Idiologi Media [24]
Selanjutnya, ketika media ini sedang menetap di satu ideologi, tingkat anutannya tidak dalam. Artinya, ideologi tidak dianut secara ketat. Apa yang menjadi klise kemudian adalah ketika dikategorikan ke dalam “media pragmatis”, awak medianya kemudian menyangkal bahwa ideologi media yang digunakan adalah demokrasi, sementara acap kali karena tarikan kepentingan yang ada media-media seperti ini memilih memublikasikan berita dengan bingkai yang menguntungkan elite, bukan pencerdasan masyarakat. Ini biasanya banyak diulas dalam kaitan antara media dengan kapitalisme.
Cengkeraman kapitalisme atas media dapat dibaca dari banyak kasus dan hasil penelitian. Salah satunya pada bagaimana media pasca-Orde Baru membingkai pemberitaan mengenai isu “kebangkitan komunisme” atau “PKI sedang bangkit”, suatu framing pemberitaan yang tak bedanya dengan media-media di masa Orde Baru.
Walaupun rezim Orde Baru saat ini sudah tumbang, sebagian besar media masih terbawa cara pandang khas ideologi Orde baru. Alih-alih menghadirkan wacana alternatif yang jernih mengenai isu komunisme, media justru menguatkan tafsir resmi yang selama puluhan tahun dipaksakan Orba, yakni dengan meneguhkan kembali gambaran komunisme yang anti-Tuhan, pembantai, pemberontak yang amat sadis dan barbar, tanpa menunjukkan usaha yang bersifat kritis dan dekonstruktif”.
Apa yang ingin dicapai media dari pemberitaan seperti ini adalah rating berita, di mana media bisa membaca emosi sebagian besar orang terhadap PKI atau komunisme lalu memublikasikan teks-teks yang juga melanggengkan beberapa pengetahuan keliru mengenai hal tersebut. Semakin banyak pembaca, semakin memungkinkan pendapatan yang lebih besar bisa diraih.
baca juga
H. Karomani, “Pengaruh Ideologi terhadap Wacana Berita dalam Media Massa”, Mediator, Vol. 5, No. 1, 2004.
I am very glad to see your post .. you have a picture and digital is amazing .. you are also very serious in working…