Mendorong Afirmatif untuk Aceh
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI sejak dua tahun lalu membuat program pendidikan afirmatif khusus untuk Provinsi Papua dan Papua Barat. Program itu memberikan beasiswa dengan nama Afirmasi Dirjen Pendidikan Tinggi Putra Putri Asli Papua (ADIK Papua). Tujuannya membererikan beasiswa khusus untuk siswa asal dua provinsi tersebut untuk melanjutkan pendidikan di 32 perguruan tinggi negeri (PTN) Indonesia.
Rektor Universitas Malikussaleh (Unimal) Aceh, Prof Dr H Apridar SE M Si mendorong agar program yang sama diberikan untuk Provinsi Aceh. Pasalnya, sampai saat ini Aceh masih tercatat sebagai salah satu daerah tertinggal. Kualitas pendidikan di provinsi paling ujung Pulau Sumatera itu pun tak kunjung membaik.
“Lihat saja kawasan barat dan selatan Aceh, kawasan tengah juga mengalami kendala yang sama yaitu minimnya fasilitas pendidikan. Kondisi ini juga dialami Papua dan Papua Barat. Ditambah lagi, Aceh bekas daerah konflik sudah seharusnya diberlakukan program afirmatif,” terang Apridar.
Dikatakan, dirinya sudah mendorong program tersebut ke Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Kemendikbud. Diharapankan, Aceh juga bisa menjadi salah satu provinsi yang diberlakukan program afirmatif.
Selama ini, sambung Apridar, rata-rata sebanyak 749 siswa asal Papua dan Papua Barat mendapat beasiswa afirmasi dan kuliah di 32 PTN Indonesia. Program itu, sambung Apridar sangat baik untuk meningkatkan sumber daya manusia di provinsi bagian timur Indonesia tersebut. Penerima beasiswa afirmatif ini bisa juga kuliah pada perguruan tinggi milik kementerian di Indonesia. Pemerintah menanggung biaya penuh untuk mereka kuliah.
“Bayangkan, jika program ini diberikan untuk Aceh, maka tak kurang 700 siswa asal Aceh akan kuliah ke PTN dalam dan luar Aceh. Ini asset masa depan Aceh yang harus terus di dorong,” terangnya.
Permintaan itu sambung Apridar telah disanggupi oleh Wakil Ketua MPR RI Ahmad Farhan Hamid baru-baru ini. Farhan berjanji akan mendesak Kemendikbud memberlakukan program tersebut untuk Aceh. “Kita ingin agar Kemendikbud segera membuat program afirmatif ini untuk Aceh. Sehingga, anak-anak korban konflik yang berprestasi bisa melanjutkan pendidikan tinggi, baik itu di Unimal atau universitas lainnya di Indonesia,”harap Apridar.
Setiap kali pertemuan dengan pejabat Kemendikbud, sambung Apridar, dirinya selalu mengingatkan agar afirmatif segera diberlakukan di Aceh. “Upaya saya ini juga perlu didukung oleh semua pihak di Aceh, baik itu pemerintah maupun DPRA. Sehingga, pada akhirnya program itu bisa diberikan untuk Aceh,” ujarnya.
Kini, sambung Apridar, dirinya komit untuk mendorong program afirmatif itu. Sehingga, satu hari nanti, sambung Apridar seluruh putra-putri terbaik Aceh bisa melanjutkan pendidikan tinggi. Menekan angka putus sekolah tentu sebuah cita-cita mulia yang harus didukung oleh semua pihak. “Semoga upaya saya ini segera terealisasi dan seluruh anak Aceh ke depan bisa mengeyam pendidikan di perguruan tinggi,” pungkas Apridar. [MS]
Not > Kiliping WartaUnimal
Kegiatan ini sangat positif sekali, perlu terus digalakkan.
Program yang sangat bagus pak..