Kenangan KKN


KKN= Kalon-Kalon Nanggroe
Sebagai mahasiswa, saya sangat sadar bahwa mengikuti KKN adalah sebuah kewajiban. Pun belum lengkap rasanya menjadi mahasiswa kalau belum mengikuti dua hal, yang pertama Ospek dan yang kedua adalah Kuliah Kerja Nyata, atau KKN. Sangat disadari bahwa KKN adalah salah satu tujuan dari Tridarma Perguruan Tinggi yaitu pengabdian masyarakat. Berhubung menjadi mahasiswa semester akhir maka KKN adalah keniscayaan.

Memang tak pernah terbayangkan,bagaimana KKN akan saya lakonkan sampai sebulan. Tak pernah tergambarkan sedikitpun akan seperti apa lokasi, dan suasana. Cukup sederhana, yang penting ikut saja, dan meyakinkan diri agar mampu mengabdi dengan setulus hati. Kalon-Kalon Nanggroe (Melihat-lihat Negeri) pun dimulai.

Dan kini tak terasa KKN telah usai. Memang tampaknya akan perlu banyak kertas untuk menceritakan tentang bagaimana kami menjalani KKN, melewati ke 30 hari tersebut. Banyak cerita, suka dan duka. Hal paling membekas di ingatan adalah hari pertama tiba. Hari dimana bus mengantarkan kami ke lokasi tujuan yaitu ke Desa Seupeng, Kemukiman Beurandang, Kecamatan Cot Girek, Aceh Utara. Masih sangat kental dalam ingatan, dengan perasaan tak menentu, kami saling bertatap, bertanya-tanya dengan sesama, kemana kita akan diantar? Tak sedikit dari teman-teman yang meluncurkan kata “kemana kita akan dibuang?”
“Dibuang“, pernyataan yang mungkin terdengar berlebihan. Bahkan bisa dikatakan agak “Ceu-Ceu Ek”. Namun rasanya tidak berlebihan jika kami harus mengatakan bahwa yang kami rasakan selama KKN kebanyakan adalah kondisi menyedihkan, kondisi yang bertahun-tahun bahkan berpuluh tahun telah duluan dirasakan masyarakat disana, masyarakat Cot Girek.

Bila melewati jalan Medan-Banda Aceh, dan berhenti di Lhoksukon (ibu kotanya Aceh Utara), maka bertandanglah ke Cot Girek, sebuah kecamatan di Aceh Utara yang pernah tersohor dengan Pabrik Gulanya yang megah dan Perusahaan Perkebunan (PTPN 1) yang ikut berdiri di tanah yang subur itu. Namun apa kabar dengan daerah ini kini? Tak ada yang istimewa di daerah ini selain berhektar-hektar kebun sawit yang membentang. Jalanan berbatu dan rusak parah. Tanah-tanah gersang yang begitu luas menerbangkan debu tebal sepanjang jalan. Parahnya lagi kekeringan sedang melanda. Sumur-sumur dan sungai telah kering, berbau, dan berwarna kehitaman. Air adalah barang super mahal. Untuk menggosok gigi saja perlu membeli aqua. Memang, selama disana, kami belajar untuk terbiasa tidak mandi pagi. Jatah hanya satu kali mandi untuk sehari, itupun harus mandi di irigasi, tempat mandi berjamaah yang multifungsi, dimana tumpukan cucian, kerbau dan sepeda motor pun dibersihkan disitu.

Begitulah. Betapa menyedihkannnya kehidupan desa-desa di Kemukiman Beurandang, Kec.Cot Girek tersebut. Internet disana adalah barang langka. Salah satu titik sinyal internet yang kami temukan adalah di samping toilet mesjid. Maka untuk mengirim satu email saja, kami harus duduk berlama-lama disamping toilet agar jaringan tidak keburu hilang. Dan, ketahuilah, bahwa di Desa Seupeng ini jangankan kantor desa, bahkan Meunasah saja belum ada. Disini, anak-anak perempuan menikah di usia yang masih sangat-sangat muda, bahkan ada yang seusia saya sudah memilki 3 atau 4 orang anak. “Keupu tajak sikula, meu peng pih tan“(untuk apa sekolah, uang pun tak ada ), begitulah ujar mereka. Pendidikan masih belum menjadi sesuatu yang begitu diinginkan.

Saudara-saudara, inilah wajah Aceh, khususnya Aceh Utara. Padahal Cot Girek tak tergolong cukup jauh bagi Ibukota Aceh Utara. Namun kondisi Cot Girek masih belum merdeka. Perusahaan Perkebunan Sawit yang telah lama beroperasi disana, hanya bisa mengirimkan limbah, mencemarkan air, dan mengotori lingkungan setiap waktunya. Upah lamban dibayar, dan bantuan jarang diberikan. Sementara, Pemerintah mungkin juga hanya tutup mata.

Demikianlah sedikit curahan hati saya selaku mahasiswa. Dengan KKN ini, setidaknya saya bisa melihat lebih dekat, betapa banyak orang-orang tak beruntung di sekitar kita. Maka ada baiknya, sering-sering lah untuk “Kalon-Kalon Nanggroe”. Karena dari situ, kita akan melihat betapa banyak pelajaran hidup tersimpan bahkan di tempt-tempat yang awalnya tak kita harapkan.
Dan, Terimakasih banyak saya ucapkan kepada keluarga angkat saya, Kak Limah yang baik Hati dan Bang Ibnu yang sangat mengayomi. Terimaksih untuk kebersamaan dari kawan-kawan KKN Kelompok 45. Meski sulit, semangat tetap 45 ! Terimakasih untuk hari-hari yang penuh kebahagiaan ini. Sampai ketemu lagi, We Are Family!
Lhokseumawe, 21 April 2015.
steemit♨
@aiqabrago @sweetsssj @ririn @dsatria @puncakbuki @mukhtar.juned @levycore @zainalbakri @yahqan @amun @steemvest17 @mariska.lubis @joseph @apprentice001@amryksr @cqf @muammar @meysam@racii @rismanrachman @yogaunimal @feruz @isteemit@ @maysteem @good-karma
Wasalam @muzahit
