#bukansarjanakertas
halo teman-teman semua para steemians..
kali ini aku ingin berbagi kisah tentang proses mengerjakan skrispi sampai ke tahap seminar.semoga ini bisa bermanfaat.
teman-teman pernah gak mendengar kisah seorang ulama saat dirinya dalam perjalanan pulang dari rantauan menuntut ilmu yang kemudian dihentikan oleh sekelompok perampok yang hendak merampok barang bawaannya yang tak lain adalah sekumpulan kitab dan catatannya selama dalam menuntut ilmu. Sang imam bermaksud melarang perampok tersebut untuk merampas kitab yang dibawanya karena itu merupakan tempat ia menyimpan ilmunya. Terhenyaklah sang imam ketika perampok tersebut mengatakan bahwa ilmu yang sesungguhnya bukanlah yang berada di dalam buku-buku catatannya, melainkan di dalah hati dan pikirannya. Dari situlah sang imam kemudian membuat ungkapan tersebut, bahwa kepada siapapun dan dimanapun sebetulnya kita bisa berguru. Bahkan kepada seorang perampok pun ulama tersebut justru belajar hal besar yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Subhanallah.
Tak pernah terpikirkan dalam benak saya, untuk mengetahui atau bahkan menggali lebih dalam melalui penelitian tentang sebuah wacana kritis media sosial yang saya rasa “asing” bagi sebagian orang. Apalagi yang saya teliti adalah masalah yang selalu menjadi konsumsi di masyarakat namun asing bagi mereka untuk memahaminya terutama kaum millenial.kenapa saya bilang asing? karena, buktinya banyak orang termakan isu yang di buat oleh media. Berbulan bulan, bahkan hampir satu tahun proposal itu tersimpan manis diantara file-file proposal event naional saya. Bagi aku ketika itu, lebih menarik menyelesaikan proposal event nasional yang bisa menikmati masa indah mahasiswa dibandingkan mengerjakan proposal yang menurut saya sangat menyeberang dari passion ilmu jurnalistik saya.
berulang-ulang berkali- kali saya coba memahami proposal itu. Berderet baris hampir saya tuliskan di setiap benda yang kutemui setiap hari, diantara baris-baris mimpiku, bahkan di tempat yang menurutku sakral yang biasanya hanya saya pakai untuk menuliskan hal yang rahasia berkaitan dengan masa depan. Saya tahu dan sepenuhnya sadar bahwa hal itu penting, bahkan sangat penting. Tidak ada yang meragukan kapasitas saya untuk menuntaskannya lebih awal dibandingkan dengan teman-teman yang lain karena bisa dikatakan keahlian saya di bidang menulis karya ilmiah cukup unggul diantara teman-teman lain di kelas saya. Tidak berhenti disitu, hampir semua dosen, bahkan para petinggi universitas dan jajarannya meyakini hal demikian.karena, saya sudah cukup dikenal di Universitas untuk lomba-lomba nasioanl dan internasional.
namun taukah teman-teman? semua itu berbanding terbalik saat aku menghadapi seminar skripsi kali ini.
dihari seminar tiba, tepatnya 20 Maret 2018 aku merasakan sesuatu yang tak terduga.ok nanti saya cerita
saya termasuk orang yang beruntung sebenarnya dalam penelitian ini, kenapa saya bilang begitu?karena dosen pembimbing saya adalah dosen favorit saya yakni Prof KM (Kprodi ) dan MS keduanya merupakan dosen yang saya kira sangat perfect dan penuh dengan pengetahuan sehingga saya bangga di bimbing beliau. ternyata memang pantas beberapa kali bimbingan langsung ACC.saya sangat berterimakasih kepada keduanya.
setelah selesai ACC dengan penuh perjuangan mencoba mendaftar seminar dengan melewati berbagai persyaratan yang ada.singkat cerita fase ACC sampai ke tahap seminar hanya punya waktu seminggu.jujr saya masih awam bagaimana seharusnya menghadapi seminar skripsi.bahkan saya tidak tau kalau proposal skripsinya harus kita kasih ke semua dosen penguji dan pembimbing kita sebelum hari seminar.memang pada awalnya saya udah coba kasih ke staf yang mendata seminar. namun, kata beliau "kasihnya ke penguji masing-masing aja," tanpa ada pemberitahuan kapan baiknya kita kasih.jujur saya masih bodoh dalam hal ini atau saya gak peka
ok dalam waktu jeda seminggu itu, saya juga mengikuti Konferensi internasional untuk mahasiswa Entrepreneur dan saya mewakili univ saya untuk event itu. sepulangnya dari sana harus langsung menghadapi seminar dengan persiapan semalam.
tibalah di hari seminar, jawal yang ditentukan tepat jam 9.30 WIB dan saya datang tepat waktu, belum ada satupun orang (maksudnya pembimbing dan penelaah) saya langsung menghubungi kembali pembimbing saya sekali lagi. karena, malamnya juga sudah beritahukan termasuk juga penelaah. dan responnya juga baik.alhamdulillah
jam sudah menunjukkan pukul 10.30 acara seminar saya belum juga dimulai. namun, tiba-tiba datang salah satu penelaah saya. secara spontan saya langsung memberitahukan beliau sekali lagi bahwa beliau salah satu penelaah saya hari ini. namun taukah teman-teman apa jawaban dari dosen penelaah itu? dengan nada kasar dan tidak menampakkan bahwa dia seorang dosen berkata " SAYA GAK SUKA SEMINAR KAMU, KAMU CENGENGESAN ORANGNYA, CARI PENELAAH LAIN AJA" saya langsung down saat itu dalam hati saya berpikir apa salah saya sama dia.tapi yasudahlah sembari menunggu pembimbing saya saya mencoba menjumpai dosen penelaah satu lagi.
diruangan prodi yang sesak itu saya menjumpai penelaah kedua. langsung saya sapa beliau dan hendak memberikan proposal penelitian saya namun celakanya saya mendapatkan jawaban yang hampir serupa "AH, SAYA GAK BISA.BARU HARI INI KAMU KASIH PROPOSAL KE SAYA, APA YANG SAYA MAU TELAAH," down total saya hari itu, bahkan apa yang sudah saya persiapkan rasanya tidak ada artinya. dalam hati saya kenapa si dosen-dosen ini tidak sedikitpun peduli sama mahasiswanya, padahal saya sudah jelaskan selama seminggu itu saya dalam rangka membawa nama baik universitas.
jam sudah menunjukkan pukul 11.00 Saya mencoba meminta maaf kalau-kalau alasan dari tadi itu menjadi kesalahan besar bagi mereka,saya mencoba membujuk dengan penuh harap agar seminar ini bisa dilanjutkan. karena penuh perjuangan saya membuatnya. bahkan saya sudah tertinggal jauh dengan teman-teman saya yang seangkatan. akhirnya dosen penelaah yang ke dua bisa memahami dan bersedia di seminarkan. penelaah yang pertama tetap ngotot dan tidak mau menseminarkan proposal saya, bahkan Kaprodi sekaligus pembimbing saya terjun untuk meminta agar jangan dilambatin lagi.namun, si dosen ini tetap tidak mau dengan alasan-alasan yang tidak logis.
kemudian setelah mencoba telpon beberapa dosen lain oleh kaprodi, akhirnya ada satu dosen yang bersedia mengganti dosen penelaah tersebut dengan catatan beliau baru bisa 30 mnit kemudian karena masih dalam proses mengajar. sembari menunggu dosen tersebut, kita sepakat langsung buka acaranya. eh tiba-tiba si dosen penelaah yang tadi ngotot tidak mau tiba-tiba muncul dan langsung masuk ruang seminar. gimana perasaan coba? (dalam hati, giliran udah ada yang bersedia menggantikan baru datang dia. bulshit).
Dosen aku jemu
Wahai dosenku,
Adakah engkau menawarkan air di panasnya hati,
Akankah kau menabur harum bunga di otak yang usang,
apakah kau hanya menuntaskan kwajibanmu sebagai pengajar bukan sebagai pendidik,
lepas memberikan materi teks book di kelas lepaslah atnggung jawabmu
Atau apakah rasa jemu takkan terganti?
di dalam ruang seminar pun saya tidak fokus lagi, pikiran saya sudah jemu dengan hal hal tadi.namun sebagai manusia harus mampu mengendalikan emosi. saya jadi ingat cerita di atas tadi bahkan sama perampok sekalipun bisa diambil pelajaran, begitu juga dengan kejadian saya diatas dengan sebab itu saya jadi paham kualitas orang-orang di instansi tempat saya kuliah, saya jadi mengerti tugas dosen disini hanya memindahkan isi text book ke kepala mahasiswa,saya jadi lebih paham akan kultur disini.
tapi disini saya harus bertarung, saya tidak mau menjadi orang-orang yang didikte sedemikian rupa oleh sistem dan saya tidak mau jadi sarjana kertas, yang menilai sesuatu dari ijasahnya. yang ada natik lulusan perguruan tinggi ya jadi regenerasi seperti cerita dosen diatas.
BERSAMBUNG..................