Mari Tabuh Rapa'i | Let's Beating Rapa'i
Tahun lalu, Dewan Kesenian Lhokseumawe Aceh menggelar acara "400 Rapai Urouh" di lapangan Hiraq. Kegiatan yang belum pernah dilakukan sebelumnya, apalagi dimainkan oleh ratusan penabuh Rapai di waktu dan tempat yang sama.
Penampilan itu jadi sorotan publik, hingga tayang diberbagai media massa lokal maupun nasional. Kota Lhokseumawe memang sudah menetapkan Rapai Urouh sebagai ikon seni budaya kota tersebut, sekaligus untuk menarik wisatawan datang berkunjung.
Untuk diketahui, paska penandatangan damai antara GAM-RI, aksi tabuh Rapai Urouh kembali menggeliat , seniman Nazaruddin alias Peutuha Din bersama teman-teman seniman tradisi lain berhasil membangun minat masyarakat di empat kecamatan di Lhokseumawe untuk memainkan perkusi bundar itu.
“Saat konflik saya dan teman-teman tetap bermain Rapai Urouh, walau ada letusan senjata. Tapi tidak seramai sekarang, saat itu sangat sulit mencari waktu untuk bisa berkumpul, banyak seniman takut keluar malam,” kata Peutuha Din.
Saat ini katanya, jumlah penabuh Rapai di Kemukiman Kandang saja mencapai 1000 orang lebih, bahkan bisa mencapai dua kali lipat, bila diakumulasi dari tiga kecamatan lainnya. Dan saat ini banyak generasi muda juga mulai tertarik berlatih Rapai Urouh.
Bermain Rapai Urouh, lanjut Peutuha Din, bukan sekedar melestarikan budaya leluhur bangsa atau berkompetisi, namun juga bagian dari budaya masyarakat Aceh dalam bersosial. Misalnya ada acara perayaan disebuah desa, diadakan acara Rapai, pastinya desa lain di undang bermain.
“Disitu lah kami bersosial, bersilaturrahmi, saling mendukung dan pastinya siap kalah dan menang dalam berkompetisi,” jelas pria yang ketua DKA Lhokseumawe itu.
Tahun 2018 ini, kata dia di Lhokseumawe akan digelar Festival Rapai Internasional, agendanya lebih besar dari festival tahun lalu. “Ini momen tepat, agar dunia tahu, Aceh punya alat musik tradisi yang masih bertahan di era teknologi musik dunia merambah ke desa-desa,” pungkasnya.
Penjelasan ringkas, "Rapai " adalah alat musik tradisi masyarakat Aceh yang diwariskan nenek moyang. Sejarahnya, alat musik jenis perkusi ini diperkenalkan saat Islam mulai masuk ke Aceh pada abad ke 11, oleh Syech Rapi (Rifa’i) ulama dari Baghdad. Konon sang Syech menggunakan Rapai sebagai media Syiar, seiring berjalan waktu, alat musik itu jadi alat musi tradisi.
Dibuat dengan material kayu dibentuk bundar, senarnya bermaterial kulit kambing yang sudah melalui proses pengeringan khusus. Nah, jenis Rapai juga banyak, ada Rapai Urouh, Pase, Geurimpeng dan Geleng. Untuk Rapai Urouh, lazimnya dimainkan oleh 40 orang atau lebih dalam satu “Kuru”.
Kuru adalah istilah grup untuk dalam Rapai, lazimnya satu Kuru dipimpin oleh seorang Syech, atau disebut “Kali”. Tentunya Kali juga seorang pelatih grup Rapai yang mampu menguasai bermacam irama tabuh.
Rapai Urouh, biasa dimainkan oleh dua sampai empat kuru, masing-masing kuru memainkan irama, dengan pukulan bertalu-talu, pukulan irama satu kuru dengan kuru lainnya akan saling bersahutan, bila kita dengar, irama-irama itu menyatu menjadi sebuah ritme yang menarik.
Bila belum pernah mendengar atau melihat Rapai Urouh, silahkan datang ke kemukiman Kandang, Lhokseumawe setiap malam Kamis, Sabtu atau Minggu, anda akan mendengar suara Rapai sampai tengah malam. Tak jarang digelar kompetisi, tidak butuh modal, karena anda cukup datang dan melihat aksi mereka tanpa dipungut biaya alias gratis.
Last year, the Arts Council of Lhokseumawe in Aceh are organising the event's "400 Rapai Urouh ". Activities that have never been done before, let alone played by hundreds of musicians Rapai at the same time and place.
The appearance of it so the public spotlight, to broadcast various local and national mass media. Lhokseumawe has indeed set the Rapai Urouh as art and cultural icons to attract tourists to come visit.
To note, the signing of peace between the GAM -RI, beating Rapai Urouh back stretched, Nazaruddin artists aka Peutuha Din along with other traditions of artists managed to build mass interest in four subdistricts in Lhokseumawe to play a musical instrument percussion.
"When the conflict I and friends keep beating Rapai Urouh, despite the explosion of weapons. While it's not much like the present, when it is very difficult to find time to be assembled, many artists are afraid of coming out of the night, "said Peutuha Din.
The last three years, he said, the number of musicians in the Kandangs Subdistrict Rapai reached 1000 people more, could be more and more when combined with artists in three districts .And nowadays many young people also became interested in practicing Rapai Urouh.
Beating Urouh, Peutuha Din said , not just preserving ancestral cultures or Nations competed, but was also part of the culture of the people of Aceh socially. For example there is a celebratory event in the village held the event, another village Rapai were invited to perform.
"we gathered There, revelers, support each other and certainly ready to lose and win in the competition," explained Chairman of DKA Lhokseumawe.
This year 2018, he said in Lhokseumawe Rapai Festival will be held back, this agenda is larger than last year's festival. "It's the right moment, to let the world know, Aceh had musical instruments and traditions that still survive in the era of technology world music penetrated into the villages," he said.
A concise explanation, "Rapai " is the musical traditions of the people of Aceh who inherited ancestor. Historically, this type of percussion instrument was introduced when Islam began to get into the Acehnese on the 11th, by Syech Rafi (Rifa'i), he was a cleric from Baghdad.
Supposedly the Syech using Rapai as rituals of media, along with the running time, Rapai became a musical instrument tradition of the people of Aceh.
Made with wood formed up to a round of goat skin, strings that are already through the drying process. Well, its also a couple, like Rapai Pase, Urouh, Geurimpeng and Geleng. To Rapai Urouh, often played by 40 or more people in a "Kuru".
Kuru is a term for the group in the Rapai, often in one led by a Kuru Syech, or so-called "kali". Course Kali are also a group of trainers who are able to master the various Rapai rhythms typical of Aceh.
Rapai Urouh, commonly played by two Kuru or four kuru, each play the rhythm, with the punches,the rhythm is played in unison when we hear, rhythm-rhythm that merges into a rhythm that so interesting.
When you've never heard of or seen Rapai Urouh, please come to Kandang Subdistricts ini Lhokseumawe every night Thursday, Saturday or Sunday, you will hear the voice of Rapai until midnight. Often termed the competition, does not need capital, because you can simply come and see the action they charge alias free.
Regards
Pantes saya stiap tengah malam, pada malam" tertentu sering mendengar suara rapai. .jauh juga bng jangkauan suaranya sampe ke uleejalan
Iya bg, konon dulu rapai digunakan sebagai alat penyampai pesan seperti kode. Itu karena suaranya nyaring walau jaraknya jauh .
Wahh keren, kalau lagi perang ga bakalan ketahuan dong.
Heheh
Salam kenal bng, kita sekota rupanya.
Hahaha Yaya..salam kenal juga rekan..