Antara Langit dan Bumi |2
Mengingat kisah itu dia tersenyum sendiri. Lalu pandangannya beralih ke sebuah buku pemasaran, di samping buku itu terletak agenda kerja dan target penjualan tahunan yang telah disusunnya.
“Rasanya sudah seharusnya aku meninggalkan tempat kerja ini. Jauh dari Emak, bukankah pekerjaan di Lhokseumawe juga ada?” katanya dalam hati.
Rasa optimis itu berubah menjadi ragu. Kata –sarjana pengangguran-menjadi momok yang menakutkan. Bak hantu yang datang tiba-tiba di tengah malam buta.
“Ada baiknya kusampaikan niat ini pada Emak dulu.”
Sore itu, selepas pulang kantor, Apridar meminjam sepeda motor temannya. Rencananya, sore hingga malam ini dia ke rumah Tia. Gadis yang akhir-akhir ini menemani hidupnya. Mengisi hari-harinya, dan menjadi teman diskusi yang hangat.
Gadis yang cerdas dan menjadi teman tangguh buat debat panjang soal ekonomi, pembangunan dan perencanaan masa depan. Bersama gadis ini pula dia berharap mendirikan bangunan kehidupan yang rukun hingga ke anak cucu.
Sebelum ke rumah itu, Apridar shalat magrib di Masjid Neusu. Menurutnya, urusan cinta penting, urusan ibadah jauh lebih penting. Agar keduanya bisa dijalankan, maka ibadah dulu, baru berkunjung ke pujaan hatinya.
Hari itu dia beruntung mendapat sepeda motor pinjaman. Lain waktu bahkan dia terpaksa berdesakan dalam labi-labi dari kantornya di Setui ke Neusu.
Sejak LK 1 tahun lalu, mereka kerap bersama. Saat menggelar pelatihan serupa di Masjid Jamik, Lueng Bata, Apridar dan Tia bahkan menjadi panitia bersama.
Apakah seterusnya mereka menjalin asmara ??
Hehee 😀
Salam kenal dan sukses selalu bang @masriadi