Mengukir Tsunami dalam Puisi
Puisi
Foto: Buku Karya Hamdani Mulya
SAJAK SECANGKIR AIR MATA
Karya Hamdani Mulya
Secangkir air mata
Kutuang dalam gelas warna perak
Tak sebanding dengan lukamu
Kan tinggalkan suatu kenangan
Dalam rimba duka
Pendakian Gunung Seulawah
Aceh, 14 Desember 2005
Foto: Kliping Surat Kabar Ekspos Buku Bahasa Indatu Ureueng Aceh di Harian Analisa.
Catatan harian:
Puisi ini saya tulis ketika pulang dari Banda Aceh sekitar setahun setelah tsunami menyapu Aceh, setelah menjenguk kawan-kawan yang selamat dari bencana dunia itu, puisi yang saya dedikasi kepada teman, sanak kerabat yang telah pergi bersama tsunami.
Harian Analisa itu Medan, ya kan?
Oo ya, maaf silap sy. Terimakasih atas masukannya pak Tabrani Yunis, @tabraniyunis.