Apa Kabar Kak?
Kita semua pernah merasakan betapa bahagianya waktu itu. Memiliki seorang adik yang imut, cengeng, dan mudah tersinggung. Adik juga memiliki seorang kakak yang sering mengalah dan baik hati. Tidur sekasur bersama adik atau adik yang tidur sekamar dengan kakak.
Dalam kesehariannya, hampir dari setiap hal dilalui bersama-sama, mulai dari bermain dalam satu tim, makan sepiring berdua, bergantian sabun mandi, mengaji bersama-sama, bahkan adik yang manja itu punya peluang untuk mengenakan pakaian kakak.
Di usia enam tahun, seorang kakak sangat peduli kepada adiknya yang berusia tiga tahun itu. Pantang adik menangis, selalu ada kakak yang senantiasa mengalah demi mengutamakan keinginan sang adik. Sebuah roti cokelat pemberian teman si kakak yang siap dimakan, rasanya kurang enak kalau adik hanya melihat-lihat saja dengan mata terbelalak.
Ketika usia delapan tahun, adik dipukuli oleh teman di sekolah, sang kakak yang mengenyam pendidikan pada sekolah yang sama, akan datang sebagai seorang kakak sejati yang siap membela adiknya.
Keduanya tumbuh dewasa.
Kakak telah menjadi seorang calon ayah, dan telah memiliki rumah sendiri di seberang lautan. Dan adik yang lajang masih menetap di rumah peninggalan orang tua.
Akibat suatu jarak, sang adik berencana menjual lagi sebagian harta warisan. Namun untuk kali ini sang kakak tidak akan menuruti keinginan adiknya untuk menjual tanah warisan orang tua. "Lebih baik jangan dijual! Akan sangat sulit untuk kita beli yang lain. Kau bisa membangun rumahmu di situ." Ucap kakak dengan penuh pertimbangan.
"Kau tidak mengerti kak, aku sangat membutuhkan uang itu!" Sang adik berupaya untuk tetap menjualnya. Tak ada pilihan lain. Dan adik tetap memutuskan untuk menjualnya.
Ada perselisihan yang terjadi antara kakak dengan adik. Hingga masing-masing memiliki alasan tersendiri. Saat itu keduanya sepakat untuk melanjutkan hidup masing-masing sembari menyatakan bahwa kita bukan lagi saudara.
"Ingat ya! Jangan lagi mengapku sebagai adik kandungmu," kata adik di saat itu. Kakak pun tidak mau mengalah.
"Jika kau tetap menjualnya, aku takkan mengapmu sebagai adikku lagi. Jangan pernah ke rumahku! Bahkan di saat aku sakit." Balas kakak.
"Tak akan!" Telepon dimatikan.
Seiring berjalannya waktu, adik yang merasa kurang bernasib baik mulai menjual satu per satu harta warisan orang tua, dan kakak yang berada jauh dari kampung halaman, tidak mendapatkan bagiannya. Jika di antara keduanya saling belajar betapa bahagianya di masa lalu. Sungguh hal itu tak akan terjadi. Kesempatan untuk selalu menjalin tali persaudaraan telah tiada. Keduanya tidak sanggup memahami perbedaan.
Suatu pagi yang sunyi, sang kakak menghadap Illahi. Air mata tak akan mampu membawanya kembali.
Kakaaak
Pengaruh naleung suci, kakak 😂
tragis, karena harta putus tali persaudaraan
Demikian yang terjadi. Membangunnya lebih sulit daripada merobohkan.