Curhatan Seorang Pengkoisme
Hari ini selepas melaksanakan kewajiban shalat zuhur, saya membaringkan tubuh di salah satu ruangan di rumahku yang lantainya banyak yang bolong dan menjadi sarang dari semut merah -tak hanya di ruangan itu saja yang kondisi serupa.
Sambil menungkupkan dada di bantal, aku membuka android dan melihat-lihat foto dan video yang sempat kuabadikan sejak beberapa hari terakhir, salah satunya adalah video dan foto anak bungsu kesayanganku bermain bahagia di basecamp teman-teman Apache13 atau yang juga disebut Solomon kingdom.
Secara kebetulan anak perempuan sulungku serta dua adik laki-lakinya memperhatikan video tersebut dan bertanya “Pa ini dimana Pa? kok ada yang mirip Apache?”
“Coba putar lagi Pa!!!,” minta kedua adiknya dan saya tidak ingin mengecewakan mereka.
“O iya ini di tempat Apache kan pa?"
“Iya itu nampak apache dan kawannya apache, trus adek khayla juga pegang kaset yang seperti yang ada di kita.”
Apache dan teman apache? Ya, dalam pikiran anak-anakku Nazar Shah Alam adalah Apache, sementara personil lainnya adalah temannya Apache.
Tak hanya diperintahkan aku untuk memutar kembali video itu, salah seorang anakku berkata “Pa, buka google ya dan ketik Apache,” hadeh….dasar anak zaman now. Oke oke aku kembali mengikuti perintah dari mereka. Di salah satu gambar aku klik dan disitu terdapat tulisan Nazar Shah Alam tentang sejarah pembentukan Apache13, tulisannya tersebut mempengaruhiku untuk kembali menekan link dan membaca cerita demi cerita lainnya.
“Surat Maharindu Untuk Ayah” itulah judul sebuah tulisan dari Nazar Shah Alam yang membuat aku larut, haru, bahkan membuat mataku berkaca-kaca. Kenapa tidak, dalam tulisan itu dia menulis dengan hati, dan seakan aku sedang mendengar hatinya meratap, dan mencurahkan segala isi di dalamnya pada sosok Allahyarham Ayahandanya. (Alfatihah…)
“Assalamualaikum, Ayah
Apa kabar Ayah di Surga?
Masih rindu sama Umi? Cieee”
Itulah sepenggal kalimat pembuka dari tulisan yang diposting pada 19 Mei 2016 silam, dan dilanjutkan oleh tumpahan rasa rindu buat ayahnya yang melebihi rasa rindu sang ayah untuk nya dan untuk Umi. Ya, hubungan cinta antara ayah dan uminya sungguh kuat bahkan tidak bisa dipisahkan oleh kematian sekalipun, hal itu dikisahkannya setiap Uminya sakit dan ayahnya datang ke mimpi maka keesokannya uminya sembuh.
Dalam surat itu juga Nazar berjanji pada Ayahnya sebagai sulung dia akan menjadi Abang sekaligus orang tua yang baik buat adik-adiknya dan menjadi tulang punggung dalam keluarganya, juga sedikit demi sedikit mulai mewujudkan mimpi-mimpinya, kecuali menjadi Pegawai, itu bukan mimpi yang mudah untuk diwujudkan, meskipun “pekerjaan” tersebut adalah mimpi sang Ayah.
Saya juga larut dalam kenangan-kenangan masa kecil Nazar dengan adik laki-laki dan perempuannya, Subhanallah…Abang, Vodjan dan Dek Vi mereka anak yang sangat patuh kepada orang tuanya, saya iri dengan cara umi dan ayahnya mendidik mereka. Setiap magrib rumahnya riuh oleh pengajian 3 anak-anak kecil yang dipaksa keras oleh sang ayah untuk membaca Yasin secara cepat tapi tidak merusak tajwid dan makhrajul huruf.
Di ujung kisah yang menggambarkan bagaimana bahagianya keluarga itu, nazar jujur ada sedikit rasa cemburu oleh kedekatan ayah dengan adiknya Vodjan, namun kecemburuan itu tidak bertahan lama karena dia mendapatkan jawaban dari umi dan orang-orang tua di kampungnya yang mengatakan antara Nazar dan ayahnya terdapat kemiripan yang banyak, maka antara ayah dan anak yang mirip tersebut tidak boleh terlalu dekat atau manja hal tersebut bisa mendatangkan kematian terlalu cepat bagi salah satu diantara keduanya –begitu paham orang-orang dulu yang tidak boleh kita percayai- walaupun kenyataan benar adanya bahwa Ayah Nazar (Almarhum Alamsyah) telah kembali kepangkuanNYA pada tahun 2017 silam. Allahummaghfirlahu….
Ketika saya hendak bangun mengambil laptop untuk membuat tulisan ini, tanpa sengaja saya mengklik sebuah tautan yang di dalamnya terdapat foto kami dua tahun lalu saat berkumpul membaca puisi pada malam itu.
Terkadang menulis tentang ayah dan umi adalah penawar bagi saya, bang. Terima kasih sudah mengingatkan saya tulisan ini. Terima kasih sudah menyampaikan karya bagus dengan cara baik ini.
Terkadang menulis tentang ayah dan umi adalah penawar bagi saya, bang. Terima kasih sudah mengingatkan saya tulisan ini. Terima kasih sudah menyampaikan karya bagus dengan cara baik ini.