Manusia dan Kegilaan
Manusia memang aneh, hingga dunia akan kiamat pun, manusia tetap berperilaku aneh. Tak peduli dari kelas sosial apapun, keanehan tetap saja keanehan. Itulah manusia, sejenis binatang yang paling sulit dipahami.
10 simpanse di rimba yang luas, tidak akan mengobarkan perang yang mengancam jiwa simpanse lainnya. Tapi lima orang manusia yang berkumpul, bisa membumihanguskan kehidupan di negeri seberang pulau. Bila binatang membutuhkan alasan tertentu untuk mencintai atau membenci, manusia justru sebaliknya.
Seorang teman bisa saja tidak bisa dijadikan teman, seorang yang asing bisa serta merta menjadi teman. Sungguh suatu yang membingungkan. Itulah manusia. Untuk itu pula, dalam ilmu hukum saja, harus diciptakan berbagai disiplin ilmu pendukung, hanya untuk memahami dan mengatur kehidupan manusia di dalam kehidupan sosial.
Dalam satu keyakinan saya, manusia bisa bertikai, konon lagi ketika berbeda agama. Dalam satu agama saja manusia bisa saling membunuh, konon lagi ketika Tuhannya berbeda-beda. Mereka akan saling mengintimidasi. Siapa saja yang kuat akan menjadi penyakit bagi yang lemah, yang jumlahnya banyak akan menjadi ancaman bagi yang berjumlah sedikit. Saling melindungi hanya adalah dalam rumusan kitab suci, tapi sangat sulit diimplementasikan dalam praktik sehari-hari.
Saya berkesimpulan bahwa agama adalah sesuatu yang baru, sedangkan godaan (setan/iblis) lebih tua dari keyakinan. Bagi iblis manusia adalah ladang maniverstasi masa depan di yaumil hisab. Satu-satunya misi iblis adalah mencelakan manusia, dengan berbagai cara. Seseorang yang alim akan dicelakakan dengan kealimannya. Si jahil akan dibuat kecalaka dengan kejahilannya.
Banyak manusia yang mengira dirinya sudah beriman, sudah beramal saleh, sudah berbuat baik, sudah berkorban untuk agama, tapi sesungguhnya ia adalah kader-kader iblis yang telah sukses dibelokkan, sedangkan si manusia itu tidak tahu.
Pernahkah Anda menemukan bahwa tiba-tiba seseorang sangat membenci Anda, padahal kalian tidak saling kenal? Ataukah seseorang sangat mencintai Anda, padahal kalian tidak saling kenal?
Itulah dunia, manusia yang tiba-tiba membenci Anda padahal tidak saling kenal, sejatinya tidak mebutuhkan alasan apapun untuk membenci dan menyebarkan kebencian. Ia hanya butuh pemantik, baginya satu saja kabar bohong yang bisa merusak citra Anda, sudah cukup menjadi alasan bahwa Anda adalah musuhnya.
Demikian juga sebaliknya, seseorang hanya butuh sedikit saja cerita baik, agar dia bisa mencintai Anda tanpa alasan. Bahkan bila Anda mendapat kritikan atau berperilaku di luar kebiasaan, maka merekalah yang akan membela Anda mati-matian, dengan mengabaikan fakta.
Bagi kedua jenis manusia itu, fakta tidak penting, kebenaran bukan ukuran. Karena bagi mereka persepsi merekalah yang benar. Maka tidak jarang, manusia seperti ini kerap "mampu" membaca isi hati orang lain, dengan kemudian menerjemahkannya sesuai keinginan. Perihal menerjemahkan orang lain, sesunggihnya sangat bergantung pada kadar intelektual. Bisa Anda bayangkan bila yang menerjemahkan Anda adalah tukang zina, maka Anda akan dipersepsikan seperti dirinya.
Begitu juga ketika Anda diterjemahkan oleh manusia yang dalam kesehariannya selalu menipu, maka Anda akan dipersepsikan sebagai penipu. Bila Anda diterjemahkan oleh tukang pembuat kabar bohong, maka Anda yang menulis akan dipersepsikan seperti dirinya yang selalu memproduksi kabar bohong.
Orang yang kerap menjadikan agama sebagai lahan untuk mencari keuntungan duniawi, juga akan gemar menuduh orang lain telah memperjualbelikan akidah demi uang. Orang-orang yang demikian sangat lihai membaca kutipan kitab suci dan sabda, tapi dalam perilakunya selalu menebarkan ketakutan dan kabar bohong.
Keyakinan agama saya telah melarang manusia untuk menilai manusia dari pakaian dan omongan. Karena kedua hal itulah manusia kerap berkamuflase. Agama saya memerintahkan agar manusia dikenal lewat perilakunya sehari-hari. Untuk itu rekam jejak merupakan sesuatu yang wajib bila kita hendak menilai seseorang.
Agama saya kerap memerintahkan agar manusia berperilaku adil, tidak boleh bersikap zalim.
Jangan tertipu dengan pakaian, karena sesungguhnya itu bisa menipu. Orang jahat bisa berpenampilan sangat salih di depan publik. Orang baik tentu akan berperilaku baik di mana saja. Cara paling mudah untuk membedakan adalah: Kalam orang baik selalu meneduhkan.
Sungguh mengerikan kalau dipersepsikan jauh dari kenyataan. Tapi nyan donya mandum .. tetaplah berjalan digarisan yang semestinya, biarkan masing-masing dengan persepsi mereka karena kita tidak mungkin mengontrol jutaan kode genetik dalam otak mereka untuk dapat meluruskan segalanya
Pohon kelapa dan pelepahnya selalu memiliki persinggungan. Kecuali yang hanyut dibawa air sungai.
Setuju, bravo 👍
Hambo.
Aci hambo ata jeh sigoe. Hehehe.
Ata toh?
Hahaha.
Nah kembali lagi pada penampilan ini. Penampilan seseorang memang sangat berpengaruh besar terhadap sesuatu ya bang @muhajir.juli. Menilai seseorang dari luarnya saja tidak cukup! Lihat lah aktivitas keseharian seseorang, jangan menilai seseorang dari luarnya saja.
Penampilan bagian dari warna dunia.
Dan hari ini pemboman terjadi... Hedeh capek deh! Memang butuh kegilaan untuk mengubah dunia!
Masih banyak yang harus dibenahi.
Ini jaman di mana Tuhan dipaksa mengikuti kebenaran mereka 😀
Ketika agama digunakan untuk mencari kekayaan melalui jalan bathil.