Ombus-Ombus Inangku Tersayang
"Mana si Ucok ni laa... Ucokkkkk !!!, bah... cepat kali pigi nya ya, tadi disini nya kutengok, Ucokkkkkk!!!!! " Suara sopran 8 oktaf milik mamakku terdengar menggelegar seantero ruangan.
"Iyaaaaa mamak, disini nya aku dibelakang mamak !!" aku menjawab dengan sedikit kesal.
"Bah.. Iya nyaaa, tak tampak mamak kau cok, pulaknya itam kali kulitmu, jadi tak nampak mamak hahaha"
Memanglah mamak ku ini, dibilangnya aku itam, tak sadarnya ia kulitku ini diturunkan dari siapa? Kurasa kurang besar kaca di rumah ini, huh..
"Ada apa rupanya mak? "
"Tolong mamak ya cok, kue ombus-ombus ini sudah siap. Jadi ko antarkalah ke kawan-kawan mamak di pajak Parluasan, untuk Inang Tiur, Inang Roindah dan Inang Mida. Sekalian kau belanja ikan Asin buat kita makan nanti siang ya cok "
hmnnnn... hal yang aku takutkan terjadi.
Sejak tak ada sepeda motor, aku memang malas keluar. Membiasakan naik mopen pun susah, mopen banyak mutar-mutar dan berenti. Sedih kali nasibku, orang lain dulu naik mopen lalu sekarang naik sepeda motor, sedangkan aku kebalikannya.
Sejak bapak terkena stroke, perekonomian keluarga kami memang sulit. Bapak yang dulunya sopir mopen, sudah tak bekerja lagi. Sekarang ini mamaklah yang menggantikan posisi bapak mencari nafkah. Berbagai usaha dilakukan mamak, yang penting dapur ngebul. Yang membuatku sedih adalah sepeda motor kesayanganku pun ikut dijual untuk kebutuhan hidup kami. Itulah sebabnya aku jadi malas sekolah, malas pergi-pergi, malas bermain.
Hari ini adalah hari pertama mamak berjualan kue ombus-ombus. Makanan khas batak yang melegenda. Ide membuat kue ini datang dari ketiga sahabat mamakku yang berjualan di pajak Perluasan itu.
Pasar Perluasan atau yang kami sebut pajak Perluasan terkenal ramai dan becek. Jika sudah disana, untuk jalan saja susah karena pengunjung berdesakan. Apalagi ini masih pagi, belum lagi pukul, tentu pajak sedang ramai-ramainya pengunjung. Tapi apalah daya, mana mungkin aku menolak suruhan mamak, bisa murka dia. Kalau sudah murka bisa aku dikutuknya jadi kodok, atau diusirnya aku dari rumah. Selesai lah hidupku.
"Iya mamak, pigi ya aku sekarang" ujarku dengan lesu.
"Baik budinyaa anak mamak ini ya, hati-hati kau ya cok! Catatannya ada di dalam plastik kue. Nanti cepat pulang kalau sudah, jangan ko melalak" mamakku tampak senang, tergambar harapan besar dari raut wajahnya.
Mobil mopen yang aku tumpangi berhenti tepat di depan pajak Parluasan. Benar saja, pasar yang kami sebut sebagai pajak di Parluasan ini ramainya minta ampun, ditambah lagi becek. Lengkap lah sudah. Hmnn, bagaimana ya menerobos kerumunan ibu-ibu pengunjung pajak menuju lorong penjual sayur tempat kawan mamak berjualan?. Tentu siap-siap dengan berbagai aroma yang aduhai.
Bah.. Aku jadi galau, haruskah aku mengantarkan ombus-ombus ini ke Inang-inang itu?
Disaat sedang bimbang, tiba-tiba seseorang bersuara lembut menegurku.
"Ucok... Sedang apa? Wah... Ga salah lihat ni? Ucok bawa kue ombus-ombus. Kamu sekarang jualan? "
Aduh, ternyata Siska dan kawan-kawannya. Siska ini kawan sekolahku yang sedang aku incar. Mati aku ketauan jualan kue.
" Bub bub bukaannn, ini aku baru beli untuk di rumah. Untuk cemilan di rumah hehe.. ". Aku menjawab gagap.
" Banyak sekali, mau dong cok" Wah, mau pulak si Siska, kawan kawannya ramai juga huhu
" Hmnnnn nih, ambi sajalah... Ayo ayo, nanti aku beli lagi" entah ide dari mana kata-kataku tadi, diikuti Siska dan geng nya menyerbu ombus-ombus yang ada di tanganku.
"Makasih ya cok, ombus-ombusnya enak, jumpa besok di sekolah ya" Lambaian tangan Siska melenakanku hingga ia berlalu.
Matilah aku ! ombus-ombus tinggal 10 buah, bagaimana ini? apa nanti kata mamak? Apa yg harus aku perbuat? Fikiranku kacau. Aku duduk termanggu di tepi jalan.
Hampir tengah hari, aku masih saja bingung. Hingga sosok yang sangat aku kenal berjalan diseberang jalanku. Ia tampak berjalan tergesa. Mamak ku. Ada apa dia masuk ke showroom kereta / motor?
Karena penasaran, aku berjalan mendekat. Suara mamakku yang menggelegar tentu terdengar dari luar.
"Saya mau kredit kereta untuk si Ucok anak saya. Kesian kali dia sejak motornya dijual, tak ada lagi semangat hidupnya kutengok. Makanya mamak mau kredit motor buat dia. Masalah pembayaran, tak usah kuatir, mamak ini jualan ombus-ombus, bisalah untuk mengangsur kereta itu nanti"
Aku terdiam membisu, itulah mamak.. Semua dilakukan demi kebahagiaan anak, sedang aku anak nya, hanya disuruh mengantarkan ombus-ombus saja tak mampu.
"Ampun mamakkkkkk..... !!! "
Aku berlari masuk ke dalam showroom, aku sujud bersimpuh dikakinya sambil tersedu.
Sebuah fiksi perjalanan ke pasar becek Parluasan, Pematangsiantar, Sumatra Utara
Salam Kaki Lasak, Kemanapun Kaki Dilangkahkan

Follow Me :
Steemit @ kakilasak
Facebook @ husaini_sani
Instagram @ ucok_silampung & @ kaki_lasak
Whatsapp +6282166076131
Ombus2 enaakkk dan sy sll jadikan ini buat bahan promosi makanan sumut...
Ahh sukak juga kakak ini ombus2 ya haha
jadi ingat Indonesia, lihat pemandangan pasar macam imi😅
Haha, di taiwan bersih la yaaa.. Pasar modern :)