Malam-Malam yang 'Rihon'

in #story8 years ago

image

Malam itu gelap seperti malam-malam yang lain. Sebagaimana pijar bintang bersanding dengan rembulan. Aku tak tahu, apakah bintang tak pernah bosan bertemu bulan? Selain urusan rutinitas dan takdir, kenapa tak pernah ada jawab dari sang langit, yang selalu menjadi saksi terhadap dua temu yang dinamai rindu.

Aku duduk di pojok kasur dengan imaji melayang-layang, yang sesekali diganggu pemandangan sangkutan baju di belakang pintu. Awal September, selalu datang menawarkan harapan baru. Padanya, disematkan segala hal-hal baik di masa hadapan, sembari belajar memaafkan untuk segala yang lalu. Tapi tidak dengan rindu, yang hadir tak terjadwal, tanpa tanda-tanda, segalanya mengalir begitu saja.

Beberapa orang mengatakan bahwa obat dari rindu adalah temu. Tidak ada yang salah. Hanya saja, rindu tidak selesai hanya karena tatap mata dua insan, silang merdu interaksi dua suara. Tapi rindu, juga perihal segala rasa yang tidak sempit diterjemahkan urusan asmara. Tetapi, perihal sesuatu yang hampir tak pernah benar-benar fasih dielaborasi dalam narasi kata.

image

Yang tak mudah adalah menahan rindu, yang jauh lebih tidak gampang ialah menyediakan ruang akan temu, dan yang paling sulit tentu saja, mengucapkan: "Aku Rindu Padamu". Di hadapan rasa malu, takut dianggap terlalu maju, pun mungkin, ada gengsi yang coba disembunyikan, rindu kerap menguap begitu saja. Ia gugur bukan karena temu tak jadi, melainkan dipaksakan dierami sendiri, dengan dalih semi melankolis: "Biarlah dia tak tahu, rasa ini cukup untukku".

Di Aceh, kata rindu yang saya tahu disebut dalam dua kata; meusyen dan rihon. Kedua-duanya, sama-sama terdengar melodis. Mendengar dua kata itu, ingatan saya sering terbang kepada kedua pendendang tembang lagu-lagu Aceh; Liza Aulia dan Ramlan Yahya. Dari pita suara kedua orang ini, kata meusyen dan rindu tersampaikan dengan zuq atau soul yang berbeda. Ada getaran yang mengobok-obok rasa di dada.

Di sela-sela lamunan yang menembus sekat, aku tersentak. Kuusap layar gawai, beberapa pesan masuk via WhatsApp (WA). Melihat pesan darinya, memancing senyum simpul yang tiba-tiba. Kadang aku berpikir, yang melelahkan dari rindu bukan perkara memangkas jarak dalam satu temu, setelah itu, sering, rindu jua tak pernah benar-benar tuntas! Di hadapan kopi, barangkali kerinduan bertemu, antara adukan sendok yang menabrak sisi dalam gelas, mengeluarkan suara dentingan, manja.

image

Menyeduh kopi dengan rasa yang membuncah di dada, sembari mencuri pandang bahasa tubuhnya. Adalah akrobat rasa dengan segala sensasi yang memacu adrenalin. Aku, kamu dan kopi hanyalah jalan Tuhan untuk saling berjalan, mungkin juga belajar percaya, menikmati belokkan, sabar menaiki polisi tidur, pun sesekali loss menggeber kencang di lintasan lurus.

Entah siapa yang benar-benar percaya, bahwa yang berbahaya di jalanan bukan saja tabrakan. Tetapi lamunan di lampu merah, bila silap membaca isyarat, sungguh klakson "gak ennakan" dengan ramah akan dibunyikan tiiit tiiiiiiit, pooom pom pom. Iwan Esjepe mungkin benar, ia pernah berpetuh: "Kaulah kolam kopi yang membuatku tak bisa terpejam, memikirkanmu sepanjang malam". Mungkin tidak setiap malam, tapi ada malam-malam tertentu dengan segala ketiba-tibaan yang ah sudahlah.

Suara detak jarum jam terdengar lebih lugas, di batas sunyi, sepi-sepi menemukan suaranya masing-masing. Ada yang jelas nyaringnya, ada yang sayup-sayup, pun lebih banyak (mungkin) memilih senyap dengan keyakinan; rindu tak butuh toa bagi orang-orang pekak dan tak peka. Di saat yang sama, ketidakpekaan orang lain yang tidak pernah coba disadarkan juga bagian dari kejahatan peka itu sendiri.

image

Di hadapan rasa, sering kali orang-orang takluk, entah sebagai pemenang yang malang, atau pecundang yang tak tahu diri. Berat!

Membahas kerinduan rasa-rasanya tak pernah selesai. Di antara banyak rasa, selain cinta dan sayang, kata rindu paling akrab diulang-ulang dalam banyak bentuk. Rihon tampak hebat karena ia tidak pernah dipaksa untuk mempertanggungjawabkan secara gamblang kadarnya. Semisal angka-angka statistika, lengkap dengan tabel juga histogram apalagi grafik. Sebab memang rihon terlalu halus, tak kasat mata dan tak ada ukuran yang benar-benar pakem.

Sort:  

Rihon meulambong..... Rindu ini membunuhku... Hehehe

Yang pertama, Liza Aulia. Nyang kedua ka D'Masiv. Bereh memang Bg @yaisardinarto.

Coin Marketplace

STEEM 0.04
TRX 0.33
JST 0.103
BTC 64219.95
ETH 1861.34
USDT 1.00
SBD 0.39