Meninggalkan Kampung Halaman
Kampung halaman adalah penting bagi setiap orang yang memilikinya. Bagi yang tidak punya, berharaplah ada bagian bumi ini yang kelak akan dinobatkan sebagai kampung halaman.
Pentingkah kampung halaman?. Bagiku itu penting, karena kampung halaman adalah tanah tempat aku tumbuh besar. Di atas tanahnya aku berdiri dan berlari bersama teman-teman sepermainan. Di atas tanahnya jua aku melukis masa kecil yang tidak pernah hilang dan tidak lekang dimakan waktu. Kisahnya akan kubawa kemanapun aku pergi, dan tetap tersimpan rapi dalam ruang hati. Di sana ada kisah duka yang mesti kutelan, dan ada kebahagiaan yang akan kukenang.
Ini aku tulis semalam, 24 Mei 2021, sebelum aku beranjak kembali ke perantauan. Aku memang sering meninggalkan kampung halaman. Itu sejak aku kecil, remaja, dewasa bahkan hingga kini saat aku benar-benar telah beranjak tua. Aku meninggalkannya bukan bersebab aku benci atau ingin menjauh darinya. Aku memilih meninggalkannya karena aku meyakini bahwa ada sesuatu di luar sana yang harus aku datangi. Boleh jadi itu tempat yang belum aku singgahi, boleh jadi pula itu adalah sahabat yang sekarang belum aku kenali. Bahkan beribu alasan lain yang patut kutuliskan namun belum menjadi kenyataan.
Tentu sudah lazim menyiapkan segala kebutuhan adalah penting, baik untuk di perjalanan maupun kebutuhan di tempat tujuan. Untuk itu beberapa baju dan celana aku tempatkan dalam tas yang hanya mampu menampung dua lembar celana dan tiga lembar baju saja. Pun demikian, beberapa barang kecil lain kupaksa untuk muat agar barang-barang tidak nongol dan berceceran di luar. Alhasil, tas menjadi bengkak seperti kaki penderita asam urat.
Pagi hari aku bangkit lebih awal, di atas kasur segala kebutuhan untuk berangkat pun sudah kuletakkan di sisi ranjang. Pintu kamar kubuka, segera aku ke kamar mandi. Oya, sebelumnya selembar handuk warna coklat peninggalan ayahku sudah kuambil dari jemuran di depan rumah. Beberapa gayung air kusiram ke badanku. Tak lupa kuoles sabun dan kubasuh kembali. Pun menggosok gigi sudah kulakukan dengan teliti sesuai anjuran iklan di televisi. Kurang dari sepuluh menit semua rutinitas mandi mampu kuselesaikan dengan baik.
Segera aku ke kamar dan bergegas mengenakan pakaian. Penanda waktu sudah menunjukkan pukul 10.15 menit kurang. Artinya sebentar lagi aku akan segera meninggalkan rumah tempat dimana aku tumbuh, keluarga dan kampung halamanku yang sudah banyak berubah dibanding masa kecilku dulu. Semua barang kuangkat, satu kutaruh di pundak kanan dan satu lagi kujinjing dengan tangan kiri. Perlahan namun kumelangkah meninggalkan teras rumah dengan Bismillah...
Seperti biasa aku menunggu angkutan yang belum kupesan di warung depan milik Wak Mail. Berharap angkutan cepat datang dan jangan sampai berjam-jam lamanya.
Alhamdulillah, umpama pikirku. Tidak lama menunggu angkutan pun datang, dan dengan agak kerepotan aku menyeberang jalan menuju angkutan. Di dalam mobil hanya ada beberapa orang saja. Kurasa hanya empat orang saja. Semua mereka duduk di kursi tengah dan depan. Agar leluasa dalam perjalanan, aku katakan kepada sopir, sebaiknya aku menempati kursi belakang saja. Tentunya, di posisi demikian akan tidak banyak mengganggu turun naik penumpang.
Tepat jam 11.05 WIB angkutan yang kutumpangi melaju cepat ke arah barat. Untuk menghilangkan rasa bosan, aku memilih rebahan saja. Mudah-mudahan aku bisa tertidur selama perjalanan. Bagiku, duduk di bangku mobil sangatlah menjenuhkan, apalagi jika dalam angkutan bertemu dengan orang yang berbicara keras-keras. Mungkin saja orang ini berpikir bahwa dalam mobil hanya dia seorang saja. Alhamdulillah...orang yang demikian tidak ada kali ini.
Jelang sore hari, angkutan sudah merapat ke terminal. Jika dihitung, waktu tempuh kurang lebih enam jam saja. Ini waktu standart angkutan umum untuk jarak tempuh 272 km jauhnya. Aku memilih untuk tidak diantar, aku memesan gojek saja pikirku. Selain bisa menghemat waktu, ongkosnya pun tidak terlalu bengkak, hanya 1000 saja untuk perjalanan 7 menit ke tujuan. Karena aku mendapat promo.
Perjalananku hari ini berakhir di Chek Yuke pinggir kali Krueng Aceh. Di sana beberapa teman yang sedari tadi kuhubungi pun sudah dengan gelas kopinya masing-masing. Aku segera ikut serta setelah memesan kupi pancung. Kami semua larut dalam cengkrama, dan kami masih jauh dari kampung halaman.
@pieasant_walking while studying
Alhamdulillah, Masih punya kampung halaman yg berarti Masih ada kesempatan utk selalu "pulang".
Alhamdulillah...begitulah...