Happy Virus Called laughter
What a day!
Dalam perjalanan pulang tadi, seorang teman menghubungi, ada yang mau ditanya katanya. Palingan soal beasiswa, pikirku. Sampailah akhirnya merapat ke warung kopi di dekat rumah, berhubung anak mudi ini udah malas bawa motor lagi, dicarilah tempat terdekat yang bisa didatangin dengan mudah.
Diantara beberapa teman yang hadir, satu diantaranya asik ketawa aja. Semuanya jadi lucu dimatanya. Dari mulai aplikasi, jawaban dari berbagai pertanyaan yang harus si teman jawab, bahkan sampai makanan yang dipesanpun bisa dijadikannya candaan.
Menariknya, tertawanya saja sudah lucu, walaupun gak paham apa yang sedang ditertawakan, melihat cara dia tertawa cekikikan bikin kita ikut cekikikan pula.
Lain lagi seorang teman lainnya, setiap ketawa pasti pukul-pukul meja. Seolah semakin keras pukulan di meja tadi, semakin luculah hal yang ia tertawanya.
Setiap bertemu mereka, rasanya beban dan masalah terangkat sebagian. Seolah masalah sudah terselesaikan begitu saja. Padahal selesai ketawa, balik ke rumah, terfikir masalah, bebannya akan balik lagi 😂.
Berbagi kebahagiaan itu menyenangkan, tapi menyebarkan virus kebahagiaan, rasanya berlipat-lipat menyenangkannya. Setidaknya tidak hanya satu pihak yang bisa tersenyum bahagia, tertawa, raut muka ceria. Tertawa, seolah bertindak sebagai virus, yang ketika disebarkan oleh satu orang, ditangkap oleh sekitar, dan semua terjangkit penyakit tertawa ini.
Sebelum pulang, kukatakan pada si teman,
"besok-besok, kalau aku butuh tertawa, kuhubungi ya. Atau kalau kamu butuh kawan tertawa, ke tempatku saja 😀",
"Emang aku cowok apaan", jawab si teman, sambil tertawa. Yang lain pun tak bisa menahan diri.
Sah, sekalinya ke tempat ini, bikin gaduh, besok-besok g kesini lagi kayaknya 😀
Posted from my blog with SteemPress : http://www.rahmanovic27.com/2018/08/13/happy-virus-called-laughter/
Karena tertawa memang menyehatkan jiwa raga
terapi tertawa menebar kebahagiaan
Mir, ajak2 kakak ya kalo sedang butuh ketawa, karena kakak juga butuh, kapan pun. Haha.