Prasangka Keliru
Pagi itu, di penghujung Agustus 2015, Pengadilan Negeri Banda Aceh cukup ramai. Segala usia, laki perempuan berdesakan melihat sebuah papan pengumuman seukuran daun pintu. Disana terpampang nama-nama orang yang dijadwalkan sidang pada beberapa lembar HVS ukuran A4. Papan pengumuman yang besar, informasi dalam ukuran kecil yang menyebabkan orang harus berdesakan. Aku yakin mereka sama seperti aku. Menunggu jadwal sidang.
Setelah melihat ada namaku, aku memilih mencari tempat untuk duduk. Memberi ruang bagi yang lain untuk melihat jadwal mereka. Aku memilih duduk di bangku panjang yang disediakan diselasar gedung itu. Ini pengalaman pertama bagiku, disidang atas pelanggaran yang ku lakukan. Bingung, agak sedikit galau.
Dua minggu sebelumnya, aku di hentikan oleh seorang Polisi Lalu Lintas karena membonceng istriku tanpa menggunakan helm. Sial betul, aku lupa membawa helm untuk istriku saat menjemputnya makan siang. Biasanya istriku mengendarai motornya sendiri untuk ke manapun. Tetapi, karena sedang mengandung anak pertama kami, aku berinisiatif mengantar dan menjemputnya.
Setelah tanya jawab sebentar, aku diarahkan untuk menyelesaikannya di Pos Lantas depan Mesjid Raya Baiturrahman. Sesampai disana, telah ada meja dengan dua orang polisi sedang memeriksa surat-surat kelengkapan kenderaan. Mereka menyebutkan nominal uang yang harus aku bayarkan sambil menyodorkan kertas yang berisi pasal-pasal untuk menunjukkan kesalahanku. Didepan mereka, aku mengakui pelanggaran yang ku lakukan, namun aku menolak membayar nominal yang mereka sebutkan. Aku minta surat tilang, memilih menyelesaikannya di pengadilan.
Awalnya mereka berkilah, jika ke pengadilan prosesnya akan lama. Kalau mau cepat, bisa diselesaikan disini sambil menunjukkan orang lain yang sudah menyelesaikan urusannya. Aku kesal, uang dikantongpun tak mencukupi untuk membayar dendaku. Lagian, sejak kapan polisi dapat bertindak sebagai hakim memutuskan nominal denda yang harus dibayar atas sebuah pelanggaran. Aku tetap berkeras ingin menyelesaikannya di pengadilan. Makanya pagi-pagi sekali aku sudah datang untuk menyelesaikan urusanku.
Dibangku panjang pengadilan tadi telah ada seorang anak berseragam SMU. Dia terlihat sangat pucat. Jemarinya tak bisa tenang, melipat-lipat kertas ditangannya. Sepertinya itu surat tilang. Tak lama kemudian, seorang polisi datang.
"Kenapa, takut?, tenang saja" kata polisi itu. Dari omongan mereka, aku tau itu adalah bapak dan anak.
Aku langsung terbayang tingkah polah polisi yang mengarahkanku untuk bayar ditempat sebelum aku datang ke pengadilan ini. Sial, dibekingi bapaknya sampai pengadilan, kutuk-ku dalam hati. Pikiran itu datang begitu saja. Mungkin karena terlalu banyak melihat dan membaca korps Bayangkara melakukan pelanggaran-pelanggaran yang bertebaran di media sosial maupun berita-berita. Aku ingin melihat bagaimana anak beranak ini menyelesaikan urusannya.
Begitu ruang sidang dibuka, orang-orang masuk mengambil tempat duduk yang telah disediakan. Aku memilih duduk dekat anak SMU bersama polisi tadi. Anak itu semakin pucat, bibirnya gemetaran. Sementara didepan, hakim tunggal memanggil satu persatu nama pelanggar untuk disidang.
Anak itu sama sekali tak bersuara. Dia sungguh ketakutan. Tiba-tiba polisi itu berkata, inilah yang harus kamu lalui jika kamu melakukan kesalahan. Jangan seenaknya pakai motor orang, kalau belum punya SIM. Kamu harus berani bertanggung jawab atas kesalahan yang kamu lakukan. Tenanglah, jangan takut, Ayah disini.
Aku langsung terdiam, dugaanku keliru betul. Sebagai polisi, lelaki itu memastikan tak boleh ada aturan yang dilanggar. Namun, sebagai seorang Ayah, dia datang menemani dan mengajarkan anaknya untuk bertanggungjawab atas kesalahan yang telah dilakukan. Sungguh hal yang luar biasa.
Sayang, aku tak tau nama polisi itu. Seharusnya aku minta maaf kepadanya karena telah berprasangka buruk. Kepada polisi itu, sudah sepatutnya aku berterimakasih, karena telah diberikan pelajaran penting. Karena saat itu, aku adalah calon Bapak dari anak yang masih dalam kandungan istriku.
Dari pengalaman itu pula aku bisa belajar tantang pentingnya memastikan apa yang kita lihat sebelum mengambil kesimpulan sendiri. Hal yang semakin jarang dilakukan saat ini, memeriksa kebenaran informasi sebelum mengambil kesimpulan atas sebuah peristiwa.



Kisah yang bagus, saya suka ini. Bertutur dengan deskripsi yang lugas, enak dibaca. Keep spirit @harock.
Terimong geunaseh bang. Long cit suah long meuruno lom teumuleh beu pah bak droe neuh.
sial!! gara-gara narasi ceritanya mengalir,,,lon pakek baca sampe tuntas.
Bak budik.... ek nyoe nyan ban teuma.. 😂😂