Corong Militer [3]
Sjafroeddin tiba di Banda Aceh pada 23 Agustus 1949, atau bersamaan pelaksanaan KMB di Den Haag, Belanda. Rute yang dipilih yaitu dari Jogjakarta ke Jakarta seterusnya ke Sabang, Aceh. Dari Sabang ke Banda Aceh, Sjafroeddin menaiki kapal perang Van Galen milik Belanda dibawah pengawasan PBB menuju Pelabuhan Ulee Lheu, Banda Aceh.

Setiba di Banda Aceh, dia berkantor di Meuligoe Aceh bersama sejumlah pejabat republik yang ikut serta. Sedangkan pelaksanaan KMB sendiri delegasi Indonesia dipimpin oleh Wakil Presiden RI, Muhammad Hatta, Residen Aceh, TT M Daudsjah serta sejumlah pejabat Indonesia.
Dari Banda Aceh, Sjafroeddin mempersiapkan seluruh pejabat negara dengan kemungkinan KMB gagal. Maka, perang akan berkecamuk kembali dan pejabat serta rakyat harus siap menghadapi kemungkinan terburuk itu.
Bahkan dalam sambutannya di halaman Masjid Raya Baiturrahman, Sjafroeddin mengungkapkan posisinya sebagai perdana menteri. Naik satu tingkat dari wakil perdana menteri.
Berikut petikan pidato Sjafroeddin di depan puluhan ribu rakyat Aceh itu:
...Setelah Yogyakarta dipulihkan. Saya diangkat sebagai Perdana Menteri berkedudukan di Banda Aceh. Rupanya, saya diwajibkan untuk menyaksikan perundingan di Den Haag dari tengah-tengah rakyat Aceh, yang sanggup apabila perundingan itu gagal, meneruskan perjuangan.
Jadi, rupanya semuanya itu sudah ada rencana dari yang di atas. Bukan dari pemerintah pusat, tetapi dari yang lebih atas lagi, yang lebih berkuasa. Saya memang lambat laun dalam perjuangan ini mesti mengakui bahwa diatas segala rencana, diatas segala perhitungan manusia, ada rencana lebih besar, yang akhirnya tak bisa kita elakan, kita kesampingkan dengan rencana dari akal manusia.
Jadi, oleh karena itu, jika kini saudara-saudara bertanya pada saya, bagaimana akan berlangsungnya Konferensi Meja Bundar (KMB) ini, apakah benar-benar Belanda menyerahkan kedaulatan sepenuhnya dan tidak bersyarat seperti telah dijanjikan oleh Pemerintah Belanda, maka saya tidak dapat memberikan jawaban yang pasti. Hanya saya dapat berdoa mudah-mudahan perundingan itu bisa selesai dengan membawa hasil-hasil yang sebaik-baiknya bagi kita.
Agresi militer Belanda kedua ini sungguh berat dan harus kita lewati. Namun, Belanda tak akan bisa lagi memutar sejarah, tak bisa lagi memutar arah jarum jam dari jam 12 menjadi jam 11. Kemerdekaan ini sudah berada di saku baju kita. Harus kita perhatankan. Pekerjaan berat adalah setelah kemerdekaan itu terjadi. Pekerjaan yang sangat berat dari yang sudah-sudah, karena Belanda akan meninggalkan negeri kita dengan keadaan kacau balau.
Selama kunjungan di Aceh, rombonganSjafroeddin seperti Menteri Agama RI, KH Masjkoer juga bertemu dengan sejumlah ulama di Kabupaten Aceh Besar, Banda Aceh dan Pidie. KH Masjkoer paham benar, bahwa salah satu sendi perjungan terpenting di Aceh yaitu ulama. Untuk itu, peran ulama dalam mempertahankan kemerdekaan patut diapresiasi, dipupuk dan dipertahankan.
Saat berada di Banda Aceh, Sjafroeddin sempat berkunjung ke redaksi Harian Semangat Merdeka pada 13 September 1949. Dia juga menyindir sikap keras redaksi yang kerap kali mengeritik pemerintah tentang kebutuhan pangan, lapangan kerja dan kesejahteraan rakyat. Namun, Sjafroeddin meminta agar redaksi bukan hanya mengeritik, namun memberikan solusi atas masalah yang terjadi.
Dia mengajak seluruh awak redaksi untuk terus memberikan kontribusi positif pada republik, sehingga pejabat negara dan aparatur pemerintahan bisa bekerja sesuai dengan keinginan rakyat.
Sudah saya baca dan saya upvote bah bagah ji ek rating
Haahahhaha