Ketika Hobi Membawa Masalah

in #indonesia9 years ago

Sejak kecil saya punya hobi aneh. Saya sangat suka berkelahi. Bertarung, bergulat, saling serang, jual beli pukulan dan tendangan merupakan kegiatan yang sangat menyenangkan bagi saya. Bagi saya berkelahi memberikan rasa yang menyenangkan. Adrenalin saya terpacu saat melakukan sebuah duel terbuka itu. Akhirnya, sejak di sekolah dasar saya sering berkelahi. Kegiatan itu membuat saya seakan menjadi laki-laki sejati.

aku terbang.JPG

Tak terhitung sudah berapa kali orang tua saya menghadap kepala sekolah atau guru karena saya sering berkelahi. Guru menasehati saya. Berkelahi tak baik kata mereka. Orang tua saya juga demikian. Uang jajan saya diancam akan dipotong jika terus berkelahi di sekolah. Tapi mereka tak bisa memarahi saya terlalu berat. Nilai saya di semua mata pelajaran sangat bagus. Percaya atau tidak, saya selalu juara kelas.

Namanya juga anak-anak. Berkelahi adalah hal yang biasa. Bahkan saat ini saya berteman baik dengan orang yang pernah adu jotos dengan saya. Saat ini bagi kami itu kelucuan masa SD.

Kembali lagi ke SD. Sebenarnya berkelahi di usia segitu tak menjadi masalah. Tidak ada dendam. Hanya peluapan amaran yang bagi saya sudah jadi passion dan hobi. Masalah muncul saat saya melanjutkan pendidikan di sekolah asrama. Sekolah menengah pertama. Pertaurannya, di sekolah asrama haram berkelahi apapun alasannya.

Suatu hari ada seorang anak yang menganggu saya sedang tidur. Saat itu saya berusaha sabar. Sampai ambang batas. Sebuah perang pun diumumkan. Saya ajak dia berkelahi secara laki-laki. Karena berkelahi merupakan hobi dan passion saya, mudah saja mengalahkan anak jahil itu. Mukanya lembam, matanya bengkak. Dia menangis.

Tak disangka dia punya abang di asrama itu. Abangnya berada di tingkat akhir. Kelas 3 SMA. Artinya jarak umur kami 5 tahun lebih. Saya sat itu kelas 1 SMP. Eksekusi terhadap saya pun diberikan. Saya dinaikan ke pangadilan. Pengadilan asrama. Leting mereka sat itu memegang tampuk pimpinan organisasi. Saya dihakimi tanpa pembelaan.

Muka saya ditampar lebih dari 20 kali. Berulang-ulang. Saya tak bisa melawan. Ada yang mengatakan bahwa saya adalah preman pasar. Wkwkwkwkw. Dan itulah yang terjadi.

Sebenarnya bukan tamparan itu yang menjadi masalah. Tapi konsekuensi berkelahi di asrama yang menjadi fokus saya. Artinya berkelahi di asrama tak ada toleransi. Hobi saya harus dipendam.

Tak tinggal diam, saya pun mencari alternatif. Saya ingin gabung ke sebuah kegiatan ekstrakulikuler yang menghalalkan berkelahi. Hobi ini harus tersalurkan. Saya mencari kegiatan silat atau tinju bebas. Saya kecewa karena saat itu kegiatan yang demikian belum ada di asrama itu.

Akhirnya, selama itu pula saya memendam hobi saya. Adrenalin bertarung pun tak saya rasakan lagi. Berbeda saat masih di sekolah dasar. Berkelahi adalah hal yang lumrah. Saya pun mencari kesibukan lain. Selama 3 tahun lebih saya memendam hobi itu. Namun rasa hangat untuk bertarung tetap saya jaga. Fight is my passion.

Akhirnya saat menginjak SMA, sekolah asrama yang saya tinggali itu menyediakan kegiatan ekstrakulikuler Taekwondo. Akhirnya saya punya tempat untuk mengapresiasikan hobi saya. Rasa senangnya saat itu melebihi apapun. Mungkin melebihi diberi Iphone X lah.

67702_173387146008755_8000362_n.jpg

Hampir setiap kesempatan saya gunakan untuk berlatih. Bahkan 1 jam sebelum subuh saya sudah berlatih. Menendang samsak dan target adalah hobi yang sangat menggairahkan. Sekira 6 bulan berlatih, saya ingin mencoba kekuatan. Saya ingin bertarung. Dengan kekuatan penuh.

Bekali-kali pelatih saya mengatakan bahwa bertarung bukan hanya perkara kuat atau menyalurkan hobi. Bertarung adalah seni. Saya tak peduli. Sparing patner sudah usang bagi saya. Saat itu saya ingin pertarungan yang sebenarnya. Pelatih mengatakan saya belum siap untuk turnamen.

Tak sanggup mendengar permintaan saya, pelatih pun membawa saya keluar. Bertarung dengan anggota dojang lain. Saya senang bukan main saat ini. Inilah saatnya mereguk kembali adrenalin yang sudah lama hilang.

Saat itu sabuk yang saya kenakan masih kuning. Sabuk terendah setelah putih. Kami memang jarang ikut ujian kenaikan sabuk. Saat itu saya dihadapkan dengan peserta dengan postur yang sama dengan saya. Dan sama-sama berlevel sabuk kuning. Saya meminta izin bertarung habis-habisan. Pelatih mengizinkan.

Ronde pertama diimulai. Saya langsung menyerang dengan tendangan di kepala. Dia menghindar. Saya masuk lagi menedang ke perutnya, dia menahan dengan tangan. Kembali saya beri lagi tendangan ke kepala dengan kaki kiri, sia sia saja, tedangan saya hanya mengenai angin.

Saat itu dia terus mengelak. Saya tak tahu bahwa dia sedang mengamati. Saya tak peduli yang penting serang. Kiri kanan saya beri tendangan. Gagal. Cuma sekali mengenai perut tapi tak dihitung poin karena tak kena telak. Ronde pertama selesai. Saya kelelahan. Dia hanya menari.

Di ronde kedua ternyata dia mengubah pola permainan. Di mulai menghindar dan menyerang. Beberapa kali perut saya kenak telak. Poin 1 untuk dia. Tak disangka dia menunggu tendangan kanan saya yang kuat itu. Dia berhasil menghindar, tujuannya adalah counter ke arah wajah. Bedebam. Saya kena. Bibir saya pecar. Wasit menghentikan permainan. Lawan saya menang.
Saya melihat ke arah pelatih. Bukan kecewa. Dia malah tersenyum. Hanya mengancungkan jempol. Dari matanya tersirat bahwa saya kurang latihan. Kami kembali ke asrama. Malamnya saya menemui dia untuk membahas pertandingan tadi. Dia hanya tertawa dan mengatakan.

“Pertarungan itu bukan hanya pekara jual beli pukulan atau tendangan tapi itu semua tentang seni,” kata dia.

IMG_8865 (2) - Copy.JPG

Sekarang saya paham maksudnya. Saat itu kekurangan saya adalah pengamatan dan teknik. Perkelahian adalah seni yang harus diimbangi dengan akal sehat. Jangan terburu-buru. Sekalipun itu adalah hobi dan passion tapi harus diimbangi dengan latihan dan jangan tergesa-gesa. Lakukan dengan sempurna. Meskipun hanya hobi tapi sebuah pertarungan harus dilakukan segenap hati.

Beberapa bulan kemudian pelatih saya mengatakan bahwa lawan saya waktu itu adalah atlit nasional dengan sabuk hitam. Dia diminta pelatih saya untuk mengubur kesombongan saya. Saya hanya tersenyum ketika tahu si sabuk hitam itu juga sedikit kewalahan. Ya tetap saja bibir saya yang pecah. Hahahaha. Sekarang saya sadar hobi juga harus disikapi dengan bijaksana.[]

M. Fajarli Iqbal
Pecinta Damai

Sort:  

Memiliki hoby sih wajar wajar saja mas, tapi kalau hobi berkelahi sih jangan, karena cuman bikin rusuh, tapi kalau tetap masih ingin berkelahi , masuk ring aja mas, kaya acara-acara di tv tuh apa namanya? Lupa saya, yang sering di putar di i news tv.
Justru karena ingin berkurangnya angka kematianlah makanya dibuat ajang perkelahian secara sah dan memiliki aturan.

Tapi kalau mas masih tetap mau berkelahi liar, sini mas , kita berkelahi one by one. Hehehe, becanda mas.

Post bagus @fajarli
Follow me @moersal

Bagus menyalurkan hobi berkelahi menjadi olahraga yang sehat dan berguna...

Semoga juara!

Coin Marketplace

STEEM 0.04
TRX 0.33
JST 0.103
BTC 64201.88
ETH 1871.04
USDT 1.00
SBD 0.35