Terbunuhnya Komandan Kami

in #indonesia9 years ago

Saat itu konflik masih belum reda, keadaan Gampong mencekam dan kelompok USA (untuk Sejahtera Asyi) dengan berbagai doktrin sudah merajalela, serdadu negara Waja, mereka dimana mana. Membuat posko posko, supaya bisa mensweeping liar warga Asyi.

Yang berbadan tegap, yang mencurigakan, menjadi sasaran amuk emosi serdadu, karena mereka tak bisa menemukan keberadaan panglima tertinggi USA, Abu Bakar Hanafi.
donkey-sergeant-army-standing-drinking-coffee-cartoon-aloysius-patrimonio.jpg
Tidak demikian di Kedai Kopi Cek Zah, kedai kopi yang berseberangan dengan Koramil ini nampaknya damai. Penjaga warung kopi, Luzair. Nampak akrab-akrab saja dengan militer bersenjata yang berada didalam ruangan depan pos penjagaan.
Luzair bekerja mengantarkan kopi dan kue untuk Koramil dan anak buahnya sampai keseluruh ruangan kantor di tempat itu. Di sore hari saat tak mengantar kopi, luzair melayani pesanan orang kampung.

Abu Bakar Hanafi, adalah orang kepercayaan Husain Lamlo. Beliau tokoh utama pendirian ide USA, USA berencana memisahkan diri dari Waja karena Negara ini sudah tidak adil kepada bangsa Asyi, yang selalu membangun kota Ibukota Waja, dengan hasil alam, Gas, Minyak dan emas yang diangkut dari Asyi.

Pidato, buku-buku yang ditulis Husain Lamlo menjadi Inspirasi anak muda Asyi, mereka membaca bukunya secara sembunyi-sembunyi dan berhasil mengembalikan kepercayaan diri sebagai sebuah bangsa yang dimasa lalu, tidak bisa diganggu, dihinakan dan dikuasai siapa-pun.
Asyi adalah negara berdaulat dengan kerajaan nomor 5 di dunia, sejak jaman Firaun, Asyi menjadi negara tempat pedagang mesir membeli barus, kapur untuk mengawetkan Mummy. Jaman Kekalifahan Asyi tempat utama penyebaran Islam, Zaman Pejajahan Aceh tempat perdagangan Asia dengan rempahnya yang berlimpah.

Luzair tetap menjalani hari-harinya seperti biasa, setiap mengantar kopi dia seperti tak ada bagi serdadu yang duduk dimeja persegi, memanggul senjata dan berbicara menyombongkan diri, berkelakar tentang anggota USA yang pernah dibunuhnya.

“Aku pernah memenggal kepala mereka dan menampakkan pada istri mereka, begini lah akibat melawan negara!’
Kata Supriono, satu dari mereka
“Aku pernah menembaki rumah para bangsat itu, siapa yang kenak ya sudah lah, yang penting aku puas” sambung serdadu lain.
mereka tertawa-tawa sampai larut malam. Luzair meringkuk mengambil sendok yang jatuh akibat serdadu tertawa memukul-mukul meja.
“Udin,... tambah lagi kopi” panggil seorang serdadu memanggil luzair yang tangannya penuh gelas kosong.
“Baik Ndan” Luzair sambil berlalu. Melihat kebelakang, lalu lanjut berjalan ke kedainya.

Tapi diantara serdadu itu, ada satu yang sangat menghargainya. Yanto. Warung yanto adalah ruang bersegi empat di seberang jalan. Diantara bangunan pesantren di sebelah kanan dan deretan kedai lain disisi kiri. Warung kopi itu punya 8 meja kayu dan satu kamar mandi disudut kedai. Kamar mandi yang punya kunci dari dalam hanya potongan kayu, dan dari luar kunci besi yang ditempel dengan baut yang kuat.

Beda dengan serdadu lain, Yanto suka duduk dan mengobrol akrab dengan Luzair di sela-sela dia melayani pelanggan. Bahkan Yanto pernah diajak ke rumah, saat Luzair mengadakan pesta dan khenduri maulid.
Saat itu pasukan Usa mulai intens melakukan razia, setiap jum’at ada selalu kontak senjata antara pasukan mereka dengan tentara Waja.
Semakin ramai pasukan USA dibantai, pasukannya malah semakin bertambah, masyarakat semakin lama semakin sadar, bahwa selama ini mereka dibodohi pemerintah Waja.

Asyi ingin merdeka, ingin mendirikan negara sendiri yang tanpa tipu sana, tipu sini, korupsi dimana-mana dan rekrutmen pegawai dari kalangan saudara-saudara pejabat.
Hari itu adalah hari naas bagi USA, mereka kehilangan komandan mereka yang sangat disegani, panglima yang semua perkataannya adalah perintah dan semua komando dari Husain Lamlo adalah dari mulutnya. Kini dia diberondong dirumahnya, bahkan Luzair mendengar, tubuhnya di lontar oleh GLM dari jarak dekat sampai tembus dari dada dan peluru besar itu keluar dari punggungnya.

Sehari setelahnya, pesanan kopi mulai bertambah, bahkan markas militer ini minum kopi susu dan jus di malam-malam berikutnya.
Mereka sudah berani keluar dari markas dan jalan-jalan diseputaran pesantren, malam mereka berani ke kampung untuk membanggakan diri dan mengancam anak muda.

“Komandan Kalian sudah mati! Mau apa lagi kalian!!”
Teriak Supriono disatu kerumunan warga desa yang sedang nonton TV.
“Ayo serahkan diri, mana Anggota USA, kasih tau kami! Mereka sudah tidak berdaya lagi sekarang! Sambung serdadu lain
Warga kampung diam saja, sambil memandang ke arah kelompok berbaju loreng itu dan satu per satu bubar dan kembali ke rumah.
Luzair sedang bersama dengan Yanto di suatu pagi yang dingin. Kopi sudah habis dan Luzair memberikan air putih pada Yanto yang sedang menceritakan tentang pembantaian Abu Bakar Hanafi padanya.

“Saat itu, Anggota USA yang sudah menjadi Intel kami memberitahukan keberadaan Abu Bakar, jadi kami langsung satu batalion mengepung daerah itu, memuntahkan seluruh peluru dan persenjataan canggihnya kami punya”

Luzair antusias mendengarkan lanjutannya. Sambil terus bertanya. Yanto tiba-tiba kebelet dan permisi ke kamar mandi, dia melepaskan senjata M-16 nya dan menaruhnya diatas meja.

Saat Yanto di dalam kamar mandi, Luzair Pelan-pelan mengunci dari luar dan menggeser satu Meja untuk mengganjal kamar mandi, dan dia lari dengan senjata barunya ke Gunung, untuk menjadi anggota USA.

Yanto meraung-raung di kamar kecil dan menedang-nendang pintu sampai terbelah dua dengan sepatu bootnya, melapor komandan dan mengejar Luzair ke Perkampungan. mereka masih mencari, tapi gunung terlalu luas untuk didaki, dan pasukan USA lebih mengerti medan yang mereka hadapi daripada pasukan Waja.

Sort:  

Memperingati 4 des ya? Hehe

benar, bek karu-karu... haha

Benar2 suka. Seandainya orang2 luar sana mengerti lebih dalam pesan2 dalam cerita ini :(

yang mengerti akan mengerti,.. tenang Hime Sama!

Coin Marketplace

STEEM 0.04
TRX 0.33
JST 0.100
BTC 64626.54
ETH 1874.79
USDT 1.00
SBD 0.38