Selamat Hari Guru

in #life9 years ago

Hai Steemians..

Hari ini 25 November, diperingati sebagai hari guru. Hari guru nasional ini bertepatan dengan lahirnya Persatuan Guru Replublik Indonesia (PGRI). Guru adalah orang yang paling berjasa yang telah mengajarkan kita sejak usia dini. Pada kesempatan ini saya ingin menulis kenangan tentang guru-guru yang rekam jejaknya paling awet di pikiran saya. Mereka justru bukan dosen-dosen yang mengajar saya beberapa tahun lalu, yang paling terekam di ingatan saya justru guru-guru saya di sekolah dasar, beberapa dari mereka telah berpulang ke rahmatullah, namun jasa-jasanya tak pernah saya lupakan.


Photo pixabay


Saya ingat, Juni tahun 1981 saat itu umur saya tepat 6 tahun, saya sering main-main ke halaman sekolah dasar di kampung saya yang baru dibangun dengan dana inpres setahun sebelumnya. Sebuah papan tulis dipajang di teras sekolah berisi sebuah pengumuman tentang penerimaan murid baru. Ibu saya beniat memasukkan saya ke sekolah dasar di tahun depan dengan alasan belum cukup umur, saat itu anak-anak baru masuk sekolah dasar saat berumur 8 tahun dan sebelum sekolah itu dibangun, mereka berjalan kaki sejauh 2 km ke sekolah dasar terdekat yaitu di ibukota kecamatan.

Saya pulang ke rumah dan mengabarkan pada ibu saya, besoknya ibu langsung membawa saya mendaftar ke sekolah karena tidak tega melihat saya terus merengek. Sampai di sekolah, ibu kepala sekolah, beliau bernama Ibu Juairiah (semoga Allah melimpahkan rahmatNya kepada Almarhumah) menyambut saya dengan senyum, menyuruh saya menyentuh telinga dari arah atas kepala dan saya kecewa sekali karena saya gagal. Beliau tetap senyum; “tidak apa-apa, hampir sampai, nanti kalau muridnya kurang, ibu akan panggil kamu ya, jangan sedih”

Beberapa hari kemudian saya kembali melihat pengumuman nama-nama di papan tulis itu, saya pulang mengabarkan pada ayah. Saya langsung kembali ke sana bersama ayah dan alangkah senangnya kata ayah nama saya tertulis di situ. Rasanya lebih senang dibanding saat saya membaca nama saya tertulis di harian Serambi Indonesia saat pengumuman UMPTN di tahun 1993.



Seminggu kemudian saya masuk sekolah, disambut oleh Alm. Ibu Safiah, hari pertama beliau mengajarkan kami cara memegang pinsil, menulis angka satu hingga penuh satu halaman buku. Beliau membubuhi sebuah coretan seperti cacing di lembaran buku saya, saat pulang saya tanya pada anak kelas dua, satu-satunya kelas di atas saya, kata mereka itu artinya sebuah keabsahan bahwa apa yang saya tulis itu semua benar. Hari demi hari Ibu Safiah mengajarkan kami dengan sabar dan tekun hingga enam bulan kemudian kami mendapat kabar duka, beliau meninggal saat melahirkan karena terjangkit tetanus. Berita itu yang membuat saya tidak pernah takut setiap petugas imunisasi datang ke sekolah untuk memberi kekebalan terhadap penyakit tetanus, penyakit yang bernilai historis bagi saya.



Selanjutnya kelas diambil alih oleh Ibu Mariani, beliau sebenarnya guru agama, namun karena kekurangan guru akhirnya beliau juga mengajar di kelas satu, tentu saja tidak ada masalah bagi beliau, tohdi kelas satu kami hanya belajar menulis dan mengeja huruf dan angka, berbeda dengan anak-anak SD sekarang yang sudah siap tempur sejak kelas pertama. Beliau tetap mengajar pelajaran agama hingga saya kelas enam. Setelah itu beliau pindah ke Matang Glumpang Dua, daerah asalnya. Kelas dua kami diajarkan oleh Ibu Nurhayati, beliau cantik, tinggi semampai dan sangat baik, saya masih sering bertemu beliau, karena beliau sekampung dengan saya.

Kelas tiga dan empat jumlah murid semakin berkurang, beberapa orang tertinggal di kelas belakang karena seleksi alam. Di sini kami diajarkan oleh Ibu Guru yang sangat cantik dan tentu saja baik hati, namanya Ibu Sri Hartini, beliau cantik seperti artis FTV, rambutnya lurus sebahu digulung rapi, saya suka dekat-dekat dengan beliau, menghidu aroma parfum yang segar setiap beliau lewat di meja saya. Tulisannya sangat rapi dan tanda tangannya di rapor selalu saya pandang-pandang, cara beliau menulis SRI dan HARTINI pada tanda tangan sangat eksotik persis tanda tangan artis yang saya jumpa di instagram belakangan ini. Sayangnya, ketika kami naik ke kelas lima beliau menikah dan pindah ke Jakarta, ikut suaminya. Saya pikir beliau memang sangat cocok tinggal di kota besar seperti Jakarta, cantik, sederhana dan kekinian.

Kelas lima dan kelas enam, kami diajarkan oleh Bapak M.Jamil, satu-satunya guru lelaki di sekolah kami. Sampai sekarang saya masih bisa membayangkan intonasi beliau saat mengajar, ramah dan kebapakan. Sekarang beliau sudah lama pensiun, saya masih sering bertemu beliau di pasar ikan atau pasar sayur saat sama-sama belanja. Selalu bertegur sapa dan tidak lupa saya cium tangan. Selalu ada rasa haru yang berbeda saat kami bertemu, saya dengan rasa hormat dan terima kasih yang dalam, beliau dengan rasa bangga dan bahagia karena kami, anak-anaknya telah jadi orang.

Kenangan terakhir yang saya ingat di Sekolah Dasar adalah saat mengambil ijazah. Ibu Kepala Sekolah (Ibu Juairiah) memeluk dan mencium kami satu persatu. Matanya berkaca-kaca, seakan-akan kami akan pergi ke medan perang yang jauh dan ganas. Saat itu saya sangat sedih, tapi kasih sayang mereka membuat saya kuat, walaupun dari sekolah dasar inpres yang baru berdiri, saya mampu sejajar dengan siswa-siswa lain dari SD favorit saat di sekolah lanjutan. Terima kasih yang tak terhingga pada semua guru saya, yang telah membimbing saya hingga saat ini. Kepada semua Bapak dan Ibu Guru, SELAMAT HARI GURU.



Sort:  

Selamat hari guru...

Terima kasih @sazaliza sdh mampir

Selamat Hari Guru. Semoga Guru Indonesia semakin Bahagia.

Terima kasih, semoga dibaca oleh steemian yg berprofesi sebagai guru

Tanpa guru kita belum bisa apa-apa .. namun ayah dan ibu adalah guru pertama kita .. sebelum kita di berikan guru yang

Tanpa guru bagaimana kita ya bunda?

Coin Marketplace

STEEM 0.04
TRX 0.33
JST 0.103
BTC 64125.65
ETH 1860.94
USDT 1.00
SBD 0.39