Dari teugku ke ustadz
Kembali lagi seperti biasa saya akan mencoba mereview tentang buku Acehnologi volume tiga karya pak kamaruzzaman Bustaman Ahmad Pada hakikatnya bahwa tengku adalah kelompok ulama lokal Dan guru dikampung atau dayah. Adapun makna ustadz adalah guru. Mereka menainkan peran pada hanya dipondok psantren, tetapi juga sebagai juru dakwah. Kedua konsep ini telah dikenal luas di Aceh. Namun, dalam dua dekade terakhir, setelah pengenalan terhadap pondok psantren modern.
Di Aceh, ulama telah berperan cukup aktif sejarah kedatangan Islam hingga bergabung menjadi bagian dari republik indonesia. Semasa kerajaan Islam para ulama menjadi penasihat khusus bagi sultan atau sultanah. Pada era melawan belanda, ulama juga tampil sebagai pahlawan Yang menggunakan ideologi jihad sebagai bentuk dari perang dijalan Allah.
Di Aceh para ulama dikenal dengan panggilan tengku, Abu, abi, abati Dan abon. Dalam hal ini terdapat hirarki. Ulama Yang paling tinggi dikenal dengan Abu (bapak) Yang terkadang dihubungkan dengan kampung kediaman mereka seperti, Abu tanoh mirah, Abu atoe Abe. Mama nama panggilan Yang terhubung dengan nama kampung menyiratkan bahwa mereka Yang mengontrol pola hidup keagamaan masyarakat.
Jika sautu kampung tidak ada seorang pun Yang belajar di dayah. Maka kampung tersebut akan mengalami persoalan internal. artinya, mereka sama sekali tidak memiliki geberasi Yang menduduki posisi sebagai tengku meunasah. Dalam hal ini, tidak menutup kemungkinan, para orangtua merelakan anak gadis mereka dinikahi oleh alumni dayah. Tujuannya adalah supaya pemuda tersebut akan tinggal dikampung tersebut kemudian menjadi teungku meunasah. Tentu saja, sistem ini tidak akan dijumpai di kawasan perkotaan Aceh.
Disamping itu terdapat juga sebutan tengku diluar dayah. Sebgai contoh orang Aceh Yang tinggal diluar Aceh akan dipanggil sebagai tengku Aceh. Terkadang, jika ini terjadi di luar Aceh, para tengku aceh akan dinobatkan sebagai imam, Karena mereka percaya bahwa orang Aceh pintar membaca al quran. Namun demikian, ketika konflik tidak sedikit orang Aceh Yang keluar dari aceh menjadi Mafia ganja.
Adapun gambaran mengenai sosok ustadz dapat ditemukan disalah satu psantren di Aceh utara. Sama dengan ustadz di kalangan jama'ah tabligh, di psantren ini para ustadz juga masih sangat muda. Mereka datang di Aceh bukan sebagai anggota jamaah tabligk. Mereka datang di Aceh bukan sebagai anggota tapi mereka dikirim dari pulau jawa melalui jaringgan sunnah setelah tsunami di Aceh pada tahun 2004. Yang dimaksud dengan jaringan sunnah adalah komunitas Islam di Aceh utara Yang menyebutkan diri mereka tidak berafiliasi kepada madzhab manapun.
Disamping bertindak sebagai guru, para ustadz ini juga menjadi imam shalat berjamaah. Anngota kelompok ini sangat menyukai mereke Karena suara merdu mereka tidak membaca al quran saat shalat.
Salah seorang ustadz dari Aceh sangat prihatin dengan keberadaan ustadz dari jawa Yang memberikan pelajaran tentang jihad bagi santri. Ini disebabkan pada bulan February 2010 terdapat penyerangan jaringan teroris di Aceh. Salah satu anggota dalam jaringan sunnah ini ditangkap oleh Polisi dikampung.
Gelar ustadz dapat dikatakan sebagai "embedded religious title" dalam pendidikan Islam di Aceh, beberapa ustad datang luar Aceh untuk benerja sebagai pengajar tetapi juga dalam bidang dakwah Islam. Dalam studi ini, dapat dilihat bahwa ada konflik amtara kelompok teugku dengan ustadz disalah satu kawasan di Aceh.
Sementara bagi kalangan ustadz, agaknya terdapat sinyal bahwa kedatangan mereka tidak hanya mengajar Islam, tetapi juga sebagai upaya memperluas jaringan radikalisme di Indonesia. Dalam kajian ini terlihat bahwa satu kelompok masyarakat di Aceh, dimana para ustadz jawa telah memilki arti penting bagi masyarakat setempat.