Antara Langit dan Bumi |4
Pesan Emaknya, wanita yang tegas dalam bersikap salah satu ciri ibu yang baik untuk anak-anak.
“Jangan juga terlalu lembut Yin. Terlalu tergantung padamu. Calon istrimu nanti harus mandiri juga. Lihat Aku, apa pun aku lakukan buat kalian, buat anak-anak.”
Kalimat ibunya soal wanita itu selalu diingatkan. Seakan Tuhan mempertemukan pada sosok yang tepat. Dia berkenalan dengan wanita yang tegas, sesuai dengan kriteria dasar yang disampaikan ibunya.
Sebelum larut malam, Apridar mohon diri. Sang calon mertua mengantar hingga teras. Sedangkan kakak dan abang Tia yang lain memilih duduk di dalam rumah. Tak menghiraukan pria yang menjadi teman dekat adiknya itu.
Malam itu, Apridar mengikuti saran Tia. Menunaikan salat Istikharah dan meminta petunjuk dari sang pencipta, apakah niatnya mundur akan menjadi petaka, atau menjadi berkah untuk semua. Untuk dirinya, Emaknya dan untuk pujaan hatinya.
Hari-hari terakhir ini, Apridar semakin matang membulatkan tekadnya untuk pindah ke Lhokseumawe. Rasanya, Banda Aceh bukanlah tempatnya untuk meniti kehidupan.
Di kota petro dollar itu, sang ibu menunggunya. Di sanalah sesungguhnya pengabdian harus dimulai.
Baginya, sebelum menikah wajib mengabdi untuk ibu. gajinya harus dirasakan oleh ibunya sepenuhnya. Dia sadar benar, ketika menikah, gajinya akan berbagi buat istri, anak dan kebutuhan rumah tangga. Hanya sepersekian persen saja dapat disisihkan buat ibunya.
Lalu,dia khawatir ketika ibunya pergi untuk selama-lamanya, memenuhi panggilan sang pencipta, pengabdiannya bahkan belum bermula sama sekali.