Mie Daging Hadiah Lempap
Hari meugang sudah usai 48 jam lalu dan hari ini sudah lebaran kedua Idul Adha 1439 H. Pun hewan Qurban sudah disembelih, dan dagingnya sudah dinikmati oleh mereka yang berhak. Sekilas saya akan berkisah ulang tentang secuil cerita yang masih ada kaitannya dengan Festival Meugang tempo hari yang diadakan di Peunayong.
Dalam acara tersebut tidak kebetulan seorang teman saya terlibat dalam struktur panitia, dia yang bernama Iskandar Ishak alias Tungang, alias Lempap dipercaya untuk merancang panggung hingga beberapa dekorasi lainnya. Tentu setumpuk daging akan menjadi jatahnya. Singkat cerita, semua acara Festival berakhir sudah.
Lalu, kami kembali ke kediaman secara tidak serentak. Jelang sore hari, kami baru berkumpul di tempat biasa. Ada banyak waktu yang sudah kami habiskan dengan beragam aktivitas, mulai menggosip, menulis, berdiskusi seputar politik, hingga main game. Akhirnya datang juga, dialah Lempap yang selanjutnya akan menjadi penyumbang mie daging.
“Siapa mau makan mie daging?,” tawar Lempap sembarang. Itu tawaran yang menarik, dan tidak ada seorang jamaah pun menolak tawaran itu. Seorang anak muda asuhan Lempap segera diutus untuk mengambil pesanan. Tanpa basa-basi, perintah segera dilaksanakan. Menunggu mie daging datang, kami melanjutkan diskusi tanpa notulensi.
Setengah jam berlalu, mie pun datang dengan ditenteng. Diskusi mulai buyar hanya karena mie daging yang sudah di depan mata. Soal membuka bungkusan mie, kebanyakan kawan-kawan tidak harus menunggu perintah dari Lempap. Mereka sudah pandai sejak dulu. Satu persatu bungkusan mie digelar di atas meja di depan jamaah.
Ada satu kendala kecil untuk memulai, di tempat kami sendok sangat terbatas jumlahnya. Terpaksa dengan tiga sendok saja kami harus memulai acara, selebihnya segala sesuatu yang bisa menghantar mie ke mulut akan digunakan juga. Alhasil, gerakan yang awalnya malu-malu berakhir dengan tanpa rasa malu. Karena selain mie daging memang enak, perut juga terasa lapar selepas diskusi.
Satu suap, dua suap, hingga bersuap-suap sudah kami habiskan secara bergantian. Kini hanya tinggal daun dan bungkus mie daging saja di atas meja. Seorang teman berinisiatif untuk membersihkan, agar diskusi tanpa tema bisa kami lanjutkan. Tanpa terasa, kumandang adzan magrib pun terdengar, dan semua bubar tanpa arahan.


