Cara Memahami Teori #3
Ilmu pun saling berebut pengaruh. Ada yang mengatakan sains lebih bagus dari ilmu kemanusiaan. Ilmu tentang masa lalu dianggap sebagai ratu ilmu. Gejala sosial manusia dianggap bagian dari aktivitas hewani. Ilmu lantas digunakan mengukur atau menilai kelompok manusia lain lebih rendah derajatnya untuk diletakkan standar dijajah (baca: kolonial). Penemuan theoria dalam kealaman menemukan puncak kedudukan yang amat istimewa.
Manusia yang mampu membaca sel dianggap sebagai orang hebat. Ahli yang menjelaskan berbagai energi diletakkan sebagai para penemu yang sangat berjasa bagi manusia. Alam secara perlahan ditundukkan oleh manusia, ketika semua yang ada di jagat raya ini terjelaskan secara saintifik. Orang mulai malu bicara teori keilahian. Teori yang berdasarkan diviniti dianggap akan merusakan sekian penemuan dari teori-teori dalam bidang kemanusiaan dan kealaman.
Mereka yang mampu menemukan teori dalam dua bidang di atas dipanggil sebagai ilmuwan dan diberikan hadiah penghargaan atas jasanya kepada kehidupan manusia sejagat. Aktivitas theoria kemudian menjadi kering dalam studi religi. Bahkan, studi ini dimasukkan ke dalam studi kemanusiaan. Ilmu kemanusiaan pun semakin masuk ke dalam diri manusia itu sendiri. Ada yang berkutat pada pengalaman (experiences), perilaku (behaviour), cara berpikir (paradigm), dan bahasa (language). Sedangkan yang kealaman mulai dikristalkan dalam matematika. Proses theoria menjadi begitu terdisiplin antara satu sama lain.
Proses bertheoria menjadi kaku dan baku. Temuan dalam berbagai teori keilmuan diberikan standar dan jenjang. Sehingga untuk mampu melakukan proses teoritisasi, diperlukan waktu tertentu. Sementara itu, para ilmuwan yang pakar di dalam bidang sains, mereka pun mulai digunakan untuk dalam peperangan. Ilmu sebagai alat untuk berperang menjadi tren. Ilmu bukan untuk menyatukan antara spiritual dan intelektual. Para ahli ilmu kemanusiaan dikirim ke medan perang untuk mempelajari manusia. Mereka mengamati secara dekat the others. Mereka menjadi out sider pada komunitas tertentu. Dalam ini, para ilmuwan menjadikan the other sebagai laboratorium baik untuk sains mau pun untuk social sciences.

Sumber: Christopher Lloyd, 1986.
Berbagai teori keilmuan muncul dari medan perang atau suku-suku yang dipandang sebagai second class. Kebijaksanaan mereka dengan ketuhanan, kealaman, dan kemanusiaan dibawa ke ranah ilmu yang baku dan kaku. Lantas penemuan mereka diajarkan di perguruan tinggi. Proses kolonialisasi dan penemuan teori berjalan seirama melalui hitungan mayat. Kepala mayat menjadi pena peradaban. Darah menjadi tinta yang memekikkan perasaan ketika para ilmuwan pulang dari suatu kawasan yang akan atau sedang dibantai.
Sejara theoria dengan pembantaian manusia seolah-olah tidak dapat dinafikan. Kampus-kampus melucuti berbagai ilmu dari masyarakat yang disebut sebagai tradisional. Mereka sebagian yang berasal dari keluarga terhormat disekolah, supaya mampu menerapkan berbagai teori yang sudah didaur ulang sebelumnya. Di kampus-kampus ternama, mereka sibuk berdebat dengan penemuan teori demi teori. Dalam bahasa lain, perenungan hadir persis untuk menjadi basis memahami “kita” atau “mereka.”
Karena Tuhan sudah “pensiun”, maka para teoritiku berpikir bahwa ilmu itu dapat diambil dari pengalaman, bahasa, dan budaya. Semakin hari semakin sempit basis berteori bagi para manusia. Hermeneutik untuk menjelaskan bahasa dan teks-teks dari kitab suci. Linguistik dan sastra semakin “bersinar.” Fisika, kimia, biologfi, dan matematika menjadi “bintang sepak bola.” Studi dalam bidang ekonomi dan politik menjadi “panglima perang.” Sementara sejarah “mengikat” dan “mengikuti” gerak ruang dan waktu yang dijalani oleh manusia.
Ilmuwan mengabdi pada negara. Negara mengabdi pada kepentingan nasional. Teori dipraktikkan untuk membasmi. Kampus hadir sebagai markas ide-ide untuk proses bertheoria. Penemuan demi penemuan disebarkan ke seluruh dunia. Negara yang belum maju harus ikut pada standar yang sudah dibuat oleh negara yang sudah maju. Kampus mereka menjadi kiblat pengetahuan. Gelar akademik menjadi alat ukur untuk bisa melakukan proses bertheoria.
Ilmu sudah bermazhab (school of thought). Ilmuwan bekerja sesuai dengan jalur school of thought. Teori semakin terperinci adanya. Negara bebas memilih school of thought yang mana yang dapat menjadi basis kebijakan dan kepentingan nasional. Dalam situasi ini, dentuman meriam masih berbunyi. Peluru senapan masih mencari korban. Bom menjadi bahasa yang “sakti” untuk mengatakan anda harus tunduk atau patuh sama kami.
Kegiatan ilmuwan yang dikenal sebagai intelijensia, diubah alurnya menjadi bagian dari keamanan nasional. Teori bekerja untuk mengamankan teritori. Teori bekerja untuk mengikat kesadaran dan pembangunan nasional. Teori hadir untuk memperkuat basis persenjataan. Teori berguna untuk mengontrol pikiran manusia (mind control). Teori berusaha untuk mengikat solidaritas nasional dalam bentuk aturan-aturan yang mengikat, yang dikenal dengan hukum.
Di sini bertheoria sama dengan membangun negara atau blok. Pengajaran di kampus harus dibatasi pada ilmu-ilmu yang sesuai dengan misi negara. Teori menghasilkan kebijakan sebagai dampak dari interpretive knowledge. Sementara kekuatan masyarakat tradisional dalam bidang keilahian, kealaman, dan kemanusiaan terus digerus kekuatan pengetahuan (local knowledge) mereka, supaya tidak berlawan dengan basis teori dalam kebijakan dan pertahanan negara-negara yang sudah terdepan dalam ilmu pengetahuan. Kalau ada sesuatu yang bermanfaat, maka disulap dengan bahasa-bahasa akademik, supaya semakin terdengar sangat saintifik.
Sampai di sini dapat dikatakan bahwa ada masa ketika teori-teori dari berbagai disiplin ilmu digunakan oleh manusia untuk membangun negara dan menjajah negara lainnya. Blok ilmu dibentuk untuk saling memperhadapkan sesama manusia. Teori-teori pada akhirnya lahir bukan dalam suasan kedamaian, tetapi dalam kecamuk perang. Sang teoritikus terkadang mengalami trauma pada saat masa kecil. Dia menjadi imigran di negara lain. Kadang terpisah dengan keluarga. Mengalami krisis identitas dan religi. Tidak sedikit pula para teoritikus yang harus melawan rezim melalui idealisme yang mereka yakini. Karya-karya mereka pada gilirannya lahir bukan dalam suasana kedamaian, melainkan dalam keadaan yang serba tidak menentu. Mereka tidak sedikit yang dalam suasana keterbatasan secara ekonomi. Dalam lautan sejarah manusia tersebut, teori-teori lahir ke permukaan.
Karena itu, kajian theoria juga perlu mengkaji bagaimana konteks sejarah teori-teori dalam berbagai bidang ilmu dihasilkan. Dengan demikian, kita dapat memahami bagaimana bangunan sejarah dibalik tembok-tembok teori yang dihasilkan. Kalau anda mempelajari teori sama dengan mempelajari sejarah gagasan-gagasan cemerlang manusia. Kita akan tahu bagaimana persimpangan atau tikungan sejarah manusia. Teori kadang lahir untuk meluruskan sejarah atau membelokkan sejarah. Ada juga teori lahir untuk membenarkan perilaku manusia dalam lorong dan waktu.
Paparan di atas menyiratkan bahwa teori itu tidak lahir dalam ruang hampa. Teori lahir dari hasil dinamika pemikir dengan situasi zamannya. Ada baiknya jika kita hendak mengambil atau mencomot suatu teori, kupasan di atas dapat dijadikan sebagai masukan awal. Supaya tidak mengambil teori yang benar tetapi dari lorong sejarah yang amat kelam. Demikian pula, teori selalu hadir di dalam satu keputusan penting di dalam sejarah kolonial bangsa-bangsa maju terhadap bangsa-bangsa yang belum maju.
Bersambung ...


"Ada baiknya jika kita hendak mengambil atau mencomot suatu teori, kupasan di atas dapat dijadikan sebagai masukan awal. Supaya tidak mengambil teori yang benar tetapi dari lorong sejarah yang amat kelam."
Sibak rukok teuk, prof KBA
Jroh Tgk. Syukran...