Kembali
Jalan hidup telah mangajari kami, akan pahit yang kami jalani, akan manis yang kami dapati.
Kami hilang arah, mengarah kepada hal yang tidak kami sangka, kami akan berhenti berharap pada pada tubuh yang bernyawa. Terus menyerahkan diri pada sang Pencipta.
Tak peduli resah gelisah yang tercipta, karena itu adalah kehendak-Nya,
Berjalan tertatih letih, seakan perih menggores telapak kaki, lalu kami kembali menyerahkan diri.
Kami tak punya malu, ketika kami butuh, kami menghadap Engkau ya Allah. Sementara ketika bergelimpangan nikmat? seakan kami abai akan Engkau dan segala titah perintah yang telah engkau gariskan dan tuliskan dalam kalamullah.
Angkuh rasa diri kami, seakan kami tak memilki sandaran, lepas bak anak panah, seolah panah yang tertancap adalah hasil usaha kami, apa kami sadar? Bahwa tanpa kehendakmu itu semua tak akan terjadi?
Lupa, lupa, lupa kami.
Dalam bulan suci ini kadang diri kurangpun mengabdi, sehingga bathin seakan haus akan cengkrama zikir penenang bathin.
Tidaklah mengapa diri di abaikan dalam dunia maya atau dunia nyata. Namun, dunia rohani harus tetap terisi.
Kembali, kembali, kembali pada tali yang tak pernah putus lalu genggamlah biar tangan menganga lalu mengeluarkan darah, biar mata menitikkan airnya, jangan pernah lepaskan, karena diri akan terombang ambing dalam dunia nan fana ini ketika lari mencari damai bersama para iblis yang telah dikutuk. Damai memanglah damai, rasa itu seakan luar biasa di dalam bathin.
Mari mencari rida Ilahi dalam bulan penuh berkah ini.
Hilangkan malas, hilangkan resah, mari mencari damai yang hakiki.
Mari kembali ke asal muasal, di mana kita diciptakan? dari apa kita di ciptakan? Kemana kita akan kembali?
Katakan malu pada diri yang tak tahu di untung, tubuh yang tak sadarkan diri gelap dalam tawa terbahak.
Gubuk Rantau, 03 Juni 2016
@juabagrang
All image free by. pixabay




If you donate 1 SBD or STEEM to @a-a-a I will resteem your last post to over 72,500 followers on my 2 accounts @a-a-a and @a-0-0