Lamteubai

in #indonesia8 years ago

MENTARI belum benar-benar terang ketika Anita menunggu becak langganannya di simpang jalan dekat rumahnya, di Neusu Banda Aceh. Rabu pagi itu, ia tak mau mengalah pada waktu. Pukul 06.10 pagi ia harus sudah tiba di Simpang Lima, menyergap labi-labi pertama. Dalam dingin, ia berpacu dengan waktu.


L1.jpg

Kesempatan untuk mendapat trip Banda Aceh-Krueng Raya memang bukan sekali. Tapi, terlambat lima menit saja berarti Anita harus menunggu lebih lama. Angkutan kedua baru datang satu jam kemudian.

Beruntung dia dapat armada pertama, pukul 06.45, labi-labi hitam putih, belum penuh.
Perjalanan pagi itu datar saja. Tak banyak cerita dalam kabin belakang labi-labi. Hanya tentang orang-orang menguap, setengah mengantuk karena menerobos sisa embun saat pagi akan usai. Anita pun diam saja. Gerakannya hanya untuk mengatur posisi duduk dan merapikan jaket.

Banda Aceh-Krueng Raya tembus dalam satu jam 25 menit. Penumpang budiman harus maklum, karena angkutan umum bernama labi-labi sering berhenti untuk “bongkar muat”. Anita tiba pukul 08.10, meleset sepuluh menit dari target. Tapi, tak menggerutu, karena satu kerisauannya tentang waktu sudah lepas. Ia sudah sampai tujuan.

Anita Fauziah Fairuz melewati pagi-pagi seperti ini sejak tiga tahun lalu. Sejak ia memutuskan menjadi guru di SMA Negeri Lamteuba di Desa Ateuk, Kecamatan Seulimeum, Aceh Besar, tahun 2005 silam.

Anita, putri Aceh tulen. Ia lahir di Banda Aceh, 17 Juli 1966 silam, dari sebuah keluarga dengan ekonomi mapan. Lahir sebagai anak keempat dari lima bersaudara, cuma Anita satu-satunya anak dalam keluarga itu yang tidak bercita-cita terlalu tinggi. Ia ingin menjadi guru.

Setelah menamatkan pendidikannya di SMA Negeri 3 Banda Aceh, Anita melanjutkan studinya ke Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. Ia memilih jurusan bahasa Indonesia dan menyelesaikannya pada tahun 1994.

Setahun setelah meraih gelar sarjana, Anita menunda jadi guru. Ia diterima bekerja di perusahaan transnasional Jepang di Malaysia, Philips JV Malaysia (PJVM) . Ia bekerja di sana dua tahun, sebagai assisten supervisor. Ia menunjukkan prestasi bagus, sehingga manajemen perusahaan itu kemudian merekomendasikan namanya untuk leader engineering cabang JVC Electronics Indonesia di Jakarta.

“Saya kemudian pindah ke Jakarta dan bekerja di sana delapan tahun,” kata Anita Fauziah.
Loyalitas dan pengabdian di perusahaan itu membuat Anita akhirnya diangkat sebagai karyawan dengan klasifikasi pendapatan tinggi, grade I.

Gajinya bahkan sampai Rp10 juta per bulan, belum termasuk berbagai fasilitas dan tunjangan yang didapatnya secara rutin. api, ketika hatinya tersentuh, perempuan yang masih melajang ini meninggalkan semuanya. Kerja itu, gaji itu dan semua kemewahan yang didapatnya.


STEEMIT_PUTAR.gif

Coin Marketplace

STEEM 0.04
TRX 0.32
JST 0.081
BTC 61240.63
ETH 1620.29
USDT 1.00
SBD 0.42