Follower and Fan
Follower dan fan itu berbeda. Follower, hanya sebatas mengikuti. Sementara fan itu adalah metafora, arti yang sebenarnya adalah kipas angin. Jadi seorang fan itu akan mendinginkan seseorang yang dibela atau disanjungnya dengan sepenuh hati. Seorang fan itu akan melakukan dengan ikhlas kepada seseorang yang ia sukai atau cintai. Misalnya mengkampanyekan calon presidennya tanpa dibayar dan disuruh, bahkan sebelum masa kampanye tiba. Atau seorang fan Real Madrid di Buloh yang jauh hari telah mempersiapkan sedikit uang untuk menonton pertandingan el classico di kedai minum di kota sana, tengah malam lagi nontonya, ikhlas begadang, mencurahkan waktu dan sedih jika timnya kalah dari Barcelona. Fan itu masih seakar dengan kata fanatik. Dan seorang fan tentu saja akan fanatik. Ada yang fanatik pada calon presiden, artis, partai politik hingga pemain tenis. Aku hanya sebatas follower saja, tidak lebih, dulu aku menyukai petenis cantik Maria Sharapova, artinya jika tidak nonton siaran langsungnya juga tidak apa-apa. Seorang fan itu jauh lebih berharga ketimbang seribu follower. Jika ada kampanye, massa perlu dibayar per orang, misalnya 50 ribu per orang, nah, artinya massa yang dibayar itu follower bukan fan(fanatik). Pendukung timnas sepakbola rela antri berjam-jam bahkan berhari-hari untuk mendapatkan tiket pertandingan timnas, jika tidak dapat jatah tiketnya mereka kecewa, menangis bahkan cenderung anarkis, nah, pendukung ini namanya fan(fanatik) bukan follower.
Aku menjadi fan dari sebuah partai? Amit-amit, jangankan fan, follower saja ogah, partai itu kan hanya pabrik uang(money factory), celana dalam, sempak, thong. Kalaupun harus memilih saat pemilukada nanti, aku memilihnya berdasarkan sisi kepribadian bacaleg, bukan berdasarkan warna kolornya atau isi dompetnya, namun hanya sebatas mencoblos; bukan fanatik; bukan follower. Sisi kepribadian seseorang itu lebih kuat ketimbang rasa fanatik di dalam hati kita sebagai pemilihnya. Kepribadian yang palsu itu disebut pencitraan, pencitraan yang asli itu dinamakan kepribadian yang palsu; kepribadian yang sejati itu tidak dapat dipalsukan maupun dicitrakan.
Oh iya, tadi aku meninjau petanian mikro seorang teman, dia berambut gimbal. Tanaman halia, prosesnya agak sedikit merepotkan jika melakukannya sendiri. Dalam karung itu isinya adalah tahi lembu yang sudah diaduk dengan tepung dolemik(pupuk) terasi, sekam, dedak. Pada malam Minggu yang lalu kami berada di sebuah cafe, ia menyanyikan lagu yang berjudul: Hingga akhir waktu. Aku rasa maksud ia menyanyiakn lagu ini ini adalah menunggu waktu hingga tanaman halianya panen. Yang bisa menyelamatkan ekonomi bangsa Indonesia bukanlah ahli ekonomi cumlaud lulusan Harvad, Manchester atau Cairo University tapi petani micro atau pedagang ekonomi usaha micro. Mereka adalah para pemengang cangkul atau tengkulak-tengkulak yang berserakan di sepanjang jalan.
Nyaman sekali rasanya jika pada malam Minggu memakai kain sarung, sejuk. Trutama kain sarung format film Bluray, lengkap dengan subtittle-nya. Aku mengenal teman perempuan di FB, ia sering mengirimi aku pesan di inbox. Tadi aku mengirim sebuah pesan untuknya "Ini malam Minggu, biasanya aku ke kota, ke sebuah cafe untuk menikmati musik akustik, apa kita bisa bertemu untuk segelas kopi sambil mengobrol?" Tak lama kemudian ia membalas "Sebnarnya aku ingin, tapi aku sudah ada janji dengan cowokku, lain kali saja, ya."