Pesona Bunga Anggrek Ungu Loreng
Pagi ini bunga anggrek di rumah saya mekar sempurna, warnanya ungu dan putih, motif bunganya loreng mirip kulit harimau.
Saya nemu dia pas buka pintu belakang, masih ada embun nempel di kelopaknya.
Anggrek itu nggak rame-rame, cuma dua tangkai. Tapi cukup buat bikin seluruh sudut jadi hidup.
Ungunya lembut, bukan yang mencolok.
Putihnya bersih, kayak pagi yang belum disentuh suara apa-apa. Dan lorengnya—halus, nggak beraturan, mirip kulit harimau yang sembunyi di balik daun. Anehnya, corak liar itu malah bikin dia terlihat paling tenang.
Saya jadi ingat, nggak semua yang indah harus simetris dan rapi. Kadang yang paling menarik justru yang tumbuh sesuka hatinya, di pot kecil, di tempat yang nggak banyak orang lihat. Dia nggak buru-buru mekar. Dia nunggu waktu yang pas, diam-diam nyerap air dan cahaya, sampai akhirnya hari ini dia bilang: “Aku siap.”
Melihatnya bikin saya pelan-pelan.
Nggak ada notifikasi, nggak ada deadline. Cuma saya dan bunga yang mengajarkan kalau kesabaran itu bentuknya bisa berwarna.
Mungkin kita juga seperti itu.
Kita kira kita biasa saja, nggak istimewa, nggak layak dipajang. Padahal kalau dikasih waktu dan ruang yang cukup, corak yang selama ini kita anggap aneh bisa jadi bagian paling cantik dari diri kita.
Pagi ini saya nggak butuh hal besar buat merasa baik. Cukup satu anggrek yang mekar, dan rasa tenang yang ikut mekar bersamanya.
Salam kompak selalu.
By @midiagam





