Memungut Puing Jalanan | 8
Apridar tersenyum melihat koin berharga itu. Buru-buru dia memasukkan koin itu ke kantong celananya. Begitu juga Ahyar.
Setelah itu, mereka singgah ke warung penjual es lilin. Apridar membeli lima, dia berencana membagikan es itu untuk Caca dan Bang Ir.
Mereka pun bersiul-siul, berjalan santai menuju rumah. Melintasi lapangan kosong yang digunakan tentara untuk bermain bola. Di seberang lapangan, mereka melewati ilalang dan sejurus kemudian tiba di rumah.
Caca gembira bukan kepalang melihat es lilin itu. Dia meminta diberikan dua es lilin, sedangkan Bang Ir menanyakan dari mana uang membeli es itu.
“Tenang Bang. Ini uang halal. Kami mengajarkan anak sekolah dasar menulis,” sebut Ahyar menutupi apa yang mereka lakukan.
“Anak siapa, dimana rumahnya?”
Irwandar memberondong keduanya dengan segudang pertanyaan. Sementara keduanya sibuk menikmati es lilin itu.
“Abang mau tidak, kalau tidak kuhabiskan es ini?” ancam Apridar.
“Enak saja. Sini.”
Mereka pun tertawa melihat Irwandar mengambil es lilin lalu berjalan menuju rumah.