Lempengan
Mentari memancarkan keemasan;
Udara terasa hangat di pagi hari;
Setiap langkah menyambut hari.
Kulit bumi semakin mengkerut;
Luka semakin melebar dan perih.
Kulit bumi semakin hari semakin tua;
Kulit bumi merupakan patahan lempengan;
Kulit bumi bergerak ribuan jiwa melayang.
Luka, mati rasa ditanam di benaknya;
Badan terkurung di puing bumi.
Duka nestapa di gundukan tanah merah;
Badan yang disayangi telah sekujur kaku;
Jiwanya tergadaikan untuk kehidupan ini.
Tangis dan merana di buah jantung;
Telapak kaki kecil berdiri nisan ayah bundanya.
Sungguh memilukan dan teriris di daging polos;
Buah pikirannya belum mengenal siapa dunia;
Namun ia terpaksa berjalan dengan batang kara.
Getah merah terus menerus mengalir;
Dari jaman ke jaman kelempengan berubah....
