Laki Laki Penuh Luka.

in #indonesia8 years ago (edited)


Sumber


Perjalananku masih jauh, namun penat butuh rehat. Tempat pilihanku adalah bukit persinggahan.

Memilih warung pinggir jalan yang menyediakan jajanan air kelapa muda terasa pas untuk menyegarkan dahaga.

Tak ada yang terlalu istimewa disini, disisi kiri dan kanan hanya warung warung berderet, bangku bangku terlihat kosong sore itu. Sementara rak rak jualan mie dan beberapa makanan berupa snack mengisi kedai kedai tersebut rapi.

Posisi di atas perbukitan mungkin jadi pilihan strategis untuk jualan. Mereka bertahan dengan omzet pas pasan, mengharap beberapa tamu singgah seperti aku adalah sebuah kehormatan nampaknya, pelayanan nan ramah dan tempat yang bersih memberi kenyamanan tersendiri.

Nilai lebih inilah yang ditawarkan, mereka seperti paham benar dengan marketing dan membuat brand, Pelayanan cepat dengan senyum menjadi sebuah daya tarik tersendiri.

Karena Perjalanan lintas, tempat ini sering kusinggahi. Ada ruang bebas dari tempat duduk yang disediakan, lampu lampu kecil di gubuk gubuk singgah itu menandakan bila malam tiba, tempat ini jadi tongkrongan penduduk sekitar. Sementara ada Baliho Calon Bupati yang tegak di seberang jalan, dengan tangan menunjuk ke atas dan berpeci hitam, gagah layaknya poster Sukarno.

Tiba tiba di depanku berdiri Lelaki Paruh Baya, tersenyum dan tanpa basa basi mengambil tempat tepat didepanku. Menarik nafas dalam berat, lalu ketika pelayan Warung tiba, "Kopi Pancong dan bawa Samsu Black sebungkus" Ujarnya.

Melihat sekilas sepeda motor yang kuparkirkan dengan tas ransel, dia beralih menatapku dan memulai percakapan.

Untuk menjaga rasa sopan, aku melayaninya, kumasukkan HP kekantong dan arah pembicaraan tak lepas dari pada darah, tahanan dan senjata.

Seorang Pejuang, batinku. Aku terlalu biasa berhadapan dengan mereka yang menghina diri sendiri, ujung ujungnya sebungkus rokok atau Uang.

Namun yang satu ini beda, Ada risau tentang Bangsa yang makin mundur, Ada pertanggjawaban moral atas nama perjuangan. Ada kritikan tentang Partai Lokal yang kehilangan taji dan kepercayaan.

Ideologi masih sangat kental terpapar jelas dari ucapannya, luka senjata bekas tembakan dan penganiayaan lalu tunjukkan, luka phisik banyak tempat namun sebenarnya aku melihat ada luka bathin yang menganga lebar, aduhai Lelaki penuh Luka.

Tegukan kopi yang tersaji, asap lalu mengepul dari rokoknya, lalu berpaling dan tersenyum mengharap aku memberi sedikit komentar, nampaknya menjajaki kapasitas lawan bicara dan pembenaran dari kerisauan diri.

Kami masih memiliki kebanggaan atas bangsa, masih percaya Partai Lokal adalah salah satu jalan Politik dalam perjuangan, namun yang menyakitkan adalah Kepercayaan rakyat dikhianati secara terang benderang oleh segelintir penguasa atas nama darah para anak yatim dan janda.

Lalu "Mirah" hanya slogan yang mengusik rasa sakit para pengungsi dan korban kekerasan. Menggerakkan kembali hati yang terlanjur benci berubah cinta itu berat.

Ada kecenderungan manusia memilih jalan baru dengan pemimpin pemimpin baru dari pada percaya dengan keangkuhan dan kesombongan dari pada penguasa yang melihat rakyat adalah pelayan mereka.

Berharap pada manusia itu menyakitkan, amanah tidak pernah sejalan, rakyat korban konflik tetap menjadi minoritas dan terbuang. Kepedulian sesaat tak lebih dari pada mengejar proyek dan keuntungan pribadi dan kelompok.

Lalu mereka para petani, pelaut dan pedagang masih saja kebingungan pada harga barang kebutuhan yang semakin sulit terjangkau.

Tidak Ada terobosan yang jitu, dalam memutus mata rantai kemiskinan, terlepas dari karakter Rakyat Yang selalu mengganggap diri keturunan Raja raja hebat ataupun sikap mental yang selalu mendamba dana hibah bahkan sebagian mereka masih bersikap "awai mat go bede pakon teuma harus mat lom go catok" (red : Dulu pegang senjata kenapa sekarang harus pegang Gagang cangkul).

Lelaki penuh luka tersentak dan diam dengan kalimat terakhir tersebut.
Memerah mukanya menahan emosi namun tarikan nafas dalam dan berat bergegas beranjak berdiri, persis sama semula dia datang.

"Kupi dan rokok biar saya selesaikan, aduen". Lelaki itu Tersenyum dan berterimakasih, bayangannya perlahan pergi meninggalkan aku kembali sendiri.

Kuambil Hp dan kusibukkan diri dengan postingan baru di Steemit yang belum juga kelar, di ufuk barat temaram senja perlahan menabur gelap, warna orangenya pekat lalu lampu lampu di gubuk gubuk itu mulai dihidupkan.

Coin Marketplace

STEEM 0.04
TRX 0.33
JST 0.104
BTC 64621.25
ETH 1928.65
USDT 1.00
SBD 0.37