Saksi Ombak

in #indonesia8 years ago

balloon-3206530__340.jpg

Gulungan ombak yang tenang, seiring dengan terpaan angin yang menyapa kibaran kerudung. Hari itu untuk pertama kalinya saya menaiki kendaraan pengangkut penumpang dan barang di laut. Senang saat percikan ombak menyeka pipi, tajam namun sejuk. Kendaraan yang kunaiki terus melaju, sesekali saya melihat binatang bertulang belakang yang hidup di dasar laut, bersisik, bergerak, dan menjaga keseimbangan badannya dengan menggunakan sirip yang dimilikinya.
Waktu terus melaju, rasa senang semakin bergelora saat burung-burung berkicauan, seolah-olah menyambut kedatangan saya. Pada saat itu juga saya telah sampai ke tempat tujuan berlayar. Lapeng, ya itu nama desa yang akan saya tempati selama dua pekan kedepan. Kendaraan yang kunaiki mulai menepi, persis di kiri saya berjajar anak-anak yang belum saya kenali sama sekali. Lapeng adalah salah satu desa desa yang terletak di Pulo Aceh, Kabupaten Aceh Besar. Akses menuju desa ini menggunakan bot yang berangkat dari pelabuhan Lampulo Banda Aceh menuju pelabuhan Lampuyang.
Ini saatnya saya turun dari kendaraan yang saya tumpangi, berjalan kaki menuju perumahan Lapeng. Butuh waktu sekitar 15 menit dari pelabuhan menuju rumah warga. Lelah terbayar saat melihat senyum dan tawa anak-anak yang tampaknya begitu senang menyambut kedatangan saya dan rombongan. Terdapat lebih kurang 20 KK yang tinggal di desa ini. Mata pencaharian masyaraka di desa ini adalah nelayan dan petani. Di desa ini hanya terdapat satu sekolah dasar, dan di sekolah ituilah nantinya saya dan rombongan akan belajar dan bermain dengan anak-anak.
Ini adalah sebuah kegiatan kemanusiaan, sekaligus tugas calon pendidik untuk mengatahui bagaimana sistem pendidikan di pedalaman Aceh, tidak hanya di perkotaan. bagi siapa yang ingin merasakan bagaimana tinggal di pedalaman, tanpa akses yang bagus, tidak ada pasar, tidak ada ATM, tidak ada dan tidak ada. Semuanya serba terbatas. Jika ditanya kenapa mau ikut kegiatan ini? Mengapa mau mengajar anak-anak yang sangat terbatas pengatahuannya?. Mungkin saya akan jawab seperti ini, “Jika bukan aku yang mau memperhatikan anak-anak di sini, siapa lagi?” Di tempat ini, saya sadar begitu banyak kenikmatan diberikan Tuhan yang jarang sekali saya syukuri. Sedangkan anak-anak di sini, yang hanya bermain dengan pantai, tidak ada selain itu. Namun belum pernah saya mendengar bahwa mereka bosan tinggal di sini.
Hari pertama saya berkumpul dengan semua anak-anak di sekolah, senang bisa membantu para guru-guru di sini. Berbicara tentang guru atau pendidik, di sini jumlah guru sangat terbatas. Bayangkan saja, di sekolah Lapeng hanya ada dua orang guru, dan kedua guru tersebut bergantian setiap harinya karena tidak bisa menetap di Lapeng. Kedua guru ini berasal dari Kota Banda Aceh. Saya haap Setidaknya dengan kedatangan saya dan rombongan bisa membantu guru-guru di sini.
Hari kedua, ketiga, keempat dan seterusnya, saya menjalani hari-hari dengan mereka. Terkadang timbul rasa sedih saat melihat beberapa anak yang menggunakan baju lusuh bahkan baju yang tidak layak pakai. Namun apalah daya, hanya itu yang mereka punya. saya juga tidak punya sesuatu yang berbentuk materi yang bisa saya bagikan untuk mereka. Saya hanya bisa menghibur, bermain, dan menemani mereka belajar, dan di sini tugas saya adalah menyampaikan kepada mereka bahwa mereka harus bersyukur meski dengan segala keterbatasan hidup mereka. Tidak ada yang perlu disesali disetiap takdir yang telah Allah tentukan, karena Allah lebih tau, sedangkan kita tidak. Mereka punya hutan lebat, punya lautan luas, punya beragam ikan yang bisa mereka tangkap, yang semua itu tidak semua bisa dirasakan oleh orang-orang yang tinggal di perkotaan.
Suka duka mewarnai sudut desa. Rasanya ingin lebih lama lagi di sini, ingin lebih dekat dengan anak-anak. Laut Lapeng yang menjadi saksi atas ketabahan mereka menjalani hidup yang mungkin bagi kita tidak layak untuk mereka dapatkan. Namun di tempat ini, rasa syukur saya bertambah seribu kali lipat. Selama perjalanan hingga sampai kemari, hingga saya kembali ke kota, bertemu orang-orang baru, bertemu hal-hal baru. Semakin menambahkan rasa cinta akan lingungan sekitar, cinta terhadap diri sendiri, dan cinta terhadap Pencipta.
Selamat tinggal Lapeng, selamat tinggal anak-anak hebat. Semoga Tuhan melindungi kalian dan selalu diberi kesehatan agar kalian tidak punya alasan untuk tidak belajar.

Sort:  

First I want to wish you congratulations for your blog is an excellent job I hope you follow me @luisa-pinto and can count on your support in my blog

Coin Marketplace

STEEM 0.04
TRX 0.32
JST 0.084
BTC 61485.93
ETH 1592.52
USDT 1.00
SBD 0.47