A Journey to Surabaya, Part #1: Miniatur Indonesia
Selasa pagi (17/10/2017) saya berada di Bandara Kualanamu Medan dari Banda Aceh. Berangkat dari Banda Aceh pukul 06.00 WIB dan sampai di Bandara Kualanamu pukul 07.00 WIB, pesawatnya tepat waktu. Perjalannya lancar dan cuaca juga cerah. Perjalanan selama enam puluh menit saya lewati dengan tidur, hal yang sama juga dilakukan oleh sebagian besar penumpang yang lain. Tidur dalam pesawat mungkin salah satu cara menikmati perjalanan.
Begitu tiba di Kualanamu saya segera mencari sarapan. Makanan yang saya pilih adalah sepiring nasi gorong spesial ditambah segelas teh manis. Ini sudah cukup untuk mengganjal perut saya yang mulai kosong. Saya penderita sakit maag, jadi makan harus tepat waktu sebelum asam lambung naik.
Setelah sarapan selesai, kemudian saya bertemu dengan tim peneliti Unimal yang sama-sama akan ke Surabaya via Jakarta. Pesawat kami ke Jakarta pukul 12.20 WIB. Sebelum keberangkatan, kami harus mengurus izin dari karantina bandara karena membawa tanaman. Sambil menunggu keberangkatan, saya berdiri di dekat pintu masuk bandara. Kemudian mulai memperhatikan orang-orang yang masuk dan berjalan lalu lalang di depan saya.
Orang-orang yang datang ke bandara sangat berbeda satu sama lain, berbagai suku dan ras. Mulai postur tubuh, wana kulit, bentuk dan warna rambut, mata, tinggi badan, cara berpakaian, umur, dan barang bawaan. Perbedaan ini menunjukkan dari mana mereka berasal, kemana tujuan, etnis, agama dan kesukaan. Cara berpakaian juga beraneka ragam, mulai yang tertutup rapat pakai cadar sampai yang pakai hot pants super pendek dan baju you can see setengah transparan. Bandara benar-benar “miniatur Indonesia” dan juga dunia.
Para penumpang ada yang berbadan tinggi tegap, tinggi kurus, sedang da nada yang pendek. Warna kulit mereka juga bermacam-macam, ada yang hitam, bule, kuning dan coklat. Rambut ada yang lurus jinggrak, ikal dan keriting. Warna rambut mereka juga beraneka ragam, ada yang hitam, coklat sampai bule. Begitu juga dengan mata, ada yang bulat dan sipit. Bandara benar-benar telah menjadi satu tempat pencampuran manusia Indonesia dan juga manusia dari negara lain. Namun satu hal yang pasti, meskipun berbeda-beda namun mereka saling menghargai satu sama lain. Norma-norma hukum tetap dijunjung tinggi selaku rakyat Indonesia. Mereka juga saling bertoleransi satu sama lain.
Keadaan seperti semoga tetap berlangsung dan tidak dirusak oleh agenda-agenda politik dan kepentingan sesaat segelintir orang. Tidak boleh ada yang mengagitasi rakyat yang sudah rukun dan damai seperti ini. Namun rasa “was-was” mulai timbul dari hati saya mengingat 2018 dan 2019 adalah tahun-tahun politik, dimana biasanya para tokoh saling menyerang dan menjatuhkan sehingga suhu politik menjadi panas dan menjalar kepada masyarakat bawah.
Semoga Indonesia tetap aman, damai dan tenteram. Berbeda pilihan dan pandangan hidup itu manusiawi tetapi jangan sampai saling menyakiti.
Surabaya, 17 Oktober 2017.
@cmtzco has voted on behalf of @minnowpond. If you would like to recieve upvotes from minnowponds team on all your posts, simply FOLLOW @minnowpond.
To receive an upvote send 0.25 SBD to @minnowpond with your posts url as the memo
To receive an reSteem send 0.75 SBD to @minnowpond with your posts url as the memo
To receive an upvote and a reSteem send 1.00SBD to @minnowpond with your posts url as the memo
Ok. Thank you
@cryptohustlin has voted on behalf of @minnowpond. If you would like to recieve upvotes from minnowponds team on all your posts, simply FOLLOW @minnowpond.
Damai itu indah
Jangan sampai yang indah kita rusaki secara sadar
Postingan yang bagus tentang miniature Indonesia, semoga Indonesia tetap aman dan damai
Terimakasih. Di saat aman kita dapat berbuat banyak. Hidup kita juga akan lebih tentram dan damai
Tidak boleh ada yang mengagitasi rakyat yang sudah rukun dan damai seperti ini.
Ya. Setuju. Resiko yang kita hadapi akan semakin besar jika ada pihak2 yang lempar batu sembunyi tangan.
Terus apa tanggapan @dsatria ttg mesjid yang dibakar di Bireuen? Apa perlu turun tangan suhu antropologi Unimal untuk mencari solusi? 👉
Mesjid dibakar di Bireuen
different rases indicate the existence of a collection of people who have different characters and characters. maintaining peace is not an easy thing if not preceded by good thinking and a more unstable character equation.
Peace is beautiful.
Thanks for sharing @ismadi, awesome post
Betul3x. I go with you..
Mantap...saya menunggu posting Bapak selanjutnya....
Haha... postingan demi postingan akan saya lakukan Pak Senator sampai tidak tahu mau diposting apa lagi. 😀