat ulung yang setiap saat siap memberikan jalan terbaik pada setiap masalah. Kamu bisa curhat tentang seorang teman yang diam-diam menyukaimu di kampus misalnya. Kamu juga boleh bercerita bahwa kamu sudah lama berusaha untuk berhenti stalking instagram mantan namun berkali-kali gagal. Meski curhatanmu kurang intelek dan tak berkualitas, Buk Ade tetap mendengarmu dan ia akan memberi jalan keluar sebisanya. Maka dari itu saya sebut mereka berdua sebagai orang tua idaman setiap anak.
Selain kedua orang tua hebat dalam diri Pak Ade dan Buk Ade, di rumah kedua saya ini juga ada dua anggota lagi. Mereka berdua adalah anak-anak Pak Ade dan Buk Ade. Mereka adalah teman bermain, dan sesekali kawan diskusi. Diskusi dengan dua bocah mungil begini? Iya, simak dulu.
Adalah Fathan dan Gibran. Fathan adalah anak pertama di "keluarga dari langit" ini. Bagi saya, Fathan adalah siswa SMP yang gantengnya terlalu cepat terlihat. Dan saya percaya, di umur yang sangat belia ini, Fathan pasti sudah membuat beberapa anak perempuan patah hati. Tapi selebihnya, dia adalah kawan diskusi paling apik yang bisa kamu miliki.
Saya sering berdiskusi tentang "komunis" dan "perang dingin jilid III" dengannya. Sesekali kami juga berbicara tentang betapa Amerika adalah negara kemaruk yang ingin sekali dirudal. Tapi, sesekali saya dan Fathan juga berdebat tentang siapa lebih cantik antara Milea dan Raisa. Dan jawabannya tak perlulah saya tulis di sini. Intinya Fathan adalah orang yang cepat terkenal karena wawasannya yang luas dan wajahnya yang ganteng tentu saja.
Adapun Gibran, siswa kelas 4 SD ini adalah sosok yang bisa membuatmu tertawa setiap saat. Dia adalah bocah yang mahir Bahasa Inggris secara otodidak dari game yang sering dia main. Gibran juga orang yang pertanyaannya paling ngaur dan paling gak nyambung. Dengan Gibran, kamu akan sering mendengar pertanyaan absurd macam "kenapa ayam yang sudah digoreng lebih enak daripada ayam yang masih berjalan?"
Sesekali dia juga akan manuding jawaban darimu untuk pertanyaan paling gawat abad milenial ini, seperti "kenapa Donald Trump jelek dan Gibran keren?". Saya sering tertawa dengan siswa SD ini. Bagi beberapa orang mungkin Gibran aneh. Tapi saya curiga, jangan-jangan dia adalah calon orang jenius yang berpikir terbalik dari kebanyakan orang. Bukankah pada awalnya orang jenius sering dianggap aneh dan di luar kewajaran? Saya kira Gibran adalah jenius. Semoga.
Setelah beberapa bulan yang menyenangkan dengan "keluarga dari langit" ini, saya seringkali berpikir bahwa tak banyak orang yang seberuntung saya karena memiliki dua rumah dan dua keluarga. Maka dari itu saya selalu bersyukur karena telah dipertemukan dengan mereka.
Barangkali, semua orang akan mengangguk setuju bahwa rumah dan keluarga adalah nama lain "hidup". Keluarga dan rumah adalah dua hal yang membentuk karakter seorang manusia. Setiap orang akan bahagia jika rumah dan keluarganya baik-baik saja. Pun demikian, sehebat apapun gelar seseorang, ia cenderung alpa menikmati hidup dan tak bisa bahagia jika keluarga dan rumahnya penuh prahara.
Di banyak kasus, rumah dan keluarga selalu digambarkan sebagai dua entitas melankolik. Tokoh-tokoh besar dunia bahkan cenderung melow saat membahas rumah dan keluarga. Terutama rumah, Charles Henry Parkhurst, seorang penulis paling melankolis di Barat bahkan mengartikan rumah sebagai terjemahan surga. Baginya, rumah adalah surga bagi seorang pemula. Entah itu penulis pemula, atau seorang bocah yang baru bisa merangkak di atas bumi.
Maka inti dari tulisan ini adalah, syukuri baik-baik anugerah terbesar yang diberikan Allah untukmu yanf bernama keluarga. Selagi kamu bisa, habiskan seluruh kebahagiaanmu dengan mereka, dengan orang-orang yang kamu sebut keluarga. Karena akan ada saatnya kita semua tak bisa tidak, pasti akan pulang ke rumah yang abadi. Rumah yang dibuat hanya sekali dan tak akan pernah rusak sampai kapanpun. Rumah di hari paling akhir. Salam hangat untuk semua teman-teman Steemit Indonesia.
Regards





Sebagai seorang yang hidup diperantauan saya juga merasakan demikian Bang @samymubarraq. Merasa menemukan keluarga di rumah kedua bersama teman-teman yang hidup satu kos, hehehhe
Dann itu rasanya awesome kan, Mbak @patriciadian?? 😂
Bicara keluarga jadi kepikiran, bang @samymubarraq sudah siap membangun keluarga hehehe.
Saya malah bukan lagi keluarga kedua bang, sudah banyak yang siap menjadi ibu dan ayah bagi saya, pasti karena mereka baik. 😊
Salam untuk keluarga ke dua mu bang, bilang dari anak yang suka ngopi hehe
Haha.. Kodenya keras ya @sadramunawar.. Doakan semoga abang segera.. 🤣🤣
Terharu gue sam... Hik..hik..hik.. Keluar keringet bacanya... Awesome banget ...
kirain aer mata bg @owner99
keringat?
bacanya sambil jogging kayaknya nih..
whehe
Hahaha.. Waw.. Kalau big bos @owner99 sampai terharu, ini keren hihihi
meleleh..
benar,
gak semua orang seberuntung @samymubarraq
menemukan "keluarga langit"
Asli Kak.. Dan saya patut, sangat patut mensyukurinya.. :)
Sisi kehidupan yang ditulis dengan apik, ringan dan enak dibaca. Sukses selalu
Terima kasih kandaa.. Sukses juga untuk kanda.. :)