[FIKSI] Munajad Cinta
Source
Mendapatkan gelar sarjana bukan hal yang sulit baginya, bukan berarti tidak ada hambatan dalam kehidupan sehari-hari.
Zahra sudah kehilangan kasih sayang kedua orang tuanya sejak ia berumur 7 tahun, keduanya meninggal dalam tragedi kecelakaan maut yang merengut nyawa keduanya. Sejak saat itu ia di asuh oleh pamannya hingga saat ini. Kini ia di sudutkan dengan polemik pernikahan.
Gadis malang itu merebahkan tubuhnya di tempat peristirahatan namun suara percakapan bibi dan pamannya terdengar olehnya dengan jelas.
Nikah kan saja Zahra dengan anak pak haji ya pak !
Pinta bibinya merayu sang suami.
Ah ! Ada ada saja ibu ini, bapak nggak setuju Zahra menikah dengan laki laki yang sifatnya gak jelas itu
Jawab pak Rudy dengan suara tegas.
Sedangkan zahra hanya bisa menangis sambil mengadu nasib kepada Sang khaliq.
Ya Allah ! Saya ikhlas dengan semua ini, namun berilah saya sedikit tenaga agar mampu menghadapi dan melewati ujian-Mu
Curhat Zahra, kepada Rabbnya.
Angin malam yang sunyi menyapa tubuhnya dengan syahdu seakan mengajak hati yang pilu tenggelam bersama malam yang sunyi.
Setelah menyelesaikan shalat subuh, ia membantu bibinya di dapur dan menyelesaikan segala pekerjaan rumah sebelum ia berangkat bekerja di pabrik teh milik pak haji Syamsuddin, saudagar kaya raya yang ramah dan dermawan.
Lain halnya dengan keluarga haji Syamsuddin atau yang lebih akrab di sapa pak haji itu. Pak haji yang di segani dan di hormati oleh semua kalangan masyarakat setempat, sedang sibuk membicarakan perjodohan putranya.
Ma! Papa, sudah bicara dengan pak kiyai, katanya ! Beliau sangat setuju jika Fahri menikah dengan Zahra, tutur pak haji kepada istrinya. Mama juga setuju, semoga ini menjadi yang terbaik untuk anak kita ya pa ?
Sambil menyuguhkan kopi kepada suaminya bu haji tersenyum bahagia seakan kabar bahagia itu akan terjadi esok, keduanya saling meluapkan kebagian masing-masing, dengan tawa lepas di wajahnya.
Ma !
Sapa Fahri yang baru saja sampai di rumah.
Nak ! Kemarilah,
Ajak bu haji dengan raut wajah masih tersenyum.
Kayaknya ada pembicaraan yang serius ni
Sambung Fahri sambil duduk di samping ibunya.
Nak, malam ini kami sangat bahagia
Sambung bu haji sambil mengulus pundak putranya.
Apa gerangan yang membuat mamaku tercinta sebahagia ini
Sambil meraih tangan ibunya Fahri mencium telapak tangan kanan ibundanya.
Kami sudah melihat wanita untuk kau nikahi nak, dan akan melamarnya untukmu dengan segera
Spontan saja raut wajah Fahri berubah seakan emosinya tidak bisa terkontrol.
Terus saja ma ! Paksa aku dengan kehendak mama, atur hidup Fahri sesuka mama
Ia bangun sambil terus berbicara dengan tiada kesopanan kepada kedua orang tuanya.
Ma ! Saya bukan anak kecil lagi, yang harus mama persiapkan segala keperluan saya
Sambil meraih kunci mobil yang ia letakkan di meja, Fahri berlalu meninggalkan keduanya.
Dengarkan mamamu dulu Fahri, teriak pak haji kepada Fahri, yang telah masuk dan menutup pintu kamarnya.
Kapan Fahri boleh memilih jalan hidup sendiri ? Heuuhh ?
Sambung Fahri yang berada di kamarnya.
Lihat anak itu, tidak ada sopan santunnya terhadap orang tua. Mau jadi apa dia nanti tambah pak haji dengan geram, sedangkan bu haji terlihat seperti orang hilang semangat di raut wajahnya.
Bersambung....
Salam Steemian Indonesia 💫
~Keep writing~
Salam Sahabat Inspiratif

