Semangat Merdeka dan Revolusi [7]
Seruan dari para ulama ini membangkitkan semangat masyarakat Aceh untuk bersatu melawan penjajah. Apalagi, pernyataan ulama yang menyatakan melawan penjajah sama dengan melawan kafir, membuat perjuangan menegakan kemerdekaan menjadi perjuangan suci yang harus dilakukan oleh semua Islam di Aceh.
Dampak nyata dari seruan itu yakni terbentuknya sayap militer Mujahidin Divisi Tengku Chik Ditiro. Pasukan paramiliter ini umumnya berasal dari kalangan santri dan ulama di seluruh Aceh.
Dari sini terlihat efektivitas surat kabar untuk menggelorakan semangat mempertahankan kemerdekaan di Aceh. Sehingga, tidak ada keraguan bagi siapa pun melakukan perlawanan kepada Belanda yang mencoba kembali menduduki tanah jajahannya Indonesia.
Isu Ekonomi
Ali Hasjmy dan seluruh jajaran redaksi Harian Semangat Merdeka tampaknya paham benar, bukan hanya persoalan politik dan penguatan identitas kebangsaan yang dialami negeri yang baru merdeka tersebut.
Namun, persoalan ekonomi juga menjadi kendala tersendiri. Untuk itu, sebagai harian umum, maka isu-isu ekonomi pun kerap menjadi perhatian media massa ini. Tentu, seluruh isu tetap ditulis dalam sudut pandang politik. Mengingat misi utama koran ini sebagai penjaga perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Untuk isu ekonomi, bisa dilihat edisi Kamis, 25 Oktober 1945, halaman dua surat kabar tersebut. Pada edisi itu mereka menulis judul “Uang Republik Indonesia Akan Segera Dikeluarkan”.
Dalam konteks pemilihan diksi, kata –akan- yang digunakan pada judul tersebut menandakan bahwa uang Republik Indonesia tersebut baru sebatas wacana. Belum diberlakukan. Dari sudut pandang nilai berita, isu itu tentu sangat penting bagi masyarakat Aceh dan Indonesia. Hal ini mengingat penggunaan mata uang sebelumnya yaitu mata uang belanda NICA (Netherlands Indies Civil Administration) masih digunakan sebagai alat tukar yang sah.
Dalam berita itu ditegaskan bahwa Wakil Presiden Mohamad Hatta telah mengirimkan telegram (surat) kepada Komite Nasional Kutaraja yang isinya berbunyi mata uang yang sah yaitu uang yang dikeluarkan oleh Javashe Bank dan uang Nipon Jepang.
Dalam konteks propaganda, pernyataan Mohammad Hatta tersebut menegaskan bahwa republik yang masih bayi ini sanggup menjalankan roda pemerintahan dan ekonominya secara berdaulat. Selain itu, berita tersebut tentu menghapus skeptisme sebagian kecil masyarakat tentang kemampuan pejabat Indonesia untuk menjalankan roda perekonomian dalam sebuah negara berdaulat.
Selain itu, khusus untuk mata uang Nippon Jepang yang masih berlaku, dapat ditafsirkan bahwa Indonesia menghormati masa transisi dimana sebagian besar pasukan Jepang masih berada di Aceh dan menunggu jadwal pemulangan ke negara asalnya.
Sedangkan pelarangan mata uang Belanda menegaskan Indonesia tak akan membuka ruang kompromi untuk menerima penjajah tersebut kembali ke bumi nusantara.


wah, luar biasa pernyataan ulama ini...
"Pernyataan ulama yang menyatakan melawan penjajah sama dengan melawan kafir, membuat perjuangan menegakan kemerdekaan menjadi perjuangan suci yang harus dilakukan oleh semua Islam di Aceh."
Allahuakbar..
betul betul
Kesadaran lama yang terus bertahan dalam budaya orang aceh, jangan pernah menyentuh nilai-nilai aqidah, dong beukong!
betuuuul
Meutamah gagah wateu meunan abi arza
hahha urueng shit ka gagah dr jameun wakkaka
Sekali merdeka tetap merdeka..
Kalau kata AC, merdeka dalam tanda kutip..
begitulah kira kira