Mendengar Kabar Duka dari Jauh

in Steem SEA5 years ago (edited)
Assalamu’alaikum semuanya, semoga selalu dalam keadaan sehat walafiat dan bahagia.

• • • IN MEMORIAM • • •

Layaknya manusia yang bersosialisasi, aku pun punya satu grup organisasi semasa aku kuliah dulu. Aku menyebutnya grup Atmaka Arga Arcala. Lewat grup inilah hari ini aku mendengar kabar duka tentang meninggalnya seorang ayah. Beliau adalah ayah dari adik letingku, juga juniorku yang punya nama asli Fauzan Sabri alias Kiree. Ia junior yang loyal dan tinggi akan jiwa pengabdiannya.

Fauzan Sabri alias Kiree (duduk di kiri)
Kabar duka pertamakali disampaikan boleh @only.home. Begitu aku membaca pesan yang dimulai dengan “Innalillahi wainnailaihi rajiun” aku seketika terdiam tak bisa berkata apa-apa di tengah kesibukanku menyelesaikan gubuk bambu nun jauh dari tempat duka. Sejenak aku termenung mengenang masa-masa dengan almarhum yang kukenal giat dalam hidupnya. Orang tua itu aku panggil Cut Rih.

Pernah pada satu masa aku senantiasa menghabiskan waktu di pinggir hamparan sawah sembari memandang matahari terbenam di balik Goh Leumo. Di sana pula aku lazim melihat almarhum menenteng karung dengan sabit di tangan kanannya. Saban sore ia mencari rumput di pematang sawah untuk sapi peliharaannya. Seingatku, lebih dua kali aku pernah berkunjung ke kandang sapi miliknya.


"ALMARHUM CUT RIH DIKENAL RAMAH, HUMORIS DAN MUDAH BERGAUL DENGAN SEMUA USIA."

Usai memotong segoni rumput seringnya ia tak langsung pulang. Begitu melihatku, ia pun menghampiri. Karung dan sabit ditaruh begitu saja di sisinya. Kami pun mulai berbicara banyak tentang apa saja tanpa diawali oleh mukadimah yang bertele-tele dan membosankan. Seingatku pula ia senang bernostalgia tentang masa mudanya yang terbilang pahit kala itu. Ia harus kerja banting tulang disela-sela ia kerja menjual beras pada orang lain. Usai berkeluarga ia pun memilih bertani dan beternak saja.

Terkadang Cut Rih turut membawa serta sapinya ke hamparan sawah usai dipanen. Sapi-sapinya ia lepas begitu saja sejak pagi hari, jelang petang ia pun duduk di pematang denganku sambil menanti sapinya pulang ke kandang. Pernah satu dua kali ia terpaksa harus mencari sapinya karena hingga lepas magrib sapinya belum juga terlihat diantara kerumunan sapi yang lain. Lepas waktu isya ia baru kembali ke rumahnya usai ia kandangi sapi-sapinya.

Kini sosok yang aku kagumi di Gampong Lamtimpeung, Tungkop, telah pergi menghadap sang khalik pada 25 Juli 2021 dini hari, sekira pukul satu lebih beberapa menit. Ia adalah panutan sekaligus guru dalam kehidupanku. Kini aku hanya bisa mengenang sosoknya yang ramah dan murah hati. Selamat jalan guru, semoga dirimu diridhai oleh Allah SWT. Dan semua kami kelak pasti akan mengikuti jalanmu jua. Alfatihah...

Kullu nafsin zaikatul maut,” begitulah sejatinya ujung perjalanan setiap manusia yang bertebaran di bumi Tuhan.

Catatan: Semua foto adalah foto kenangan yang pernah diposting di platform ini.

Wassalamu’alaikum...


Terimakasih atas dukungannya.

@pieasant_walking while studying

Sort:  
 5 years ago 

Innalillahi wa innailaihi raji'un.. Turut berduka cita bg..

Inna lillahi wa inna ilaihi raajiun.
Turut berduka cita.

Semoga amal ibadah almarhum di terima di sisi Allah SWT

Innalillahi wa innailahi raji'un

وَلِكُلِّ اُمَّةٍ اَجَلٌۚ فَاِذَا جَاۤءَ اَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُوْنَ سَاعَةً وَّلَا يَسْتَقْدِمُوْنَ

Coin Marketplace

STEEM 0.04
TRX 0.33
JST 0.101
BTC 64198.23
ETH 1820.91
USDT 1.00
SBD 0.38