Menikmati secangkir kopi
Kopi sudah menjadi bagian dari keseharian. Menikmati secangkir kopi di pagi hari dan sore hari, bagiku sudah menjadi ritus yang wajib kulakukan. Ibarat beribadah jika aku melewatkanya seperti ada yang kurang dan rasa gelisah turut menyertainya. Kenikmatan mulai dari memasak air, mengaduk sampai kuhidangkan untuk diriku sendiri, menjadi semacam cara melakukan ritus tersebut. Sore itu tepatnya pukul tiga, setelah semua pekerjaan rumah selesai, seperti hari sebelumnya aku nikmati kopi di teras depan kamarku. Matahari sore yang redup, hangat dan cahayanya masuk di antara celah jemuran pakaian, seolah menambah kenikmatan ngopi sore itu.
Aroma kopi yang kuhirup sebelum menyeruputnya, menambah semangatku ditengah kegundahan hati menjalani hidupku yang belum tentu arahnya ini. Berbicara soal kegundahan hati, yang kumaksud di sini bukan soal memikirkan pacar atau pasangan. Bukan!!! Kegundahan hatiku ini selalu timbul ketika aku memikirkan pencapaian yang sudah aku dapatkan dalam usiaku yang sudah menginjak 24 tahun. Belum ada yang bisa kubanggakan pada ibuku sampai umurku yang sudah menginjak seperempat abad ini. Kegiatanku sehari-hari hanya membantu pekerjaan rumah, karena sampai saat ini surat lamaran yang aku kirim di berbagai perusahaan belum mendapat tanggapan, setelah semua pekerjaan rumah selesai kunikmati secangkir kopi. Secangkir kopi kuanggap sebagai upahku setelah menyelesaikan semua pekerjaan rumah. Menjemur baju, membersihkan kamar mandi, membayar berbagai tagihan dan menyeterika baju, itulah pekerjaan rumah yang kumaksud. Terkadang aku merasa iri dengan teman-temanku yang sudah mendapatkan pencapaian yang diinginkan di usia yang sama sepertiku. Iri dalam hal seperti ini tidak masalah kan, toh untuk memotivasi diri sendiri.
Salam @nurstee