Menyapu Jalanan | 2

in #indonesia8 years ago

computer-3204251_960_720.jpg

Namun, mendengar jawaban Yin hatinya lega. Sang putra belum berpikir malu pada lawan jenis. Artinya, dia masih anak-anak sesungguhnya.

Bagi Yin, membantu orang tua adalah pekerjaan mulia. Meski ayahnya pegawai negeri sipil, menghidupi anak dan sebagian keluarga yang menetap di rumah tentu butuh uang besar. Itu pula yang membuat Yin semangat berjualan.

“Yang penting halal kan mak?”

“Iya. Apa pun yang kamu kerjakan yang penting halal. Jangan mengemis, tangan di atas lebih mulia dibanding tangan di bawah,” sebut Dawiyah sembari mempergakan tangannya seperti orang memberi sedekah. Yin pun tersenyum. Mengangguk paham.


Sore itu, Yin buru-buru merapikan sepatu dan baju sekolahnya. Aturan wajib rumah itu, selepas pulang sekolah, sepatu harus diletakan di teras, persis di sudut kanan rumah. Sedangkan baju dan celana disangkutkan pada belakang pintu kamar.

Jika tidak menyangkutkan sesuai aturan, maka tunggulah lengkingan teriakan Dawiyah. Mendengar lekingan keras itu semua putra di rumah itu akan kecut. Bagi yang bersalah harus segera mendekat dan merapikan pakaian atau sepatu.

Usai merapikan bajunya, Apridar pun bergegas ke dapur. Di sana, senyum Dawiyah menyapu lelahnya.

“Makan dulu Yin. Di meja ada ikan, jangan lupa sisakan buat adikmu.”

Tanpa menjawab, Yin menarik kursi. Di bawah tudung saji terlihat bayam rebus, ikan tongkol sambal goreng. Penganan khas yang disukainya.

“Boleh ambil dua potong ikannya mak?”

“Boleh. Jangan lebih, sisakan untuk Caca.”


MASRIADI.gif

Coin Marketplace

STEEM 0.05
TRX 0.32
JST 0.078
BTC 66534.83
ETH 1775.30
USDT 1.00
SBD 0.42