Piknikku Kurang Jauh
Hai Steemians...
Terbebasnya Aceh dari konflik yang berkepanjangan seakan membebaskan juga jiwa-jiwa masyarakatnya yang selama ini terkungkung dalam ketakutan, kesedihan dan keresahan yang seakan tak berakhir. Perlahan tapi pasti Aceh terus menata diri, tempat-tempat wisata mulai tumbuh dan pengunjung tumpah ruah terutama pada hari-hari libur. Salah satu tempat favorit bagi masyarakat Aceh Utara, Lhokseumawe, Bener Meriah dan Aceh Tengah saat ini adalah spot wisata Gunung Sala atau sering disebut sebagai Gunung Salak. Gunung Salak ini berada di perbatasan Aceh Utara dan Bener Meriah. Di sini kita bisa menikmati pemandangan alam yang indah, pegunungan berawan dan berkabut.
Gunung Salak menjadi persinggahan bagi masyarakat Aceh Utara dan Lhokseumawe yang menuju Takengon dan sebaliknya masyarakat Bener Meriah dan Aceh Tengah yang menuju Kota Lhokseumawe. Masyarakat Aceh Utara dan Lhokseumawe yang sudah terbiasa ke pantai yang panas tentu saja ingin menikmati suasana yang berbeda, pegunungan, hawa dingin dan danau yang tenang menjadi pilihan tepat. Sebaliknya masyarakat Bener Meriah dan Aceh Tengah sudah terbiasa dengan pegunungan dan hawa dingin, memilih Kota Lhokseumawe yang punya beberapa spot pantai seperti Ujong Blang dan Pula Seumadu. Tidak heran jika sepanjang jalan yang dapat ditempuh selama kurang lebih dua jam dari Lhokseumawe ke Takengon kita menjumpai iringan mobil berlawanan arah baik saat pergi maupun pulang pada sore hari.
Ramainya pengunjung di jalur ini membuat tempat-tempat persinggahan semakin banyak dibangun di sepanjang jalan. Tempat-tempat ini menjadi tempat beristirahat sementara untuk makan minum sambil menikmati pemandangan alam dan tentu saja selfi.
Dampak positif dari kegiatan wisata ini antara lain masyarakat mempunyai tempat tujuan menghabiskan waktu liburan bersama keluarga dan bagi masyarakat di sekitar lokasi bisa menambah pendapatan. Namun dampak negatif juga tidak dapat dihindari. Terbukanya akses jalan mengakibatkan perambahan hutan di sepanjang jalan. Pohon-pohon ditebang dan bangunan-bangunan didirikan. Lahan beralih fungsi dari hutan menjadi lahan perkebunan dan permukiman.
Dampak negatif lainnya adalah kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan sangat kurang. Sampah-sampah berserakan di sekitar tempat-tempat persinggahan. Begitulah, masyarakat kita kurang piknik, ada kesempatan piknik itupun kurang jauh, cuma beda kecamatan atau beda kabupaten. Mungkin kalau piknik ke luar provinsi atau ke luar negeri kita akan bisa mencontoh bagaimana orang-orang luar menikmati alam dan menjaganya. Sedangkan kita di Aceh baru pada tahap pandai menikmati indahnya alam tapi belum sampai pada tahap pandai menjaga. Apa boleh buat, keshalehan sosial kita di bumi syariat ini masih di level itu.[]
Koeta Radja, 05 Februari 2018
Oh mak, ada di kuta radja tak bilang2 haha
Hahaha.. baru sampai komandan, belum sempat buat laporan
Akak di Banda sampai tanggal berapa? Masih di kediaman yang lalu?
Dinas Ai, hari ini aja, kemungkinan lgsg pulang sore ini
Omen lon hana trok2 lom u gunung salak nyan..
Omen.. nyan suwah jak ju keunan, hayeu meunan nah, hahaha
Posstingan yang menakjubkan @rayfa
Terima kasih
Di tunggu upvote nya.. Heheheh
Sayang sekali ya, banyak sampah. Wisatawan belum sadar lingkungan :(
Ya.. begitulah, wisatawan lokal, kalo wisatawan asing ngutip sampah di gunung dan di pantai, kita rame2 bawa sampah ke gunung dan pantai
Hana neupakat lon lago...
Nyan keuh, yg na pakat chit watee angkot bak u