Budaya Duduk Sinden
Pantas saja Jepang menjadi bangsa yang hebat. Soalnya, budaya duduk mereka adalah budaya duduk yang benar: sehat dan menyehatkan. Mereka membudayakan duduk simpuh—yang kemudian dikenal dengan sebutan duduk Jepang. Padahal, duduk ala Jepang ini dikenal pula oleh masyarakat Indonesia sebagai duduk sinden. Jadi hal ini bukan suatu hal yang baru. Bahkan (seharusnya) umat Islam lebih tahu tentang sikap duduk yang menyehatkan ini, karena sesungguhnya duduk Jepang adalah gaya duduk Nabi Sulaiman—yang kemudian menjadi salah satu gerakan dalam sholat. Sayang sekali banyak orang mengabaikan duduk simpuh.
Sesungguhnya, duduk simpuh adalah gaya duduk alami. Coba saja amati anak-anak bayi yang sedang belajar duduk. Sikap duduk pertama yang mereka lakukan adalah duduk simpuh. Sayangnya, sikap duduk yang sudah benar itu “dirusak” oleh orangtuanya sendiri. Kebanyakan orangtua mengajarkan anak-anaknya untuk duduk bersila.
“Padahal, bersila adalah duduk berhala,” kata A. M. Isran, BSC., AMD., PhD., saat bincang-bincang dengan saya di kediamannya, Perumahan Guruminda Bandung. “Bersila menimbulkan pengapuran dalam tubuh. Kalau pengapuran terjadi tanpa tindakan yang benar, maka pengapuran itu akan membatu seperti berhala.” imbuhnya.
Pakar Pijat Getar Syaraf dan penemu Senam Perkasa Indonesia ini menyebut duduk simpuh sebagai duduk pembakaran. Inilah sikap duduk terbaik dalam melakukan berbagai aktivitas seperti berzikir, berdoa, membaca, menulis, belajar, menonton televisi, makan, minum, dan kegiatan lainnya. Bila duduk simpuh selama 30 menit sehabis makan, maka makanan akan segera tercerna dengan baik.
Sesungguhnya, katanya, di dalam tubuh manusia terdapat sejumlah sensor, salah satunya adalah sensor pemanas tubuh/pembakaran yang terletak di pangkal telapak kaki atas, antara jempol dan telunjuk. Sensor pembakaran ini jika ditekan agak lama dan keras akan menimbulkan polarisasi medan magnet di telapak kaki sehingga terjadi konversi energi negatif menjadi energi pembakaran yang berguna untuk membakar asam urat, gula darah, asam laktat, kolesterol, crystal oxalate, dan racun tubuh di jaringan telapak kaki.
Ketika kita melakukan duduk pembakaran dengan benar, maka akan terjadi perubahan warna di telapak kaki kita, mulai dari ungu, biru tua, hingga hitam. Dan setelah benar-benar mengalami proses pembakaran, telapak kaki akan berwarna merah delima serta terasa hangat ketika diraba. Pada orang yang sedang terserang flu, pilek, atau keracunan obat, biasanya telapak kakinya akan terasa dingin, berkeringat, serta pucat, juga berwarna ungu hingga kehitaman.
“Lakukan duduk seperti ini secara statis atau tidak berubah seperti arca minimal 20 menit (nafas bebas) setiap hari agar kita mendapatkan kesegaran tubuh yang prima dan jauh dari berbagai penyakit.” Kata A. M. Isran, “Awalnya duduk seperti ini tidak nyaman, terutama bagi orang yang sedang sakit. Karena itu sebaiknya lakukan duduk ini sambil beraktivitas seperti menonton TV, membaca, bekerja di komputer, setrika pakaian, dan lain-lain, agar fokusnya tidak kepada rasa sakit, pegal, panas, dan kesemutan, pada saat melakukan gerakan statis ini,” lanjutnya seraya menyebutkan bahwa dirinya dengan Komunitas Senam Perkasa Indonesia terus berjuang untuk membumikan budaya duduk sinden yang menyehatkan itu.
Congratulations @rakhmatmargajaya, you have decided to take the next big step with your first post! The Steem Network Team wishes you a great time among this awesome community.
The proven road to boost your personal success in this amazing Steem Network
Do you already know that awesome content will get great profits by following these simple steps that have been worked out by experts?
Tulisan yang bagus @rakhmatmargajaya. Sedikit saran untuk mendukung tulisan ini agar mendapat apresiasi yang baik dari para Steemian:
Tambahkan Trending tag yang berkaitan dengan postingan ini, kita bisa membuat hingga lima tag untuk setiap postingan. Tag pertama dan kedua memiliki potensi untuk mengundang pembaca lebih banyak jadi pilih dengan bijak. Misalkan tag #indonesia #culture (tanpa tanda pagar).
Sebaiknya buat tulisan menjadi bilingual agar pembaca di luar Indonesia dapat turut mengapresiasi tulisan ini.
Sebaiknya setiap postingan memiliki minimal tiga gambar.