Studio Rimba Raya [1]

in #indonesia8 years ago

Setelah perangkat radio diserahkan ke Komandan Divisi X, Kolonel Husein Yusuf, maka pemasangan perangkat dilakukan di kawasan kebun karet di Krueng Simpoe, Kecamatan Juli, Kabupaten Bireuen. Pertimbangannya, kawasan Krueng Simpoe berada di area perbukitan, dikelilingi sungai .


Kolonel Husein Yusuf.jpg

Foto Kolonel Husein Yusuf | Dok TNI AD

Namun tidak diketahui pasti kawasan perbukitan mana yang dipasang pemancar. Abdul Rasyid Juli, menantu Kolonel Husein Yusuf, menyebutkan kawasan pemancar radio berada di areal perkebunan karet. Pria sepuh ini tidak menerima informasi dimana detail letak lokasi pemancar tersebut.

Sedangkan studio siaran dibangun di salah satu kamar di Pendopo Bupati Bireuen saat ini. Letaknya di Jalan Mayjen (Purn) T Hamzah Bendahara, Kota Bireuen. Persis berada di kompleks alun-alun kota.

Salah satu kamar pendopo itu lalu dijadikan studio siaran. Koneksi antara pemancar dan studio terhubung kabel terpaut sekitar enam kilometer.

Kolonel Husein Yusuf tidak hanya mengizinkan siaran itu digunakan untuk kepentingan militer. Namun juga digunakan untuk memutar lagu-lagu menghibur rakyat.

Terkadang siaran itu digunakan untuk menyampaikan maklumat-maklumat dari gubenur militer, presiden, wakil presiden atau pejabat tinggi lainnya. Saat itu, radio ini diberinama Suara Merdeka .

Ketika studio berada di pendopo ini, agresi militer I Belanda baru dimulai. Serangan demi serangan Belanda beberapa kali pernah mengancam keberadaan pemancar radio. Siaran radio dengan menggunakan signal calling suara Indonesia itu pun lalu dipindahkan ke Cot Gue, Kabupaten Aceh Besar.

Fokus utama serangan Belanda yaitu menghancurkan pemancar radio. Mereka mulai memprediksi tower radio di kawasan Krueng Simpo. Hal itu ditandai beberapa pesawat pengintai Belanda pernah melepaskan tembakan dan bom ke kawasan itu. Meski tidak mengenai pemancar radio, namun kondisi itu patut diwaspadai.

Karena itu pula, pemancar radio itu sesegera mungkin dipindahkan ke Cot Gue, Aceh Besar. Saat agresi militer II, Belanda, ketika pemerintahan jatuh jatuh ke tangan Belanda dan harus mendirikan Pemerintah Darurat Republik Indonesia di Sumatera Barat, radio di Cot Gue dan RRI Banda Aceh ini berperan penting menyuarakan bahwa pejabat Indonesia tidak semuanya berhasil ditangkap.

Hanya Presiden Sukarno, Wakil Presiden Muhammad Hatta dan sejumlah menteri yang saat itu berada di Yogyakarta ditawan oleh Belanda. Selebihnya, pemerintahan dikendalikan dari Sumatera Utara.

REFERENSI

Wawancara Abdul Rasyid Juli, di Bireuen, 24 September 2017

Murdeli. Cerita Kamar Sukarno dan Studio Radio Rimba Raya. Atjehpost.co, Banda Aceh, 29 September 104


MASRIADI.gif

Coin Marketplace

STEEM 0.04
TRX 0.32
JST 0.074
BTC 64420.03
ETH 1680.07
USDT 1.00
SBD 0.42