'Senja Menjadi Saksi'
Tanpa banyak jadwal yang biasanya jauh-jauh direncanakan hari ini tidak demikian, begitu ada waktu luang yang saya kira tidak mengganggu waktu kegiatan manapun, memutuskan untuk pergi ketempat yang baru saja disepakati,"Ini pasti hujan" gumamku sembari mencari jaket warna abu-abu yang memang ini adalah salah satu jaket kesayanganku.
Tentu sejak 15 menit yang lalu saya sudah membersihkan diri beberapa menit di kamar mandi, tidak tinggal setititik kulitpun yang tidak terkenena air dan sentuhan sabun, segar telah kurasakan kemudian mencari pakaiyan yang segera akan saya kenakan.
Sembari mencari-cari pakaiayan terdengar suara dari pengeras suara masjid yang menandakan waktu ibadah sholat ashar telah tiba, ''Ada baiknya saya sholat dulu'' Sembari mengoleskan beberapa oleh pewangi yang sudah sejak lama merk ini saya pakai, karena wanginya yang khas dan tidak banyak orang mengenakannya.
Usai sholat ashar, berdo'a dan dzikir wajib setelah sholat, dirinya tidak juga menampakan diri sebagaimana biasa dia selalu cepat, "Sepertinya tidak pernah dia terlambat, apa ada terjadi apa-apa, dengannya'', Tanyaku kepada diri sendiri atas kehawatiran yang wajar.
Ku putuskan untuk mencari-cari nomor teleponnya di layar kaca telpon genggam mungil saya dan jawaban yang terdengar dari seberang sana hanya suara "Nomor yang anda tuju tidak menjawab", saya berpikiran dirinya pasti sudah dijalan.
Menepis kekhawatiran itu saya mencari jalan wisata literasi yang memang pelarian dari pikiran yang selalu mengaggu saya jika hal yang sama terjadi, buku Tere Liye yang sudah hampir semua lembar saya sisiri kini kembali saya lakukan, suara gemercik air aquarium mini menjadi teman baik saat membaca coretan-coretan hebat Tere Liye ini, terkadang saya senyum, tertawa dan menyerinyitkan dahi saat membaca novelnya, tidak habis rasa kagumku dengan penulis hebat ini.
Berselang beberapa saat dia sudah datang, dan kami segera pergi ke tempat yang memang direncanakan, di perjalanan seperti biasa kami menghabiskan waktu berbicara dan sesekali tertawa, dan terdiam sesaat tertawa kembali.
Sampai ditempat yang dituju, air muka nya terlihat mengering tidak seperti biasanya senyum yang sedari tadi terlihat menggembirakan kini sudah layu, meski kami dalam perjalan tadi memang sedikit melaju cepat tidak seperti biasanya, akan tetapi apalah daya toko kain yang memang sudah kami pernah berkunjung kesana mengambil barang pesanan sudah tutup.
Hujan yang menghiasi sore kemarin tidak terlihat begitu menyenangkan baginya, meski kami mencari-cari ke toko kain lain, kain yang serupa akan tetapi jawaban mereka tetap "Tidak ada kain demikian disini".
Biar saja senja menjadi saksi atas kekecewaannya tapi esok mentari masih bersinar, kesempatan masih ada karena hujan pengantar rindu peraih temu dan pencipta gembira akan menepati janji sesuai harapan.
24 Mei 2018
@sadramunawar
Mentarinya susah muncul sekarang kayaknya mas, soalnya lagi musim hujan, dan Ia enggan memunculkan kehangatannya 😂
Ahha, iyakah,? mungkin di negeri seberang begitu ya, tapi dibelahan bumi bagian tempat saya, yang namanya mentari tetap bersinar meski tak terik. hehehe
Iya bang, di dataran tinggi @gayo demikian adanya, hehehe
Geh dediang ku Lhokseumawe ni keta, hehehe
Yoh,,, ara sudere i Lhokseumawe rupen, hahaha
Insyaa Allah kase bg, berijin ya bg 👍😁
Enti lupen singah ku blog kami ni bg, si tengah belejer, heheh
Dele serinen te isien, penting keber-keber ike male kini,
pasti gati singah aku ku blog ni abang hehehe
Oke bang, berijin ya, haha
Semoga selalu sukses bang boh, 😂
Yap, masih ada hari esok😁
Karena esok kemungkinan tidak gagal kak heheh
Tapi esok kemungkinam tidak sebaik hari ini :(
Itu adalah celaka kak, karena apabila besok tidak lebih baik dari hari ini tergolong kepada celaka, jika hari ini sama dengan kemarin maka tergolong orang yang merugi, dan jika esok lebi baik dari hari ini maka tergolong kepada orang beruntung.