Mempedomani asmara Lenon dan Lenin
Dengarlah wahai steemian yang budiman kisah-kisah penuh inspirasi yang dapat kau jadikan pedoman hidup penuh onak duri ini. Kau bisa mengambil hikmah dari cerita-cerita masa lalu, pertengkaran kucing dan tikus di rumahmu, perkelahian suami-istri tetanggamu dan tentu saja, kisah para nabi dalam agamamu.
Kau juga dapat mendengar lagu di radio lokal yang memutar nada-nada haru tentang asmara yang kandas dan menusuk jiwa. Si penyanyi spesialis sedih itu sangat membantu menenggelamkan jiwamu ke dasar sedih tak berbatas. Baik sekali bagi jiwamu yang sedang baper.
Di luar semua itu, aku punya kisah yang kukarang-karang untuk mengantar tidurmu. Kisah ini berat sekali kurangkai. Karena aku bukan cerpenis. Tapi semoga menjadi motivasi bagi asmaramu.
Berikut kisahnya:
Lenon dikawinkan selepas menamatkan kuliah S2-nya. Ia dijodohkan dengan dosen magang yang untuk ukuran laki-laki di kampung kami, bisa dikategorikan tak menarik perhatian jika pandang. Dosen magang itu kemanan-mana bercelana kain bahan warna hitam yang kuat sekali menyerap keringat. Jika dua hari tak dicuci, bau keringat muncul dalam bentuk bau tak sedap. Tak sedap itu beda bagi setiap orang, ya.
Dosen honor itu cinta benar dengan baju batik lengan panjang. Dengan tas selempang warna hitam yang isinya entah apa, ia memakai sepatu kulit warna hitam berdebu karena jarang disemir.
Lenon yang putih agak pendek, mau saja dijodohkan. Lenon bukan tipe pemilih dalam hal jodoh. Ia memandang pria sama kedudukan di matanya. Mirip-mirip keberadaan kita di hadapan hukum.
Berumahtanggalah Lenon dan dosen magang yang aku tak tahu namanya itu. Cinta tak butuh banyak. Kebersamaanlah yang mereka butuhkan.
Sehari-hari Lenon di rumah dan melayani suami yang dosen magang itu. Karena bahagia, Lenon dan dosen magang itu kian berisi tubuhnya.
Perlu kau ketahui, semasa kuliah, Lenon punya pacar yang menurut kawannya keren. Ia seorang aktivis BEM. Aktivis kampus yang mengurus banyak hal. Dari urusan orang ditangkap karena mesum sampai melawan pihak kampus yang menjajah. Sesuai sekali dengan namanya, Lenin.
Mereka berpacaran dari tahun pertama masuk kampus. Cara mereka Pacaran, menjadi pedoman bagi adik-adik kelas; santai dan banyak cuek-nya.
Karena terlalu sibuk sebagai aktivis, Lenin lupa tugas utamanya berbahagia berdua saja memadu kasih. Memadu kasih bukan berarti ngamar berdua dan ngesex, ya. Mereka bisa berpacaran di taman kota, di aksi demontrasi dan saat mengikuti kuliah umum bapak penguasa kampus.
Lenin lupa tugas mulia pacaran. Lenon gak mengomentarinya. Ia sibuk menyelesaikan kuliah. Hingga Lenon diwisuda, Lenin telah menjadi pejabat organisasi kepemudaan sayap sebuah partai. Tugasnya makin padat dan tiada waktu memikirkan cinta. Cintanya tercurah pada organisasi dan rakyat. Dalam kepalanya hanya ada "rebut kekuasaan!".
Hingga menjadi anggota dewan di sebuah kabupaten, Lenin bertemu Lenon di sebuah hotel dalam rangka tugas berbeda. Lenin menyapa Lenon persis saat sebuah mobil berhenti di pintu masuk hotel. Lenon tersenyum pada Lenin seperti senyum dulu. Manis dan menusuk. Sembari masuk duduk di samping Si dosen magang. Suaminya itu berkata pada Lenin:
"Bang Lenin. Kami duluan, ya"
"Siap, adinda!" Lenin mengepalkan tangan ke udara.
Terik siang itu luntur hanya menyisakan bau asap mobil Lenon dan suaminya.
S E L E S A I
catatan: kalau di pelajaran bahasa Indonesia SMA, kamu akan diminta mencari amanat dan pesan moral yang bisa dipetik dari karangan di atas. Tapi di sini tidak