Cinta Semu Sesaat

in #story8 years ago

images(95).jpg

sumber

Cerobong asap kapal angkutan antar pulau telah menggaung keras, menandakan fery telah berlabuh di dermaga transit pulau Jawa. Para penumpang yang sudah penat terombang-ambing selama dua jam perjalanan laut, segera beranjak dari peraduannya. Ada yang langsung turun menuju dermaga, ada pula yang pergi ke lambung kapal untuk menghampiri kendaraannya yang diparkir di sana.

Begitu pun aku, langsung kembali ke dalam bus yang sudah kutumpangi sejak awal perjalanan.

"Mas, tempat duduknya boleh tukeran gak?" tanya seorang pria sebelum aku sempat duduk di kursi pojok dekat jendela.

"Maaf, kenapa ya pak?" tanyaku kepada pria yang sedang menggendong anaknya dalam pelukan, bersama sang istri, teman sebangku aku hingga sampai di pelabuhan Bakauheni.

"Begini mas, anak saya ini tadi tiba-tiba enggak enak badan, mabuk laut sepertinya. Jadi saya akan lebih mudah merawat si kecil kalau kami berdua duduk di sini," kata pria tersebut, coba menjelaskan.

Aku tersenyum tipis sambil mengangguk pelan. "Ya udah kalau begitu pak. Kursi bapak ada di belakang kan?"

Pria itu mengiyakan pertanyaanku kemudian mengucapkan terima kasih, saat aku sudah berpindah ke kursi belakang.

Terselip perasaan bahagia karena telah membantu orang lain, yang semakin bertambah saat melihat teman sebangku di sebelahku. Seorang wanita cantik bermata celik mengenakan jilbab hijau yang tengah asyik mendengarkan musik lewat earphone.

images(96).jpg

Sumber

Mobil bus bergerak perlahan meninggalkan gelapnya geladak. Melewati jembatan dari bagian penutup kapal dan berajalan santai menyusuri pelabuhan.

Dalam terpaan cahaya mentari siang menjelang sore hari, wajah cantik wanita itu makin berkilau. Semakin membuat aku enggan untuk tidak meliriknya.

"Ish, apaan sih nih orang. Batre HP juga mau abis lagi," gumam wanita tersebut, memperhatikan layar datar HP-nya.

Terbesit akal bulus di kepalaku. Dengan tetap berusaha terlihat cuek, aku menurunkan tas di bagasi atas untuk mengambil ponsel yang memang sengaja aku simpan untuk dicas. "Yap, udah penuh," ucapku sambil menarik colokan powerbank dari konektor pengisian baterai.

Seperti yang aku harapkan, wanita itu mendelik karena mendengar suara yang sengaja aku keraskan. Sambil menahan girang di hati, aku menolah dan memberikan seulas senyum kepadanya.

"Mau minjem powerbank saya?" tanyaku, lembut.

Wanita itu tercenung sebentar sebelum membuang muka.

"Serius enggak mau? Ya udah saya taruh aja lagi ke dalam tas," ujarku, berlagak cuek.

"Sebentar, Mas... Masih bolehkan saya pinjam powerbanknya?" tanya wanita itu sebelum aku sempat berdiri.

Aku tersenyum tertahan "Boleh kok," jawabku, sambil menyodorkan powerbank di tangan.

Wanita itu tersenyum simpul saat mengambil alat pengisian daya ponsel portable yang aku sodorkan.

"Makasih ya Mas," ucap wanita tersebut.

"Sama-sama... Nnnggg... Siapa nama kamu?" tanyaku, mengajak berjabat tangan.

Dengan sedikit ragu, wanita itu menyambut uluran tanganku. "Nisa," jawabnya, memperkenalkan diri.

"Syahrul, panggil saja Arul," timpalku.

Handshake_05_Man-Wonam_Jewel.png

Sumber

Dari perkenalan itu, aku dan si wanita cantik bernama Nisa mulai membuka obrolan yang semakin lama, semakin akrab. Kami tertawa lepas dan terkadang saling mengejek satu sama lain seperti kawan dekat yang telah lama tidak bertemu. Mungkin, malah lebih mirip seperti sepasang kekasih. Ya, kekasih, karena di saat supir bus memutuskan untuk berhenti makan di sebuah rumah makan pinggir jalan, aku dan dia tanpa rasa canggung saling menyuapi satu sama lain. Mesra.

"Ciledug, Ciledug, Ciledug," ujar kernet bus yang membuat kami segera bersiap-siap untuk turun setelah perjalanan panjang penuh kemacetan.

"Jadi kamu mau sendiri aja pulang ke Bintaro? Enggak mau aku temenin?" tanyaku, sewaktu kami sedang duduk warung pinggir jalan untuk sejenak merenggangkan otot tubuh yang lama terlipat.

"Memangnya kamu mau ngapain ke rumah aku?" Nisa tersenyum manis saat melemparkan pertanyaan tersebut.

Hatiku lumer melihat senyumnya, dan di saat itu pula otakku keram tak bisa berpikir untuk menjawab pertanyaannya.

"Kok diam sih? Kamu kesambet ya?" berondong Nisa, sambil terkekeh.

"Enggak apa-apa, aku cuma ter...," ucapakanku terputus karena HP wanita cantik itu berbunyi.

Dia terlihat risau saat melihat nama penelpon yang menghubunginya. Setelah melempar seulas senyum, dia pergi menjauh untuk menerima panggilan telepon untuk kemudian kembali dengan wajah yang ditekuk.

"Kamu kenapa Nis?" tanyaku yang bingung karena perubahan sikapnya yang tiba-tiba.

Dia terdiam sambil menundukan kepala.

"Kamu sakit? Atau karena orang yang nelpon kamu tadi?"

Nisa menoleh dengan mata yang berkaca-kaca, menatapku lekat penuh kesedihan.

"Aku mau jujur sama kamu. Sebenarnya aku itu...," ucapan paraunya terhenti, ragu untuk meneruskannya.

"Kamu kenapa?" desakku, dengan jantung yang berdebar.

Wanita cantik itu menegakan tubuhnya dan menarik nafas panjang untuk menenangkan diri.

"Maaf Mas, sejujurnya aku...," omongannya kembali terhenti, yang kali ini disebabkan oleh bunyi klakson yang terdengar tidak jauh dari tempat kami berada.

Nisa langsung berdiri dan bergegas menghampiri pengendara motor, yang telah sukses membuat aku bertanya-tanya mengenai lanjutan dari perkataan wanita cantik berjilbab hijau tersebut.

images(98).jpg

Sumber

Suasana tiba-tiba berubah, saat Nisa dengan pria pengendara motor tersebut terlihat bertengkar menggunakan suara tertahan. Dari kejauhan, lamat-lamat aku melihat genangan air mata Nisa turun membasahi pipinya.

Batinku tergelitik untuk ikut campur, lalu dengan langkah ragu aku mendekati mereka berdua. Aku dan pria itu bersitatap, saling mengintimidasi satu sama lain, sampai akhirnya Nisa angkat bicara.

"Mas Arul, ini tunanganku, Arya," ucap Nisa sambil melirik tertunduk. "Abi, ini mas Reza, tadi ketemu di dalam bus,"

Sore cerah ini seakan berganti dengan hujan badai yang disertai sambaran kilat ke segala penjuru. Tunangan katanya? Lalu apa arti kedekatan kita tadi. Bodohnya aku, terlalu berharap banyak dari seorang wanita yang baru saja aku kenali.

Arya mengulurkan tangannya, mengajak berjabatan, yang membuatku mau tidak mau menyambut uluran tangannya sambil mengembangkan senyum dipaksakan, dan berlanjut dengan adu kekuatan pejantan, saat tangan kami saling menekan kencang satu sama lain.

"Abi, pulang yuk, Umi capek habis perjalanan jauh," pinta Nisa, sambil menarik lengan tunangannya, hingga jabatan tangan kami terlepas.

"Umi udah enggak marah lagi sama Abi?" tanya Arya, dengan senyum lebar mengembang menghiasi wajahnya.

Nisa mengangguk lalu mengajaknya pulang dengan nada yang sedikit manja. Pergi berlalu setelah mengucapkan sekilas salam. Meninggalkanku yang tersenyum getir di tengah padatnya lalu lalang jalan raya. Aku duduk di trotoat, terpekuk memainkan ingatan dari pertama kali aku bertemu dengan Nisa. Si wanita cantik pemberi harapan kosong.

Tapi sudahlah, paling tidak aku sudah mengetahui apa yang mau disampaikan olehnya.

images(99).jpg
Sumber

"Papa...," ujar suara familiar yang membuyarkan lamunanku.

Seorang gadis kecil berlari hingga jilbab merah muda yang ia kenakan berkibar tertiup angin. Saat jarak kami tak begitu jauh, dia lompat menghambur kepelukanku.

"Nana sama siapa kesininya?" tanyaku kepada anak semata wayangku yang bernama Ariana.

Dia melepaskan pelukannya dan memandangku dengan wajah yang sengaja dibuat cemberut, sehingga membuatnya terlihat semakin imut.

"Cherry...., aku maunya dipanggil begitu. Soalnya kan aku imut dan manis seperti buah ceri." ujarnya dengan nada suara yang sengaja dibuat agar terdengar galak.

Aku mengiyakan permintaan manja gadis kecilku, untuk kemudian mencium lembut keningnya.

"Cherry, udah dong. Kasihan papa masih capek tuh." ujar wanita berwajah oriental yang dibalut jilbab berwarna pink pucat. Sangat anggun dan menawan di balik pakaian syar'i yang ia gunakan.

"Kok kamu tau aku ada di sini, Sayang?" tanyaku kepada Eriska, istriku.

Ya, istriku. Wanita yang beberapa tahun lalu aku nikahi dengan mas kawin seperangkat alat shalat dibayar tunai.

"Ya taulah, kalau enggak disini, memang dimana lagi kamu mau nongkrong sehabis pulang dari Lampung coba?" Ujar Eriska, lembut.

"Dasar istri idaman," candaku, yang langsung dihadiahi sebuah cubitan sayang.

"Udah yuk, Pa, kita balik. Aku kan besok harus sekolah," pinta Cherry, yang kembali memelukku setelah menguap panjang.

Aku kembali mengiyakan permintaannya lalu berdiri sambil menggendongnya dalam pelukan.

"Ma," panggilku, saat kami sampai di depan mobil dengan cat hitam metalik.

"Apa, Pa?" Eriska, menoleh dengan wajah yang dihisi senyum.

Sebuah kecupan mesra aku daratkan ke pipinya yang seketika itu pula merona merah.

"Aku sayang kamu," ucapku.

"Apa sih Pa? Malu tau," ucapnya, manja.

"Kenapa harus malu? Kita kan suami istri. Lagian juga enggak ada infotaiment disini," kataku sambil membetulkan posisi Cherry yang sudah terlelap dalam gendongan.

Tanpa menggubris, bidadari surga itu masuk ke dalam mobil dengan wajah merona yang berseri-seri.

Dan, aku menutup hari ini dengan membelah jalanan macet ibu kota, bersama keluarga bahagiaku, tanpa cerita petualanganku di awal sore, yang aku simpan rapat dalam kotak rahasia tak tersentuh. Untuk selamanya.

IMG_20180529_040506.jpg

~Note: Cerita dibuat pada tahun 2014, dalam rangka ngisengin teman fb yang lagi kasmaran. Cukup berhasil membuat mereka mencak-mencak saat membaca cerita ini di wall group menulis fb.
Nama, kejadian, dan tokoh hanyalah fiktif belaka. Jika ada kesamaan berarti enggak sengaja.
~

Sort:  

Hahaha... Laki-laki dasar! Lucu ceritanya tapi yah itulah, sering banget terjadi yang serupa...

Emang lelaki itu... Makanya aku paling anti pacaran sama lelaki, Cyin... Uh yuk cap cus... :v

Wkwjwkkkk
Judulnya sama2 Iseng..
Ckvjckkk

Don't try this... :v

I'm curious! LOL😅😅

Kirain cerita beneran ehhhh ternyata cerita fiktif ya hehehe.
Ditunggu cerita lucu lainnya Bang @re-kun

Nanti yang benerannya... Yang penting udah terencana, walaupun satu juga belum punya... :v

Dasar yaaaa! Nakal! 😉

Namanya juga batboy...

Temennya batman... :v

Duuhh...Hobby banget ngisengin orang haha

Alhamdulillah... Itu bakat... :v

Rintihan seorang jones wkwkw

Sesama Jones merapat juga teh.getha
Ckvkckcjkk😄😄😄

Ssstttt... Sesama jones jangan saling meledek... :v

Sorry ye aku mah single :p

Yang sabar ya mas @re-kun hehe..😀😀
Ceritanya kereeeeeeeennnn pisan 👍👍👍👍

Sabar InshaAllah.... 😂
Makasih, Kang @imam03 😃

"Mas Arul, ini tunanganku, Arya," ucap Nisa sambil melirik tertunduk. "Abi, ini mas Reza, tadi ketemu di dalam bus,"

Ada kesalahan ya kayaknya. Ha-ha-ha (ketawa jahat)

Akhirnya ada yang sadar... :v

Gak ada gunanya, Kak, emoticonmu. Sungguh unfaedah, really.

Coin Marketplace

STEEM 0.05
TRX 0.32
JST 0.081
BTC 63253.25
ETH 1685.08
USDT 1.00
SBD 0.42